--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Kopi Pahit di Balik Pujian Manis

Lokapalanews.id | Pagi ini, kopi di cangkir terasa lebih pahit. Bukan karena kurang gula, tapi karena ada sekelumit pikiran yang membuat lidah ikut merasakan kenyataan yang selama ini sering kita lihat di depan mata. Rasanya mirip kopi pahit itu. Jujur, getir.

Di kantor, entah itu kantor pemerintahan yang dingin atau perusahaan swasta yang penuh aroma parfum mahal, pemandangan itu selalu sama. Pemandangan orang-orang yang sibuk mencari muka. Lomba memuji atasan. Lomba menyanjung bos. Semuanya, demi satu tujuan: mendapatkan tempat aman, tempat yang nyaman, di bawah payung “perlindungan” dan “kasih sayang” sang penguasa. Mereka seolah sedang berlari di jalur cepat menuju puncak.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Lantas, apakah strategi ini ampuh? Saya jadi teringat kata-kata kuno dari Voltaire, filsuf Prancis yang terkenal karena sindirannya yang tajam. Ia pernah bilang, kekuasaan dan perlindungan dari atasan itu ibarat pinjaman. Pinjaman. Bukan milik Anda. Sesuatu yang bisa ditarik kapan saja. Begitu Anda tak lagi dibutuhkan, semua puja-puji yang pernah Anda berikan, semua pengorbanan yang Anda lakukan, akan dilupakan begitu saja.

Voltaire menyebut tindakan “menjilat” itu bukan strategi, melainkan perjudian. Dan, katanya, “jarang sekali ada yang menang.”

Kata-kata ini, meski usianya sudah berabad-abad, terasa sangat pas dengan zaman sekarang. Coba perhatikan di sekeliling kita. Berapa banyak yang kariernya melesat bagai roket karena jago mengabdi? Mereka diberi jabatan empuk, proyek-proyek basah, dan berbagai fasilitas. Hidup mereka terlihat mulus. Beruntung. Bahkan mungkin kita sempat iri melihatnya.

Tapi, di balik semua itu, ada pertanyaan yang mengganjal. Apa yang terjadi jika sang atasan pensiun? Pindah ke kantor lain? Atau, lebih buruk lagi, tersandung masalah? Tiba-tiba, orang yang tadinya di puncak, yang namanya disebut-sebut di mana-mana, jatuh. Tidak lagi dipandang. Tidak lagi didengarkan. Semua janji manis yang dulu diobral, lenyap bagai debu yang ditiup angin.

Ini bukan dongeng. Ini adalah realitas yang sering terjadi. Di tahun 2024, sebuah studi yang diterbitkan oleh Harvard Business Review menemukan bahwa 68% eksekutif senior yang mengalami pemecatan atau penurunan posisi, memiliki “sindrom loyalty-based promotion”. Artinya, mereka naik karena loyalitas yang berlebihan kepada satu atasan, bukan karena kompetensi dan kinerja yang sebenarnya. Studi ini menunjukkan bahwa 7 dari 10 orang yang mengandalkan strategi “menjilat” akhirnya menghadapi risiko karier yang jauh lebih besar.

Baca juga:  Lidah Kering, Hidup Runtuh

Pernyataan Voltaire ini punya irisan yang kuat dengan pemikiran Niccolò Machiavelli, diplomat Italia yang tersohor dengan bukunya, The Prince. Machiavelli mengajarkan satu hal yang sangat realistis: seorang penguasa itu hanya setia pada kepentingannya sendiri. Jangan pernah berharap ia akan loyal padamu jika itu tidak memberinya keuntungan.

Ini bukan soal benar atau salah. Ini bukan soal moralitas. Ini soal pragmatisme. Kekuasaan itu pragmatis. Jika Anda bisa memberikan keuntungan, Anda akan dipertahankan. Jika tidak, Anda akan digantikan. Sesederhana itu.

Pelajaran dari dua tokoh besar ini sangat gamblang: jangan pernah membangun hidup di atas “ludah” orang lain. Ludah itu akan mengering, dan Anda akan jatuh sendirian.

Lebih baik membangun diri dengan integritas. Bangunlah kemampuan. Perluas jaringan. Ciptakan reputasi yang kuat, yang lahir dari kejujuran dan kerja keras. Ini mungkin jalan yang lebih lambat. Jalan yang butuh keringat. Tapi, fondasi yang Anda bangun dari jerih payah sendiri tidak akan mudah runtuh hanya karena orang yang berkuasa berubah pikiran.

Menjilat itu seperti membangun rumah di atas pasir. Mungkin cepat jadi. Tapi rentan roboh saat ombak datang. Sementara integritas, itu seperti membangun rumah di atas batu karang. Butuh waktu, butuh tenaga. Tapi tahan banting menghadapi badai sekuat apa pun.

Pilihan ada di tangan kita. Mau menjadi pemain judi yang risikonya besar, yang suatu hari mungkin harus menerima kenyataan pahit tanpa ada yang menolong? Atau menjadi pembangun yang berinvestasi pada diri sendiri, yang siap menghadapi badai dengan pondasi yang kokoh?

Kopi di cangkir sudah habis. Pahitnya masih tertinggal. Pahitnya sama seperti kenyataan di balik manisnya pujian. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."