--- / --- 00:00 WITA
Ekbis  

Ekspor Unggas Melesat, Indonesia Perkuat Status Swasembada Protein

Peternak unggas di Kota Palangkaraya sedang melakukan perawatan rutin di kandang ayam petelur guna menjaga kualitas produksi nasional. (Dok. MC Kota Palangkaraya)

Lokapalanews.id | Jakarta – Sektor perunggasan nasional menorehkan catatan impresif di pasar internasional pada awal tahun 2026. Kementerian Pertanian (Kementan) melaporkan lonjakan ekspor produk ayam dan telur yang signifikan, menandai keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada protein hewani sekaligus memperluas pengaruh di kancah global.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pencapaian ekspor ini merupakan bukti nyata dari surplus produksi nasional yang dikelola dengan strategi ekspansi pasar yang agresif. Menurutnya, Indonesia tidak lagi hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri, tetapi telah bertransformasi menjadi eksportir aktif.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“Sekarang ini kita sudah swasembada telur, ayam, hingga beras. Capaian ini terus kita dorong agar komoditas kita semakin banyak mengalir ke negara-negara lain,” ujar Mentan Amran dalam siaran pers yang diterima pada Selasa, 21 April 2026. Ia menambahkan bahwa saat ini sudah ada 10 negara tujuan utama yang menjadi pelanggan tetap produk unggas asal tanah air.

Berdasarkan data terbaru hingga Maret 2026, Indonesia telah mengirimkan sedikitnya 545 ton produk unggas ke pasar luar negeri dengan nilai mencapai Rp18,2 miliar. Singapura, Jepang, dan Timor Leste tercatat sebagai negara tujuan yang paling aktif menyerap produk lokal tersebut.

Struktur ekspor didominasi oleh telur konsumsi sebanyak 517 ton atau setara dengan 8,13 juta butir. Sementara itu, sisa volume ekspor terdiri dari daging ayam dan produk olahan. Menariknya, industri perunggasan Indonesia mulai bergeser ke arah hilirisasi dengan mengekspor produk bernilai tambah seperti nugget dan karaage.

Tren peningkatan ini terlihat sangat konsisten jika menilik data tiga tahun terakhir. Pada tahun 2024, nilai ekspor berada di kisaran Rp10 hingga Rp11 miliar, kemudian naik menjadi Rp15 miliar pada tahun 2025. Memasuki kuartal pertama 2026, lonjakan ke angka Rp18,2 miliar menunjukkan akselerasi yang tajam bagi industri peternakan nasional.

Baca juga:  BRI Dukung Digitalisasi UMKM, Depot Betty Kembangkan Bisnis Keluarga ke Jaringan Kuliner

Kekuatan ekspor ini berakar pada produksi domestik yang sangat solid. Saat ini, produksi daging ayam ras nasional menyentuh 4,29 juta ton, sementara konsumsi setahun hanya sebesar 4,12 juta ton. Hal serupa terjadi pada produksi telur ayam ras yang mencapai 6,54 juta ton dibandingkan tingkat konsumsi nasional sebesar 6,47 juta ton.

Surplus produksi yang melimpah inilah yang memungkinkan pemerintah melakukan ekspansi pasar tanpa perlu mengkhawatirkan stabilitas pasokan maupun harga di tingkat domestik. Strategi ini justru dinilai efektif untuk menjaga keseimbangan harga bagi para peternak lokal saat pasar dalam negeri mengalami titik jenuh.

Kementan juga memastikan bahwa seluruh produk yang dilepas ke pasar global telah melalui sistem kesehatan hewan dan biosekuriti yang ketat. Sertifikasi veteriner menjadi senjata utama dalam diplomasi perdagangan untuk memastikan produk Indonesia memenuhi standar keamanan pangan internasional yang sangat kompetitif.

Melalui penguatan industri pengolahan di masa depan, Indonesia berambisi meningkatkan volume ekspor secara lebih masif. Fokus pada hilirisasi tidak hanya akan menambah pundi-pundi devisa negara, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain kunci dalam rantai pasok protein hewani di pasar dunia. *R102

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."