Lokapalanews.id | Saya punya teman. Dia mengajar di sebuah kampus. Suatu hari dia curhat. Mukanya ditekuk. Kusut.
“Saya kena tegur, Mas,” katanya. “Kenapa? Kurang penelitian?” tanya saya. Dia menggeleng. “Saya terlalu vokal soal tindakan sewenang-wenang pimpinan dan anggaran rapat yang tidak masuk akal.”
Saya hanya tersenyum kecut. Ternyata, di tempat yang katanya gudang ilmu pun, suara kritis masih jadi barang haram. Kalau Anda terlalu jujur, Anda dianggap duri. Kalau Anda kompak melawan, Anda dianggap makar.
Kejadian yang mirip kini menimpa seorang dosen. Dia diberhentikan. Statusnya: Dengan Hormat. Tapi alasannya bikin dahi mengernyit: dituduh jadi koordinator mosi tidak percaya.
Gila.
Mosi itu aspirasi kolektif. Bukan kerjaan satu orang penjahat di film-film. Tapi itulah jurus klasik pimpinan yang kaget. Pimpinan yang kaget biasanya arogan. Pimpinan yang arogan biasanya sewenang-wenang.
Mari kita bedah secara jernih. Tanpa bahasa langit.
Seorang pemimpin, di mana pun itu, pasti punya bawahan. Di kampus, pimpinannya rektor atau dekan. Bawahannya dosen. Kalau dosen satu kelas protes, mungkin itu masalah pribadi. Kalau satu jurusan protes, itu masalah manajemen. Tapi kalau sudah muncul mosi tidak percaya secara masif, itu artinya sistem sudah jebol.
Sistem yang gagal itulah penyebab utamanya. Bukan dosennya.
Bayangkan Anda berada di sebuah kapal. Kaptennya bawa kapal ke arah karang. Penumpang dan kru teriak-teriak. Mereka bikin surat pernyataan: “Kapten, Anda salah jalan!”
Apa yang dilakukan kapten? Dia tidak memutar kemudi. Dia malah mencari siapa yang pertama kali tanda tangan di surat itu. Lalu, orang itu dibuang ke laut.
Apakah kapalnya selamat? Tidak. Kapal tetap menabrak karang. Hanya saja, sekarang tidak ada lagi yang berani mengingatkan kaptennya. Kaptennya senang. Tapi kapalnya tenggelam.
Itulah yang terjadi kalau mosi tidak percaya dijawab dengan pemecatan. Itu bukan solusi. Itu pembungkaman. Itu tanda pimpinan tidak punya nyali untuk bercermin.
Di dunia akademik, kita mengenal kebebasan. Bebas berpendapat. Bebas mengkritik. Tapi praktik di lapangan sering kali jauh panggang dari api. Pimpinan sering merasa dirinya adalah pemilik perusahaan. Padahal kampus adalah institusi publik. Institusi moral.
Kenapa harus mencari “koordinator”?
Logikanya begini: kalau manajemennya beres, kalau briefing-nya jelas, kalau dukungannya ada, tidak akan ada mosi. Orang itu ingin kerja tenang. Dosen ingin mengajar dengan nyaman. Tidak ada orang yang kurang kerjaan bikin mosi kalau perut dan hatinya tenang.
Mosi itu muncul karena ada sumbatan. Ada komunikasi yang mampet. Ada kebijakan yang dipaksakan tanpa diskusi. Singkatnya: manajemennya buruk. Tidak ada briefing. Tidak ada dukungan.
Lalu, ketika semua orang marah, pimpinan cari tumbal. Satu orang ditunjuk. Dituduh jadi provokator. Dituduh jadi koordinator. Biar apa? Biar yang lain takut. Biar yang lain tutup mulut.
Ini gaya lama. Gaya usang. Gaya yang tidak cocok lagi di zaman sekarang.
Seharusnya, kalau ada mosi, pimpinan duduk. Ajak bicara. Tanya apa yang salah. Perbaiki sistemnya. Bukan malah memecat orang yang menyuarakan kesalahan itu. Itu namanya membunuh pembawa pesan (killing the messenger).
Pemberhentian “Dengan Hormat” itu cuma bedak. Biar kelihatan santun. Tapi isinya tetap saja ketidakadilan. Itu cara halus untuk menyingkirkan orang yang dianggap mengganggu kenyamanan kursi kekuasaan.
Kita sering lupa. Kekuasaan itu ada batasnya. Jabatan itu ada umurnya. Tapi integritas itu abadi.
Dosen yang dipecat itu mungkin kehilangan meja kerjanya. Tapi dia tidak kehilangan kehormatannya. Justru pimpinan yang memecat itulah yang kehilangan wibawa. Di mata publik, dia terlihat lemah. Orang kuat itu berani dikritik. Orang lemah itu hanya berani memukul.
Saya melihat banyak sistem yang gagal bukan karena orangnya bodoh. Tapi karena manajemennya tidak mau mendengar. Mereka alergi pada kritik. Mereka merasa paling benar karena punya stempel dan tanda tangan.
Padahal, di balik mosi tidak percaya itu, ada harapan. Harapan agar institusi jadi lebih baik. Harapan agar keadilan ditegakkan. Kalau harapan itu dipangkas dengan surat pemecatan, maka habislah masa depan institusi tersebut.
Kita harus berani jujur. Kegagalan sistem jangan pernah dibebankan kepada individu yang mencoba memperbaiki sistem tersebut. Itu jahat. Itu tidak etis.
Dunia ini berputar. Hari ini Anda yang memecat. Besok lusa, sejarah yang akan memecat nama baik Anda.
Bagi dosen yang sedang berjuang, tetaplah tegak. Kebenaran mungkin kalah di meja birokrasi, tapi ia tidak akan pernah kalah di panggung sejarah.
Untuk para pimpinan, belajarlah mendengar. Mosi itu bukan musuh. Mosi itu adalah alarm. Kalau alarm berbunyi, jangan hancurkan alarmnya. Tapi cek, di mana ada api. Padamkan apinya, bukan rusak alat pengingatnya.
Hukum bisa saja melegitimasi pemecatan. Aturan bisa dicari-cari celahnya. Tapi hati nurani tidak bisa dibohongi. Masyarakat sudah pintar. Kita semua tahu, siapa yang sedang bermain drama dan siapa yang sedang memperjuangkan nasib.
Mari kita kembali ke jalur yang benar. Hormati pendapat. Perbaiki manajemen. Jangan jadikan kekuasaan sebagai alat untuk menindas mereka yang kritis. Karena pada akhirnya, institusi yang hebat dibangun dari rasa saling percaya, bukan dari rasa takut yang dipaksakan. *yas






