--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Dosen pun bisa Jadi ‘Manusia Palsu’

I Made Suyasa

Lokapalanews.id | Saya perhatikan, belakangan ini, ada satu “bisnis” yang cukup ramai di kalangan mahasiswa. Bukan bisnis makanan, bukan juga bisnis online. Tapi bisnis skripsi.

Aneh, ya? Skripsi, yang seharusnya jadi mahkota perjuangan seorang mahasiswa, kok malah diperjualbelikan?

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya jadi ingat waktu dulu kuliah. Skripsi itu seperti momok. Harus begadang, mikir keras, revisi berkali-kali. Rasanya seperti bertempur. Tapi justru di situlah letak kehormatannya. Kita lulus bukan karena membeli, tapi karena berjuang.

Sekarang, kok malah ada jalan pintas? Tinggal bayar, skripsi langsung jadi. Bahkan katanya, ada oknum dosen yang ikut bermain. Mereka jadi perantara, atau bahkan menyediakan “jasa” skripsi instan.

Ini bukan lagi soal mahasiswa malas. Ini sudah masuk ke ranah yang lebih dalam. Ini soal integritas. Integritas mahasiswa, integritas dosen, dan integritas dunia pendidikan kita.

Kalau skripsi saja bisa dibeli, lalu apa bedanya ijazah yang juga katanya banyak palsu itu? Kalau proses belajar sudah tidak dihargai, lalu apa gunanya kuliah bertahun-tahun?

Saya tidak tahu pasti seberapa marak bisnis ini. Tapi kalau memang ada, ini adalah lampu merah yang sangat terang. Ada yang salah dengan sistem kita. Ada yang salah dengan mentalitas kita.

Mungkin, sebagian mahasiswa merasa tertekan untuk cepat lulus. Mungkin sebagian dosen juga punya alasan sendiri. Tapi tetap saja, jual beli skripsi adalah jalan pintas yang merusak segalanya.

Ini bukan hanya soal nilai akademis. Ini soal pembentukan karakter. Kalau sejak awal sudah terbiasa dengan jalan pintas dan ketidakjujuran, bagaimana nanti mereka akan menghadapi dunia kerja dan kehidupan yang sebenarnya?

Baca juga:  Dosen Cuma Mikirin Cicilan, Kampus Kita Kena Virus 'Minder Kapital'

Saya jadi berpikir, mungkin kita perlu meninjau lagi sistem pendidikan kita. Apakah terlalu fokus pada hasil akhir, sampai mengabaikan proses? Apakah tekanan untuk lulus tepat waktu terlalu besar, sampai mahasiswa menghalalkan segala cara?

Yang jelas, jual beli skripsi ini bukan sekadar masalah individual. Ini masalah kolektif. Ini cerminan dari nilai-nilai yang sedang kita anut.

Semoga saja, ini hanya segelintir cerita yang tidak mewakili keseluruhan. Semoga masih banyak mahasiswa yang bangga dengan skripsi hasil jerih payahnya sendiri. Dan semoga masih banyak dosen yang menjunjung tinggi integritas akademik.

Karena, kalau tidak, masa depan pendidikan kita bisa lebih “palsu” lagi dari sekadar skripsi yang dibeli. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *