--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Bukan Yudisium, Ini Proyek!

Lokapalanews.id | Banyak mahasiswa japri saya via WA, mengeluhkan yudisium yang digelar di tempat jauh. Di sekitar kampus, kata mereka, banyak tempat bagus dan layak. Kenapa harus dipaksakan? Saya memilih diam, karena memang tak tahu alasannya.

Ini soal yudisium. Tapi, ini bukan soal kelulusan, melainkan soal drama yang dimainkan para pimpinan kampus. Mahasiswa? Mereka hanya pion, digeser ke sana kemari tanpa tahu apa-apa.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“Kenapa sih yudisium harus di tempat yang jauh?” curhat seorang mahasiswa. “Bikin repot saja.”

Keluhan itu masuk akal. Yudisium, yang seharusnya menjadi perayaan, kini malah menjadi ajang sandiwara. Katanya, untuk mengenang jasa pahlawan. Sebuah alasan klise yang sangat basi. Pahlawan mana yang senang melihat anak bangsa sengsara? Pahlawan mana yang butuh dikenang dengan membebani mahasiswanya sendiri?

Alasan sesungguhnya, semua ini ulah para pimpinan. Di balik layar, terjadi perebutan kekuasaan. Yudisium ini, ternyata, adalah lahan basah baru. Proyek. Ada yang ingin acara di hotel bintang lima, ada yang di gedung bersejarah, ada yang di balai kota. Mereka semua berebut. Mahasiswa hanya dianggap penonton yang harus membayar tiket.

Komunikasi? Jangan harap. Para pemimpin ini seperti patung. Diam, kaku, dan tidak bisa diajak bicara. Mereka hanya bisa membuat keputusan sepihak. Mahasiswa hanya bisa menelan ludah, pasrah menerima keputusan yang dibuat tanpa melibatkan mereka.

Yang paling tragis, yudisium ini, yang seharusnya menjadi momen bahagia, kini menjadi momen paling menyedihkan. Di balik senyum para pimpinan yang terpampang di media sosial, ada agenda tersembunyi. Ada proyek yang harus dijalankan. Ada kekuasaan yang harus diperebutkan. Dan di tengah semua itu, mahasiswa, yang berjuang mati-matian, hanya bisa menjadi korban.

Baca juga:  Rektor 'Bertopeng': Ancaman Nyata Mutu Pendidikan dan Reputasi Kampus

Mereka membayar mahal, berjuang keras, tapi pada akhirnya, hanya menjadi alat politik. Alat untuk melanggengkan kekuasaan para pemimpin yang haus proyek. Ini bukan yudisium, ini adalah pesta para pemimpin. Pesta di atas penderitaan mahasiswa. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."

Respon (1)

  1. Seandainya di kampus ada aula apakah tidak bisa digunakan untuk yudisium agar bisa meringankan biaya,nanti wisudanya baru di hotel bintang 7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *