--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Kucing di Toilet

Pemandangan kontras antara gedung institusi pendidikan yang megah dengan tumpukan barang tidak terpakai yang mengabaikan standar kesehatan lingkungan dan kenyamanan publik.

Lokapalanews.id | Saya sedang menyeruput kopi. Pahit. Sepahit pesan yang masuk ke ponsel saya. Isinya bukan soal anggaran pendidikan yang disunat. Bukan soal kurikulum yang ganti-ganti.

Ini soal toilet. Dan kucing. Dan rongsokan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Di sebuah kampus. Tempat yang katanya gudang peradaban.

Ada seorang bos di sana. Pangkatnya mungkin tinggi. Gelarnya mungkin deretan. Tapi kelakuannya bikin geleng-geleng kepala. Ia memelihara kucing. Tapi bukan di rumah. Kucing itu disembunyikan di toilet kampus.

Sengaja disembunyikan.

Anda bisa bayangkan baunya. Kamar mandi yang harusnya wangi karbol, berubah jadi sentra kotoran hewan. Menjijikkan. Mahasiswa mual. Staf mau muntah. Tapi semua bungkam.

Kenapa? Karena si bos punya penyakit kronis: Arogan.

Saya tertegun. Di negeri ini, jabatan seringkali dianggap sebagai sertifikat kepemilikan ruang publik. Kamar mandi kampus yang dibayar pakai uang rakyat, atau uang SPP mahasiswa, dianggap sebagai jamban pribadi.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin tidak punya rasa malu?

Menumpuk rongsokan di kantor itu bukan sekadar soal estetika. Itu soal kewarasan manajerial. Itu soal keselamatan kerja. Itu soal hak orang lain untuk menghirup udara tanpa debu karat.

Tapi orang arogan memang punya “dunia” sendiri. Bagi dia, aturan hanya berlaku untuk bawahan. Untuk dirinya? Dia adalah hukum itu sendiri.

Kucing yang malang itu sebenarnya adalah simbol. Simbol betapa pengapnya ruang kerja di sana. Kucing itu terperangkap di toilet yang lembap. Sama seperti para staf yang terperangkap dalam ketakutan.

Takut menegur. Takut bersuara. Takut karier tamat.

Padahal, diamnya kita adalah pupuk terbaik bagi tumbuhnya tirani kecil-kecilan. Jika urusan kotoran kucing di toilet saja tidak bisa dibereskan, jangan harap kampus itu bisa bicara soal integritas akademik yang muluk-muluk.

Baca juga:  Si Paling Benar

Integritas itu mulainya dari toilet. Dari kejujuran membedakan mana ruang pribadi, mana ruang publik.

Si bos mungkin merasa hebat karena tidak ada yang berani melawannya. Padahal, dia sedang menabung kebencian. Dia sedang membangun monumen kegagalannya sendiri lewat tumpukan besi tua dan bau pesing.

Saran saya sederhana: Jangan lawan orangnya. Lawan sampahnya.

Jika kampus membiarkan toiletnya jadi kandang kucing, berarti rektoratnya pun perlu diperiksa penciumannya.

Dunia akademik tidak butuh feodalisme model baru. Kampus bukan tempat penitipan barang loak. Kampus bukan pet hotel gratisan untuk bos yang pelit modal.

Kepemimpinan itu soal teladan. Bukan soal siapa yang paling berani mengotori fasilitas umum.

Kalau kotoran kucing saja dianggap “prestasi” yang harus diterima bawahan, maka kita sedang menuju peradaban loak. Peradaban yang baunya minta ampun.

Kita tunggu saja. Apakah rongsokan itu akan pindah? Atau justru nurani di kampus itu yang sudah menjadi rongsokan? *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."