--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Sampah, Urus Sendiri, dan Sebuah Cermin

Aksi petugas kebersihan meninggalkan puluhan motor gerobak sampah di depan Kantor Gubernur Bali di Denpasar, Senin (4/8). Foto: Antaranews

Lokapalanews.id | Saya tidak tahu persis apa yang ada di benak Gubernur Bali, I Wayan Koster, saat mengeluarkan pernyataan yang terdengar sangat lugas itu: “Itu enggak bisa (masyarakat atau pengusaha keberatan TPA Suwung ditutup). Sampah dibikin sendiri diselesaikan sendiri. Jangan sampah bikin sendiri, orang yang suruh yang urus. Saya punya sampah saya kirim ke rumah mu, mau? Harus selesai di rumahmu sendiri.”

Kutipan itu, bagi saya, adalah sebuah cermin besar yang diletakkan di hadapan kita semua. Reaksinya beragam, ada yang memuji ketegasannya, ada juga yang mengkritik sebagai lepas tangan dari tanggung jawab. Tapi, mari kita lihat lebih dalam.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Selama ini, kita terbiasa dengan narasi bahwa sampah adalah masalah pemerintah. Kita membuang sampah, lalu berharap ada petugas yang datang mengambilnya. Kita lupa bahwa sampah dimulai dari tangan kita sendiri. Botol plastik yang kita minum, bungkus mi instan yang kita makan, semua itu adalah produk dari pilihan dan kebiasaan kita. Kita seolah-olah menjadi “pembuat sampah profesional”, lalu menyerahkan semua urusan itu kepada orang lain.

Pernyataan Koster, mungkin, adalah upaya untuk membalik narasi ini. Dia ingin mengatakan: “Jangan hanya menunggu. Anda adalah bagian dari masalah, maka Anda juga harus menjadi bagian dari solusi.”

Bali, dengan keindahan alamnya yang luar biasa, menghadapi tantangan yang sangat besar. Sampah, terutama sampah plastik, adalah bom waktu yang bisa merusak pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian. Pantai yang kotor, sungai yang tersumbat, bukan hanya merusak pemandangan, tapi juga ekosistem.

Maka, “urus sendiri” bisa diartikan sebagai ajakan untuk introspeksi. Ajakan untuk memulai dari hal yang paling kecil: memilah sampah di rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mendukung inisiatif lokal yang peduli lingkungan.

Baca juga:  Komunikasi Kunci Mitigasi Bencana di Indonesia

Saya tidak tahu apakah pernyataan itu akan berhasil atau tidak. Saya hanya tahu bahwa masalah sampah tidak akan pernah selesai jika hanya diserahkan kepada pemerintah. Masalah ini akan selesai jika setiap individu merasa memiliki tanggung jawab yang sama. Gubernur Koster mungkin sedang mencoba membuka mata kita, bahwa terkadang, solusi terbaik tidak datang dari atas, tapi dari kesadaran yang tumbuh di setiap diri kita. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *