--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Gagah di Kantor, Bengkak di Kepala

Ilustrasi seorang staf yang sedang bekerja di tengah tumpukan berkas. Orang kepercayaan itu seperti lilin, rela habis demi menerangi meja kerja si bos yang egonya sudah seperti gajah bengkak.

Lokapalanews.id | Pagi-pagi, WhatsApp saya bergetar. Biasanya kiriman berita penting. Kali ini, agak beda. Pesan dari kawan lama.

“Ada orang di kantor saya sudah kayak robot,” katanya.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya penasaran. Robot bagaimana? Ternyata, staf ini kerjanya rangkap tiga. Pulang subuh. Cuma sempat mandi, minum kopi, balik lagi ke kantor. Siklus itu terus berputar, katanya, seperti roda gila yang tak mau berhenti.

Si staf ini, kata teman saya, bukan sembarangan orang. Dia itu tangan kanan si bos. Semua urusan yang penting, yang sensitif, yang deadline-nya mepet, semua jatuhnya ke mejanya. Persis seperti magnet menarik besi.

“Sampai lupa pulang,” begitu kalimatnya yang terakhir.

Kalimat itu, “Lupa pulang,” langsung menancap di pikiran saya. Kita bicara tentang orang yang dipercaya, diandalkan, tapi nasibnya seperti sapi perah yang tidak pernah diberi rumput cukup. Dikasih gelas kosong, tapi dituntut menghasilkan susu yang melimpah.

Ini bukan dedikasi. Ini ketergantungan yang sudah kronis.

Kenapa ini bisa terjadi?

Jawabannya klise, tapi mematikan: Pemimpin.

Ini bukan soal si staf tidak profesional. Ini masalah arogansi pimpinan yang sudah membengkak. Sudah terlalu besar. Sudah seperti gajah yang kakinya sakit, tapi tetap ngotot mau lari maraton.

Saya sering lihat tipe bos begini. Mereka punya keyakinan yang bahaya: hanya dia yang benar, dan hanya satu-dua orang pilihannya yang bisa menyelesaikan pekerjaan dengan standar tinggi miliknya. Padahal, standar itu dia buat sendiri, tanpa alat ukur yang jelas.

Mereka itu malas. Malas membangun sistem. Malas melatih tim. “Buang-buang waktu,” pikirnya. Lebih gampang, katanya, menunjuk satu-dua orang yang sudah jinak, sudah teruji, dan sudah pasrah.

Maka, jadilah si orang kepercayaan ini sebagai katup pengaman tunggal. Kalau ada masalah, kalau ada yang meleset, si bos tinggal tunjuk si orang kepercayaan itu. “Kenapa ini lambat? Tugas kamu kan?”

Ini bukan pujian, apalagi kepercayaan. Ini namanya ketergantungan. Itu disamarkan sebagai sanjungan, seolah-olah, “Hanya kamu yang saya percaya.” atau “Ini tugas super rahasia, jangan sampai orang lain tahu.”

Padahal, yang terjadi adalah ego yang takut disaingi.

Baca juga:  Aturan Baru Dosen 2026: Karier dan Gaji tak lagi Sekadar "Formalitas"

Pimpinan yang gajah bengkak itu takut timnya kuat dan mandiri. Dia takut kalau semua orang pintar, posisi dia goyah. Dia takut jadi tidak relevan lagi.

Akhirnya, dia biarkan botol air perusahaan itu hanya dipegang satu orang. Ketika orang itu kehausan, atau sakit beneran, seluruh perusahaan mogok. Langsung kolaps.

Si bos? Dia duduk santai di kursi kulitnya, sambil ngopi dan mengira dia adalah manajer yang hebat karena punya superstar yang mau kerja 24 jam. Padahal, dia sedang merusak diri sendiri dan merusak masa depan perusahaannya.

Kunci kepemimpinan itu bukan memusatkan beban, tapi mendistribusikannya dengan cerdas. Kalau semua tugas penting hanya ke satu orang, itu namanya bukan lagi kantor. Itu namanya klinik spesialis yang operasinya tergantung satu dokter ahli saja. Begitu dokternya libur, pasiennya mati.

Lalu, apa kabar keseimbangan hidup si orang kepercayaan? Tidak ada. Mereka itu lilin. Mereka rela habis demi menerangi meja kerja si bos yang arogan. Sampai lilin itu benar-benar meleleh dan padam.

Cepat atau lambat, pimpinan yang gajah bengkak egonya ini akan sadar. Sayangnya, saat itu terjadi, lilinnya sudah habis. Orang kepercayaannya sudah pindah. Sudah kapok jadi robot.

Dan, dia harus mencari lilin baru. Padahal, mencari lilin yang mau menyala 24 jam tanpa bayaran setimpal, itu susahnya minta ampun.

Lalu, apa yang harus dilakukan si “lilin” ini?

Ya, profesional itu artinya mengatur waktu. Mengatur beban. Mengatur diri. Jangan mau jadi robot. Jangan mau jadi sapi perah. Itu kelihatan sepele, tapi ternyata tidak mudah.

Saya kira, mending jadi lebah yang bisa hasilkan madu. Menyehatkan dan berguna. Tapi jangan coba-coba mengganggu lebah. Dia punya sengat.

Daripada jadi lalat di antara sampah. Hidup cuma menyebar penyakit. Kita harus jadi lebah, bukan lalat.

Kita harus berguna. Tapi juga harus menjaga diri. Kalau lilinnya meleleh, siapa yang akan rugi? Bukan cuma si bos, tapi juga kita sendiri.

Jangan biarkan ego orang lain membakar habis lilin kehidupan Anda. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."