Lokapalanews.id | Jakarta – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mulai serius menggarap potensi pariwisata berbasis pengalaman edukatif dengan memberikan dukungan penuh terhadap program Edutrip Australia–Indonesia Incentive Trip. Langkah strategis ini bertujuan memposisikan Indonesia sebagai destinasi unggulan bagi perjalanan insentif pelajar mancanegara yang berkualitas dan berkelanjutan.
Plt. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenpar, Vinsensius Jemadu, menyatakan bahwa keterlibatan wisatawan muda dalam pengalaman imersif memiliki peran krusial bagi masa depan industri. Menurutnya, program semacam ini tidak hanya menjual pemandangan alam, tetapi juga membentuk generasi global yang mampu menghargai keaslian budaya lokal secara mendalam.
“Melalui keterlibatan wisatawan muda dalam pengalaman yang edukatif dan imersif, kita turut membentuk generasi yang menghargai keaslian budaya sekaligus membangun koneksi global yang bermakna,” ujar Vinsensius dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.
Program yang diinisiasi oleh Impact Travel Group ini terbagi dalam dua gelombang kunjungan sepanjang April 2026. Gelombang pertama membawa 33 pelajar dan pengajar dari Bellarine Secondary College menyusuri rute Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Bali. Sementara gelombang kedua diikuti oleh rombongan Christian College Geelong yang menjelajahi Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Lombok.
Selama di Indonesia, para peserta tidak sekadar berwisata, namun mengikuti rangkaian aktivitas yang dirancang untuk mengenal kekayaan sejarah dan kehidupan sosial masyarakat. Mereka menjajal kecanggihan Kereta Cepat Whoosh dari Jakarta ke Bandung, mendalami filosofi musik melalui pertunjukan angklung, hingga mengunjungi situs warisan dunia UNESCO, Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Pengalaman budaya para pelajar Australia ini diperkuat dengan lokakarya langsung, seperti mempelajari kerajinan perak di Kotagede serta seni membatik di Yogyakarta. Aktivitas ini memberikan ruang bagi peserta untuk berinteraksi langsung dengan pengrajin lokal, menciptakan pemahaman lintas budaya yang lebih organik dan personal.
Kementerian Pariwisata juga memberikan apresiasi khusus melalui penyelenggaraan jamuan makan malam (welcoming dinner) bagi kedua rombongan. Jamuan pertama digelar di kawasan ikonik Candi Prambanan, sementara gelombang kedua disambut di kawasan Marina Batavia, Ancol. Kehadiran pejabat kementerian dalam acara tersebut menegaskan betapa pentingnya segmen youth travel bagi diplomasi pariwisata Indonesia.
Vinsensius menambahkan bahwa inisiatif ini merupakan representasi nyata dari strategi “Beyond Bali”. Dengan membawa rombongan ke destinasi seperti Bandung, Yogyakarta, dan Lombok, pemerintah berupaya mendorong diversifikasi destinasi unggulan agar pasar global tidak hanya terpaku pada satu titik wisata saja. Hal ini juga memperkuat posisi Indonesia di sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).
Co-Founder Impact Travel Group, Emil Ridwan, mengapresiasi dukungan konsisten dari pemerintah. Ia menilai kolaborasi erat ini menjadi fondasi penting dalam menghadirkan pengalaman perjalanan yang bermakna bagi generasi muda Australia. Bagi para siswa, sambutan hangat dan pengalaman langsung di lapangan menjadi memori kolektif yang mempererat hubungan antarbangsa.
Dengan suksesnya program ini, Indonesia diharapkan semakin kokoh sebagai pusat wisata edukasi di Asia Tenggara. Sinergi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci untuk terus menghadirkan paket wisata yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga mampu mengedukasi dunia tentang kekayaan peradaban nusantara. *R105






