--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Pemimpin, Jimat, dan Rahasia Sukses

Lokapalanews.id | Dahulu, grup WhatsApp ini adalah episentrum tawa. Setiap pagi, notifikasi berdering seperti lonceng, membawa lelucon receh, meme terbaru, dan tawa yang berderai. Ada saja yang memulai, entah dengan pantun kilat, tebak-tebakan garing, atau sekadar komentar jenaka yang langsung disambut riuh. Percakapan mengalir deras, kadang tak masuk akal, tapi selalu menghibur. Grup ini hidup, berdenyut dengan canda dan tawa.

Namun, entah sejak kapan, suara itu perlahan hilang. Notifikasi yang biasanya ramai mendadak sunyi. Hari-hari berganti tanpa ada lagi emoji tertawa yang berlimpah. Ungkapan “apa kabar” yang tulus pun jarang terlihat. Grup yang dulunya bagaikan kedai kopi, kini terasa seperti perpustakaan; hanya ada pengumuman penting yang sesekali lewat, formal dan kaku.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Kebisuan ini memicu bisik-bisik, memicu rasa ingin tahu. Ada yang berkelakar, “Jangan-jangan grup ini kena santet, ya? Jadi semua pada bungkam!” Lelucon itu, meski diucapkan dengan nada gurauan, terasa begitu dekat dengan kenyataan. Memang, keheningan ini terasa misterius. Sebuah ruang yang dulunya penuh tawa kini menjadi hampa. Suasana yang tadinya hangat kini terasa dingin, menyisakan pertanyaan: ke mana perginya tawa itu?

Sepertinya sudah bukan rahasia lagi. Ada praktik gelap yang dijalani para pejabat dan politisi. Mereka tak hanya mengandalkan strategi politik atau lobi-lobi, tapi juga mencari “bantuan” dari dunia lain. Tujuannya? Bukan untuk meraih kekuasaan, melainkan untuk membungkam lawan.

Mengapa banyak pemimpin yang masih bergantung pada dukun? Jawabannya bukan karena mereka bodoh. Justru, banyak dari mereka adalah lulusan perguruan tinggi top, fasih dalam teori manajemen modern. Lalu, mengapa mereka masih mencari “bantuan” dari dukun? Sudah pasti karena dukun menawarkan solusi instan dan rasa kontrol.

Dalam kepemimpinan, ketidakpastian adalah hal biasa. Rencana terbaik pun bisa gagal karena faktor tak terduga. Dukun, dengan ritualnya, menawarkan jaminan ilusi bahwa rintangan bisa disingkirkan. Ini memberikan rasa percaya diri di tengah tekanan besar.

Baca juga:  LindungiHutan Gelar Green Skilling Series, Program Akhir Tahun untuk Bantu Perusahaan Bangun Program ESG/CSR yang Terukur dan Relevan Bisnis

Ini yang paling penting, wibawa adalah instrumen kekuasaan. Wibawa bukan hanya karisma, tapi juga alat untuk menggerakkan orang. Ketika wibawa terasa merosot – mungkin karena kritik dari bawahan atau serangan dari pihak luar – dukun menawarkan jalan pintas untuk “mengisi ulang” wibawa ini, membuat orang lain segan dan patuh tanpa banyak perlawanan.

Semua orang paham, seorang pemimpin menghadapi banyak masalah, termasuk konflik internal yang rumit. Ketika masalah terasa di luar nalar – seperti adanya “persaingan tidak sehat” atau “serangan gaib” – penjelasan rasional tidak lagi memuaskan. Dukun hadir dengan “analisis” supranatural dan “solusi” yang sesuai dengan kepercayaan mereka. Ini adalah bentuk lain dari bantuan psikologis, meski dalam kemasan yang berbeda.

Takhayul Berbalut Modernitas
Ada yang bilang, praktik perdukunan seharusnya sudah tidak ada di era modern ini. Tapi, kita tidak bisa mengabaikan fakta: dukun ada karena ada permintaan. Selama manusia masih merasakan ketakutan akan kegagalan, masih mencari jaminan ekstra untuk sukses, dan masih mencari solusi untuk masalah yang tak bisa dijelaskan secara logis, maka dukun akan tetap menjadi “konsultan” alternatif.

Dukun bukan sekadar jampi-jampi. Mereka adalah cerminan dari kerentanan dan ketakutan kita sendiri. Mungkin, daripada sibuk menghakimi, kita perlu bertanya: Mengapa, di balik semua gelar dan strategi, manusia masih membutuhkan “kekuatan” di luar dirinya? Jawabannya mungkin ada pada diri kita, pada ketakutan yang menggerogoti hati setiap orang, bahkan seorang pemimpin. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."