--- / --- 00:00 WITA
Tekno  

Indonesia Bidik Posisi Strategis Rantai Pasok AI Global

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria memaparkan peluang strategis Indonesia sebagai pusat produksi cip dan pengembangan AI global dalam FGD di Jakarta.

Lokapalanews.id | Jakarta – Pemerintah Indonesia optimistis mampu merebut posisi kunci dalam rantai pasok global kecerdasan artifisial (AI) dan industri semikonduktor dunia. Kekuatan sumber daya alam, ketersediaan energi hijau, hingga bonus demografi dinilai menjadi modal utama bagi Indonesia untuk tidak sekadar menjadi pasar, melainkan pemain aktif dalam ekosistem teknologi masa depan tersebut.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa peta persaingan ekonomi global saat ini telah bergeser secara fundamental. Menurutnya, kedaulatan sebuah negara di abad ini tidak lagi diukur dari penguasaan komoditas minyak bumi, melainkan dari kemampuan menguasai teknologi fabrikasi cip semikonduktor.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“Perang ekonomi abad ini tidak ditentukan oleh siapa yang menguasai ladang minyak, tetapi oleh siapa yang menguasai pabrikasi cip. Semikonduktor adalah infrastruktur kedaulatan hari ini, ia adalah the new oil,” ujar Nezar Patria dalam diskusi “Peluang Strategis Indonesia dalam Rantai Pasok Global AI” di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Nezar menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat karena statusnya sebagai penghasil timah terbesar di dunia, yang merupakan bahan kunci dalam proses pembuatan cip. Selain itu, cadangan pasir silika yang melimpah di tanah air menjadi bahan dasar silikon yang krusial bagi industri tersebut. Namun, ia menekankan perlunya strategi hilirisasi agar Indonesia tidak lagi mengekspor bahan mentah.

Pemerintah menargetkan penguasaan produk setengah jadi agar nilai tambah tetap berada di dalam negeri. Selain material fisik, ketersediaan energi terbarukan yang surplus di Indonesia juga menjadi daya tarik utama bagi pembangunan pusat data (data center) sebagai tulang punggung pengoperasian model AI skala besar.

Baca juga:  Huawei Rilis MatePad Pro Max: Tablet Flagship Tertipis di Dunia dengan Layar PaperMatte

Dari sisi sumber daya manusia, Indonesia mengandalkan 285 juta jiwa penduduk dengan rata-rata usia 30 tahun sebagai mesin penggerak digital. Guna mengasah potensi tersebut, Kementerian Komdigi telah menginisiasi program AI Talent Factory. Program ini bertujuan mencetak talenta terbaik dari universitas melalui pelatihan solusi AI tingkat lanjut agar siap bersaing di level internasional.

Di tengah memanasnya geopolitik dunia, Nezar melihat posisi Indonesia yang non-blok sebagai keuntungan strategis. Indonesia memiliki fleksibilitas untuk menjalin kerja sama teknologi dengan berbagai blok ekonomi. Ia mendorong agar Indonesia mampu menjadi choke point atau titik sumbat strategis yang memiliki kontrol atas alur rantai pasok tertentu di tingkat global.

Terkait kekhawatiran publik mengenai dampak AI terhadap lapangan kerja, Wamenkomdigi meminta masyarakat tidak perlu merasa terancam. Ia memandang teknologi AI harus diposisikan sebagai rekan (companion) untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan, terutama pada sektor pekerjaan dengan risiko tinggi yang membutuhkan presisi tinggi.

Pemerintah meyakini, melalui kombinasi hilirisasi mineral, penguatan talenta digital, dan kebijakan luar negeri yang cerdik, Indonesia akan mampu bertransformasi menjadi titik pusat baru dalam distribusi teknologi kecerdasan artifisial dunia. *R107

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."