--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Kampus Kita, Mau Jadi Apa?

I Made Suyasa

Pendidikan transformatif dimulai dari keberanian dosen untuk memfasilitasi diskusi yang menantang dan reflektif, mendorong mahasiswa untuk mempertanyakan asumsi dasar mereka.

Lokapalanews.id | Kemarin pagi, saya mampir ke warung kopi langganan. Biasalah, sambil lihat lalu lalang anak muda yang bawa ransel besar. Mereka ini kan calon-calon pemimpin negeri. Lulusan kampus-kampus hebat. Tapi, di kepala saya muncul pertanyaan: sehebat apa sih bekal yang mereka bawa dari kampus?

Bukan soal IPK 4 atau lancar bahasa Inggris. Bukan. Saya melihat banyak lulusan yang jagoan di teori, tapi begitu ketemu masalah riil di lapangan, langsung bingung. Tidak punya pegangan. Tidak berani ambil sikap. Ibaratnya, mereka tahu resep, tapi begitu disuruh masak di dapur yang berantakan, langsung panik.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Inilah penyakit kronis perguruan tinggi kita. Kampus terlalu fokus pada kurikulum kosmetik – ganti nama mata kuliah, tambah SKS ini itu. Padahal, masalahnya bukan di sampul buku, tapi di isi kepala dan isi hati mahasiswanya. Kita butuh revolusi institusi, bukan sekadar revisi silabus.

Anda lihat sendiri, dunia berubah secepat kilat. Disrupsi ada di mana-mana. Masalah sosial makin ruwet. Kalau lulusan kita cuma modal hard skill yang sebentar lagi bisa digantikan AI, lalu apa bedanya mereka dengan robot?

Kampus harus berani melakukan pembelajaran transformatif. Ganti cara pandang. Jangan lagi fokus transfer ilmu (masuk telinga kanan, keluar ujian, selesai). Kampus harus membentuk perspektif dan makna hidup.

Bagaimana caranya?

Pertama, komitmen itu harus dari atas. Ibaratnya kita mau bangun gedung, fondasinya harus kuat. Renstra (Rencana Strategis) kampus harus tegas mencantumkan transformasi sebagai IKU (Indikator Kinerja Utama). Jangan cuma jadi pajangan di rak.

Kalau Rektor sudah bilang A, semua dekan, kaprodi, sampai dosen harus ikut A. Kalau tidak ada komitmen top-down yang jelas, semua inisiatif bagus di level prodi akan jadi proyek kesepian, sebentar kemudian mati sendiri. Ini juga soal duit. Penganggaran harus diprioritaskan untuk kegiatan yang memicu refleksi, bukan cuma buat seminar seremonial.

Kedua, ganti Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Dosen harus berani membuat RPS yang menantang. Bukan cuma daftar topik. RPS itu harus memuat “dilema disorienting”. Kasih mahasiswa masalah nyata yang membuat mereka terkejut dan bingung. Suruh mereka mempertanyakan keyakinan mereka sendiri. Suruh mereka bercermin.

Baca juga:  Dorong Kreativitas Mahasiswa School of Design Tampilkan Karya di ADGI Design Week 2025

Misalnya, kalau di mata kuliah bisnis, jangan cuma bahas laba rugi. Suruh mereka kumpul dengan UMKM yang terancam bangkrut karena ulah korporasi besar. Biarkan mereka merasakan benturan etika dan realitas. Ini yang namanya kontekstual.

Ketiga, perkuat dosen. Dosen adalah kunci. Kapal transformasi tidak akan berlayar tanpa nakhoda yang berani. Pelatihan dosen tidak cukup hanya teori. Harus sampai praktik nyata: bagaimana memfasilitasi diskusi yang menusuk tapi membangun, bagaimana mengelola emosi mahasiswa saat mereka merasa asumsinya dirobohkan.

Kampus juga harus memberi penghargaan (reward) yang pantas. Kalau dosen berhasil membuat mahasiswanya “berubah” cara pandang, kasih insentif! Jangan hanya yang banyak publikasi di jurnal, tapi yang benar-benar mengubah jiwa mahasiswa. Evaluasi dosen juga harus melihat dampak transformasional ini, bukan cuma selembar kuesioner dari mahasiswa.

Terakhir, penilaian harus dirombak total. Penilaian tidak boleh lagi cuma benar-salah. Itu pekerjaan robot. Kita harus mengukur aspek reflektif dan afektif. Pakai asesmen naratif dan portofolio reflektif. Suruh mahasiswa menulis: “Apa yang berubah di kepala dan hatimu setelah belajar ini?”

Anda lihat, ini semua bukan hal teknis yang rumit. Ini soal keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Keberanian untuk mengatakan bahwa lulusan yang jago ngitung tapi tidak punya hati tidak lagi relevan. Kita harus mendefinisikan ulang makna pendidikan tinggi: mencetak lulusan yang sadar diri, beretika, dan berdampak.

Kalau perguruan tinggi kita tidak berani melakukan revolusi sistemik ini, ya jangan kaget. Lima atau sepuluh tahun lagi, lulusan kita akan tetap menjadi jagoan di kertas, tapi bingung di kehidupan. Dan kita semua, sebagai bangsa, yang akan menanggung ruginya. Mau jadi apa kampus kita? Jawabannya ada di Renstra dan di ruang-ruang kelas itu. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."