--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Dari Harapan Menjadi Ancaman: Mengapa Kita Selalu Terperangkap?

Lokapalanews.id | Saya melihat seorang anak kecil menangis kemarin sore. Bukan karena jatuh atau lapar, tapi karena handphone-nya mati. Benar-benar drama, bagi dia.

“Kenapa tidak di-charge saja?” tanya saya.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“Lupa, Om,” jawabnya sambil sesenggukan.

Lupa. Satu kata sederhana, tapi betapa mahalnya harga kelupaan itu. Anak itu kehilangan dunianya, walau hanya sebentar. Dan, kita sering lupa. Kita lupa bahwa harapan itu seperti baterai handphone. Perlu diisi, dijaga, dan, yang paling penting, tidak boleh dibiarkan mati total.

Saat musim kampanye tiba, Anda pasti ingat. Para calon pemimpin kita datang seperti charger super cepat. Mereka menebar daya. Penuh janji, penuh visi, penuh optimisme. Mata kita berbinar. Udara terasa lebih bersih. Semua kata-kata yang keluar dari mulut mereka adalah energi positif. “Besok kita akan begini!” “Lima tahun ke depan, Anda akan begitu!” Mereka menjual masa depan.

Dan kita? Kita membeli habis-habisan. Kita terbuai. Kita merasa ini adalah start baru. Inilah saatnya semua akan menjadi lebih baik. Harapan itu melambung tinggi, sampai ke lapisan stratosfer. Itu janji.

Tapi coba Anda lihat setelah mereka duduk manis di kursi kekuasaan. Sembilan dari sepuluh kasus, pemandangan itu berubah 180 derajat. Baterai harapan yang baru saja mereka isi, mendadak bocor. Atau lebih parah, mereka mencabut charger itu dan menggantinya dengan gonggongan.

Tiba-tiba, percakapan bukan lagi soal harapan dan perbaikan, melainkan soal ancaman dan kepatuhan.

“Siapa yang kritik, akan kami tindak.”

“Jangan macam-macam, nanti tahu rasa.”

“Kami tahu siapa Anda!”

Napas kita tercekat. Harapan berganti menjadi was-was. Bahasa mereka menjadi kasar, tajam, dan penuh indikasi otoritarianisme. Kenapa bisa begitu?

Baca juga:  Ketika Diam tak lagi Emas: Perlawanan Digital dan Runtuhnya Tembok Institusi

Sederhana saja. Harapan itu mahal harganya. Untuk memenuhi harapan, seorang pemimpin harus bekerja keras, memecahkan masalah rumit, dan menghadapi kritik. Itu melelahkan.

Sedangkan ancaman? Ancaman itu murah. Ancaman itu instan. Dengan menakut-nakuti, Anda bisa mendapatkan kepatuhan cepat tanpa harus repot-repot membuktikan kompetensi. Mereka mengonsolidasikan kekuasaan dengan menciptakan musuh, bukan dengan menghasilkan solusi.

Musuh itu bisa siapa saja: oposisi, pengkritik, media, bahkan masyarakat yang bertanya terlalu banyak. Mereka tahu, ketika orang takut, mereka cenderung diam. Dan ketika orang diam, pemimpin bisa melakukan apa saja tanpa gangguan.

Ini adalah penyakit klasik. Dari zaman Romawi kuno sampai di kampung kita. Mereka menggunakan carrot (wortel/hadiah) saat mencari dukungan, tapi menggantinya dengan stick (tongkat/ancaman) saat berkuasa.

Dan kita, lagi-lagi, harus belajar dari si anak kecil yang lupa charge handphone-nya. Kita harus berhenti lupa. Kita harus ingat bahwa kekuatan kita bukan terletak pada seberapa besar harapan yang mereka janjikan, melainkan seberapa kuat kita menuntut akuntabilitas atas harapan itu.

Jangan biarkan harapan kita mati, lalu kita dipaksa hidup dalam ketakutan. Jika seorang pemimpin hanya bisa berkuasa dengan menakut-nakuti warganya, berarti dia tidak pernah benar-benar layak memegang harapan itu. Dia hanya layak dipertanyakan: Apakah Anda pemimpin atau tukang ancam? *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."