Lokapalanews.id | Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI I Wayan Sudirta mendesak Kepolisian Republik Indonesia membongkar tuntas motif dan aktor intelektual di balik dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden yang melibatkan perwira tinggi Polri di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Ini preseden buruk. Skandal keamanan informasi negara ini diduga menyeret mantan perwira tinggi Polri berinisial LSP beserta sejumlah jenderal lainnya.
Wayan Sudirta menilai aksi penyadapan terhadap Kepala Negara bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan bentuk ancaman langsung atas kedaulatan nasional. Padahal, Presiden merupakan simbol negara yang memiliki lapis pengamanan VVIP tertinggi.
“Jika Presiden yang dipagari pengamanan ketat saja bisa disadap oknum penegak hukum, lalu bagaimana nasib privasi masyarakat biasa?” kata politisi PDI Perjuangan tersebut.
Alih-alih berhenti pada pelaksana di lapangan, penyidik dituntut menggali akar masalah hingga ke aktor intelektual yang merancang tindakan insubordinasi, baik untuk kepentingan manuver politik, sabotase ekonomi, maupun agenda peruntuhan wibawa negara.
Di atas kertas, penanganan skandal ini menjadi ujian berat bagi penegak hukum. Kendati demikian, Wayan Sudirta menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto yang berani membuka keterlibatan perwira di internal institusinya sendiri.
Demi menjamin penyidikan berjalan objektif dan bebas dari pembelaan korps yang keliru, Wayan Sudirta memberikan empat rekomendasi strategis yakni embentukan tim khusus Polri dengan melibatkan unsur pengawas eksternal independen seperti Kompolnas. Audit menyeluruh infrastruktur komunikasi VVIP oleh BSSN beserta lembaga terkait guna menutup celah kerawanan. Penjatuhan sanksi pemecatan atau Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) dan jerat pidana berat bagi para pelaku. Publikasi perkembangan penyidikan secara berkala oleh Mabes Polri untuk mencegah simpang siur berita liar.
“Hukum harus tajam ke atas. Kami di Parlemen terus mengawal pembersihan ini demi keselamatan bangsa,” katanya. *yas








