--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Jualan Nama Pahlawan

Seorang mahasiswa berjalan melewati deretan poster promosi kampus yang menjanjikan kesuksesan instan di tengah kondisi fasilitas pendidikan yang mulai memprihatinkan, mencerminkan kontras antara citra pemasaran dan realitas kualitas akademik.

Lokapalanews.id | Saya sedang merenung. Menatap sebuah gedung tua. Di depannya ada patung. Sosok pahlawan. Gagah perkasa. Pahlawan itu pejuang. Beliau mengorbankan nyawa. Tanpa pamrih. Tanpa hitung-hitungan laba.

Lalu saya melihat sekeliling. Di bawah nama besar itu, ada aktivitas. Namanya pendidikan tinggi. Katanya mencetak kader bangsa. Tapi saya merasa ada yang ganjil. Bau amisnya terasa sampai ke warung kopi. Bau komersialisasi yang pekat.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Anda tentu tahu. Banyak kampus swasta pakai nama tokoh. Pakai embel-embel JSN’45. Atau atribut veteran yang sakral. Itu modal branding yang dahsyat. Legitimasi instan. Seolah-olah institusinya seikhlas sang pahlawan. Padahal, di dalamnya beda jauh. Manajemennya berorientasi laba. Sangat agresif. Pemasarannya gila-gilaan.

Mahasiswa dianggap pelanggan. Pendidikan dianggap produk. Mirip jualan sabun atau asuransi.

Saya jadi teringat obrolan dengan seorang kawan. Dia mengeluh soal biaya. Katanya mahal sekali. Tapi fasilitasnya? Menyedihkan. Laboratoriumnya usang. Perpustakaannya sepi buku baru. Ini fenomena umum di kampus for-profit. Fokusnya pada rekrutmen. Bukan pada pendampingan.

Coba Anda cek data attrition rate. Angka putus studinya tinggi. Karena apa? Karena setelah bayar, mahasiswa ditinggal. Tidak ada lagi bimbingan akademik yang serius. Yang penting kuota kelas penuh. Yang penting cicilan masuk.

Dosennya pun merana. Banyak yang dikontrak tidak stabil. Gaji pas-pasan. Pengembangan akademik? Itu nomor sekian.

Institusi lebih senang keluar uang untuk iklan. Spanduk besar di mana-mana. Janji karier instan yang menggiurkan.

Targetnya sering kali kelompok rentan. Mahasiswa berpenghasilan rendah. Atau mereka yang punya akses bantuan dana.

Ujungnya? Mereka terjebak utang pendidikan. Lulus pun susah cari kerja. Karena kualitasnya memang tidak disiapkan.

Baca juga:  Kantor atau Panggung Sandiwara?

Ada lagi masalah transfer kredit. Sangat sulit pindah ke kampus lain. Kreditnya tidak diakui. Mahasiswa jadi sandera.

Saya sedih melihat ini. Nama pahlawan jadi tameng. Untuk menutupi manajemen yang berantakan. Seharusnya, kalau pakai nama pejuang, sistemnya pun harus berjuang. Berjuang untuk kualitas. Bukan untuk kantong pribadi pengelola. Kita sering terjebak pada kulit. Kita terpesona pada narasi patriotisme. Padahal isinya keropos.

Pendidikan itu investasi peradaban. Bukan sekadar transaksi keuangan. Kalau tata kelolanya amburadul, hancurlah masa depan.

Bagaimana mungkin mencetak sarjana hebat dari sistem yang “berantakan”? Data tidak bisa berbohong.

Akreditasi bisa saja diatur. Tapi kualitas lulusan di pasar kerja adalah hakim yang jujur.

Saya tetap ingin optimis. Masih ada kampus yang benar-benar berjuang. Yang menjaga marwah nama pahlawan di gerbangnya.

Tapi untuk yang sekadar “jualan”, kita harus berani bicara. Jangan biarkan simbol suci jadi alat tipu-tipu.

Pahlawan kita sudah gugur. Jangan mereka “dibunuh” lagi. Kali ini oleh keserakahan berbalut toga.

Kapan kita benar-benar jujur dalam mengelola ilmu? *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."