Lokapalanews.id | Kintamani – Saat fajar menyingsing di kawasan Penelokan, kabut tipis tampak menari di atas permukaan Danau Batur. Gunung Batur berdiri megah di sisi barat, sementara Bukit Abang dan Bukit Terunyan membingkai cakrawala timur dalam siluet hijau yang dramatis. Di tepian jalan Kedisan, aroma kopi Arabika Kintamani yang baru diseduh mulai menguar dari sebuah bangunan sederhana, menyambut hari dengan kehangatan yang autentik. Inilah Milu Side Cafe.

Milu Side Cafe bukanlah tentang kemewahan desain interior yang menelan biaya fantastis, pun bukan entitas bisnis yang disokong oleh korporasi besar. Ia adalah sebuah narasi tentang impian anak muda lokal Bali yang dirajut dari nol dengan ketulusan tangan sendiri. Di balik setiap cangkir kopi yang tersaji, terselip cerita tentang dua sosok visioner: Ketut Ade Rahayuni, S.Ikom dan I Putu Mahesa Manggala, S.M. — dua sahabat yang memilih untuk berjuang sebelum terbang.
Dua Sarjana, Satu Tekad: Menolak Untuk Diam
Perjalanan Milu Side Cafe bermula pada tahun 2024, tahun yang menjadi titik balik bagi Ade dan Esa. Keduanya baru saja menyelesaikan studi sarjana; Ade sebagai lulusan terbaik Ilmu Komunikasi dari Undiknas University, dan Esa sebagai sarjana Manajemen dari Universitas Warmadewa. Di tengah mimpi besar untuk meniti karier di Australia, mereka dihadapkan pada realitas proses birokrasi visa yang panjang.
Bagi banyak orang, masa tunggu mungkin menjadi waktu untuk berdiam diri. Namun, bagi Ade dan Esa, itu adalah ruang untuk berkarya.
“Kami tidak ingin membuang waktu. Selama proses visa, kami memilih untuk tetap produktif dan membangun sesuatu. Dari sanalah ide bisnis pertama kami lahir,” ungkap Ade.
Pada Agustus 2024, bermodalkan tabungan dari pekerjaan paruh waktu semasa kuliah, mereka merintis bisnis mochi di Abiansemal, Badung. Sederhana, namun dikelola dengan dedikasi tinggi. Melalui booth sederhana dan partisipasi aktif di berbagai event seperti Car Free Day Renon, mereka belajar tentang melayani pelanggan, mengelola stok, hingga menghadapi dinamika dunia usaha. Pengalaman itulah yang akhirnya mematangkan nyali mereka untuk melangkah lebih jauh: kembali ke tanah kelahiran Ade di Kintamani.
Milu Side Cafe: Ruang yang Menenangkan
Nama “Milu” dalam bahasa Bali berarti “ikut” atau “bersama” — sebuah ajakan halus untuk singgah dan hadir sepenuhnya dalam momen yang ada. Ditambah kata “Side”, kafe ini memosisikan dirinya di sisi danau, di sisi alam, dan di sisi kehidupan yang sering luput dari hiruk-pikuk keseharian.
Pada 29 Juni 2025, Milu Side Cafe resmi membuka pintunya. Tanpa seremoni megah maupun dukungan influencer papan atas, kafe ini tumbuh secara organik. Fokus mereka sederhana: menyajikan pengalaman tulus yang membuat setiap pengunjung ingin kembali.
“Kami mulai dari hal sederhana. Kursi seadanya dan menu yang terbatas, namun kami memastikan setiap sajian dibuat dengan sepenuh hati. Respons positif dari pelangganlah yang menjadi bahan bakar kami untuk terus berkembang,” tutur Esa.
Profil Singkat
-
Alamat: Jl. Kedisan, Kecamatan. Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali 80353
-
Berdiri: 29 Juni 2025
-
Media Sosial: @milusidecafe (Instagram/TikTok)
-
Konsep: Alam, Santai, dan Hangat (Panorama Danau Batur, Gunung Batur, serta Bukit Abang & Terunyan)
-
Keunggulan: Kopi Arabika Kintamani specialty, hidangan segar made-to-order, dan pelayanan yang responsif
-
Pendiri: Ketut Ade Rahayuni, S.Ikom & I Putu Mahesa Manggala, S.M.
Pemandangan yang Bicara, Kopi yang Jujur
Keunggulan utama Milu Side Cafe adalah kejujuran produknya. Dengan mengandalkan kopi Arabika Kintamani yang tumbuh di ketinggian 900–1.700 mdpl, pengunjung disuguhi karakter kopi dengan body yang seimbang, keasaman yang cerah, serta aroma buah tropis yang khas.
Selain itu, komitmen mereka menyajikan makanan yang disiapkan fresh setiap hari menjadi pembeda di tengah tren makanan instan. Ditambah dengan kebersihan yang terjaga dan keramahan staf, Milu menciptakan ruang di mana setiap orang bisa menikmati waktu tanpa terburu-buru.
Melampaui Batas: Bisnis yang Bertahan Tanpa Kehadiran Pemilik
Memasuki pertengahan 2026, sebuah babak baru dimulai. Ade kini tengah menempuh pendidikan S-2 Komunikasi Pemasaran Strategis di BINUS University Jakarta, sekaligus memperkaya wawasan bisnis di Australia. Sementara itu, Esa sejak April 2026 tengah menjalani program Working Holiday Visa (WHV) di Australia.
Meskipun fisik mereka berada jauh dari Jl. Kedisan, Milu Side Cafe tetap berdenyut. Ini adalah bukti bahwa sistem yang dibangun dengan nilai-nilai kuat mampu melampaui kehadiran pendirinya. Mereka telah berhasil mentransformasi sebuah bisnis kecil menjadi entitas yang mandiri.
Pesan untuk Anak Muda: “Start from Zero”
Di tengah gempuran investor besar di Kintamani, kisah Ade dan Esa adalah oase. Mereka membuktikan bahwa start from zero bukan sekadar slogan, melainkan sebuah jalan panjang yang menuntut ketangguhan mental dan kedisiplinan.
“Kami tidak memiliki modal atau nama besar. Yang kami miliki hanyalah keyakinan bahwa apa yang kami bangun memiliki nilai bagi pelanggan dan masyarakat sekitar. Itu cukup untuk membuat kami terus berjalan,” ujar mereka.
Lebih dari sekadar bisnis, Milu Side Cafe adalah upaya nyata dalam memberdayakan komunitas lokal, mulai dari petani kopi hingga terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat Kintamani. Harapan Ade dan Esa sederhana: menjadikan Milu sebagai institusi yang panjang umur – bukan sekadar viral sesaat, melainkan tempat yang terus bermakna bagi generasi ke generasi.
Jika Anda mencari tempat untuk menepi dari kebisingan dunia, singgahlah ke Milu Side Cafe. Pesanlah secangkir kopi, nikmati ketenangan danau, dan rasakan sendiri ketulusan yang diseduh di dalamnya. *






