Lokapalanews.id | Denpasar – Pemerintah bersama pelaku industri dan aktivis lingkungan memperkuat komitmen untuk mentransformasi tata kelola pariwisata bahari Indonesia menuju model berkelanjutan. Fokus utama dalam gerakan kolektif ini menempatkan pengelolaan sampah dan restorasi ekosistem sebagai pilar krusial guna menjaga daya saing destinasi wisata di kancah internasional.
Aktivis lingkungan sekaligus Founder Ecotourism Bali, Suzy Hutomo, menegaskan bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah harus melekat pada setiap individu dan aktor pariwisata. Menurutnya, investasi dalam pengelolaan limbah adalah konsekuensi logis untuk mempertahankan keindahan alam Bali dan wilayah Indonesia lainnya. Ia juga menekankan pentingnya peran operator wisata dalam membimbing wisatawan agar berperilaku selaras dengan prinsip kelestarian alam.
“Aktor pariwisata harus menyadari bahwa keindahan Bali yang luar biasa ini sebanding dengan usaha yang kita berikan. Kita harus mau ‘repot’ dan berinvestasi untuk mengurus sampah,” ujar Suzy Hutomo dalam forum Bali Ocean Days di Jimbaran Convention Center, Sabtu (31/1).
Sejalan dengan hal tersebut, CEO Wedoo, Valerine Chandrakesuma, menyatakan bahwa kesehatan ekosistem laut merupakan jantung dari ekonomi pariwisata. Kerusakan terumbu karang dan pencemaran air disebutnya sebagai ancaman nyata bagi daya tarik wisata selam dan selancar Indonesia. Sebagai solusi praktis, Valerine memperkenalkan teknologi mesin pengolahan sampah inovatif yang mampu mereduksi volume limbah hingga 95 persen.
Teknologi ini dirancang untuk mengatasi hambatan logistik di daerah terpencil dengan mengubah sampah menjadi produk bernilai tambah. Valerine juga mendorong pemerintah untuk memperketat penegakan regulasi agar perlindungan lingkungan dapat berjalan konsisten dalam jangka panjang. Dengan reduksi volume yang signifikan, limbah tidak lagi dipandang sebagai beban operasional yang mahal, melainkan aset ekonomi yang bisa diolah kembali.
Keberhasilan konservasi berbasis masyarakat juga ditunjukkan di Desa Pemuteran melalui Yayasan Karang Lestari. Manajer Yayasan Karang Lestari, Komang Astika, memaparkan bahwa penggunaan metode biorock telah berhasil memulihkan ekosistem karang yang sebelumnya rusak. Upaya restorasi ini tidak hanya memulihkan kehidupan laut, tetapi juga meningkatkan kualitas pariwisata serta kesejahteraan ekonomi warga setempat.
Gerakan kolektif ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat. Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, mengapresiasi sinergi seluruh pihak dalam menata ulang wajah pariwisata bahari nasional. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat kebijakan yang berfokus pada aspek keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan inklusif bagi generasi mendatang.
“Indonesia memperkuat keselamatan dan keamanan pariwisata. Komitmen ini membutuhkan kekuatan kolektif untuk membentuk pariwisata bahari yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan,” tegas Ni Luh Puspa saat menjadi pembicara kunci dalam forum tersebut. Pemerintah meyakini bahwa perlindungan laut adalah kunci kemakmuran jangka panjang bagi industri pariwisata nasional. *R106






