Lokapalanews.id | Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Qiaoyin City Management Co., Ltd. dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) untuk mengimplementasikan teknologi pengolahan air baku dan limbah sirkular. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mempercepat dekarbonisasi industri serta mendukung target Net Zero Emission (NZE) melalui penguatan infrastruktur berkelanjutan. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terkait proyek percontohan sistem pengolahan air terpadu yang diproyeksikan menjadi standar baru bagi kawasan industri di Indonesia.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan bahwa penguatan infrastruktur pendukung seperti pengolahan air menjadi prioritas utama seiring pesatnya pertumbuhan kawasan industri nasional. Menurutnya, kawasan industri memiliki peran vital dalam menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja, sehingga pengelolaan aspek lingkungan harus dilakukan secara profesional dan modern. Inisiatif ini juga selaras dengan agenda Astacita Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong reformasi struktur industri menuju ekosistem yang lebih hijau dan kompetitif di kancah global.
Hingga tahun 2025, data Kemenperin mencatat terdapat 176 kawasan industri dengan total luas mencapai 98.291 hektare yang menampung hampir 12.000 tenant industri. Dengan nilai investasi mencapai Rp6.744 triliun dan serapan tenaga kerja sebesar 2,35 juta orang, kebutuhan akan sistem pengelolaan limbah yang andal menjadi sangat mendesak. Pertumbuhan jumlah kawasan industri yang mencapai hampir 50 persen dalam lima tahun terakhir menuntut adanya solusi teknologi yang tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga efisien dari segi operasional dan pemanfaatan ruang.
Teknologi yang diperkenalkan dalam kolaborasi ini adalah Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor (DIAB). Inovasi asal mancanegara tersebut dirancang khusus untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan dan tingginya biaya pembangunan fasilitas pengolahan limbah konvensional. Perwakilan Qiaoyin City Management, Wan Yiming, mengungkapkan bahwa sistem DIAB mampu memangkas biaya konstruksi hingga 20 persen dan menghemat penggunaan lahan hingga 60 persen. Keunggulan lainnya terletak pada penggunaan sistem prefabrikasi yang memungkinkan fasilitas beroperasi empat kali lebih cepat dibandingkan metode tradisional.
Implementasi tahap awal akan menyasar lima kawasan industri terpilih sebagai proyek percontohan dengan durasi operasional hingga tiga tahun. Pemerintah berharap pilot project ini dapat merumuskan model pengelolaan air yang paling efektif untuk direplikasi secara masal di seluruh Indonesia. Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, menekankan bahwa penerapan teknologi modern seperti DIAB akan meningkatkan daya saing kawasan industri Indonesia di mata investor global yang kini sangat memprioritaskan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional, Tri Supondy, menambahkan bahwa kerja sama internasional ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional. Kemenperin berkomitmen untuk memastikan bahwa kolaborasi ini tidak hanya bersifat temporer, melainkan menjadi fondasi kemitraan jangka panjang yang mampu mendorong inovasi berkelanjutan di sektor manufaktur. Transformasi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif langsung pada kelestarian lingkungan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih stabil dan inklusif. *R102






