--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Pasukan Monyet Terbang

Ilustrasi simbolis yang menggambarkan seseorang yang mengendalikan orang lain dari balik bayangan, menciptakan perpecahan dan konflik melalui perantara dalam lingkungan sosial yang kompleks.

Lokapalanews.id | Saya sedang menyeruput kopi. Lagi. Kali ini di sebuah teras rumah teman lama. Teduh. Nyaman. Sampai sebuah pesan masuk di ponsel saya.

Isinya aneh. Datangnya dari seorang kawan yang sudah bertahun-tahun tidak bicara dengan saya. Isinya bukan kabar baik. Bukan pula salam. Tapi sebuah penghakiman.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“Saya dengar kamu sekarang begini ya…” tulisnya. Dia menasihati saya panjang lebar. Tentang moral. Tentang etika. Padahal dia tidak tahu apa-apa tentang hidup saya sekarang.

Saya tersenyum kecut. Saya tahu siapa di balik ini. Ada satu sosok yang sedang “bermain”. Sosok narsistik yang merasa terancam, lalu mengirim utusan.

Inilah yang di dunia psikologi disebut Flying Monkeys. Monyet terbang.

Istilah ini bukan main-main. Diambil dari kisah klasik Wizard of Oz. Pasukan monyet yang patuh pada perintah si penyihir jahat. Tanpa tanya. Tanpa logika.

Tugas mereka kotor. Memata-matai. Mengintimidasi. Atau yang paling sering: menyebarkan fitnah dengan wajah sok peduli.

Si narsistik itu cerdik. Dia tidak mau tangannya kotor. Dia ingin tetap terlihat bersih. Seperti malaikat yang terzalimi.

Maka, dia butuh antek. Dia ciptakan narasi palsu. Dia peras air mata di depan orang-orang ini. “Saya sudah bantu dia, tapi dia malah begini…” begitu biasanya mereka berakting.

Para monyet terbang ini pun termakan umpan. Mereka merasa sedang membela kebenaran. Mereka merasa sedang menolong korban. Padahal, mereka hanya jadi alat pemukul.

Pernahkah Anda mengalaminya? Tiba-tiba diserang oleh keluarga sendiri? Atau difitnah oleh rekan kerja yang selama ini baik-baik saja?

Hati-hati. Anda sedang berhadapan dengan perpanjangan tangan sang narsisis.

Cara kerjanya rapi. Mereka akan membawa pesan ancaman dengan bungkusan “saran”. Mereka akan membuat Anda merasa bersalah. Guilt trip, istilah kerennya.

“Kasihan lho dia, kenapa kamu tidak minta maaf saja?” kata si monyet terbang. Padahal, dialah yang baru saja merusak sistem di kantor atau memecah belah keluarga.

Mereka tidak butuh fakta. Mereka hanya butuh drama. Mereka sudah terhipnotis oleh cerita satu pihak.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Baca juga:  Dinding Kaca di Balik Tatap Mata Sang Narsistik

Dulu, saya mencoba menjelaskan. Saya pakai logika. Saya tunjukkan data. Saya sampaikan kronologi yang benar.

Hasilnya? Nol besar.

Mereka tidak mau mendengar. Telinga mereka sudah tertutup oleh racun sang narsistik. Menjelaskan logika kepada monyet terbang itu seperti meniup debu di tengah badai. Sia-sia.

Satu-satunya cara yang ampuh adalah: No Contact. Putus kontak. Atau setidaknya, buat batasan yang sangat tegas. Boundaries.

Jangan beri mereka panggung. Jangan beri mereka reaksi. Karena reaksi Anda adalah “laporan” yang akan mereka bawa kembali ke sang majikan.

Birokrasi kita juga sering begini. Ada atasan narsistik yang merasa terancam oleh staf yang pintar. Dia tidak akan menyerang langsung.

Dia akan memengaruhi staf lain. Dia ciptakan suasana kerja yang beracun. Dia kirim “pesan-pesan” lewat orang kepercayaan.

Akhirnya, si staf pintar itu merasa dikeroyok. Merasa tidak punya teman. Padahal itu semua adalah skenario yang sudah dirancang dengan matang.

Dunia ini memang penuh dengan pasukan penyihir. Mereka ada di mana-mana. Di kantor, di organisasi, bahkan di grup WhatsApp keluarga.

Pahlawan palsu yang kita bahas kemarin butuh pasukan ini. Tanpa monyet terbang, sang narsisis hanyalah badut kesepian. Mereka butuh orang lain untuk memvalidasi kebohongan mereka.

Pesan saya pagi ini: jangan mau jadi monyet terbang. Jangan mau jadi alat untuk menyakiti orang lain atas dasar cerita yang belum tentu benar.

Dan jika Anda adalah korbannya, tetaplah tenang. Integritas itu seperti emas. Meski dilempar ke lumpur oleh pasukan monyet sekalipun, ia tetap berkilau.

Tutup pintu komunikasi yang beracun. Fokus pada karya. Biarkan sang penyihir dan pasukannya berteriak di luar pagar.

Kopi saya sudah habis. Matahari mulai tinggi. Di luar sana, mungkin ada monyet-monyet terbang yang sedang bersiap meluncur.

Semoga kita cukup kuat untuk tetap diam dan tidak ikut dalam sirkus mereka.

Sebab, pahlawan sejati tidak butuh pasukan untuk merusak. Pahlawan sejati cukup dengan kebenaran yang tenang. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."