--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Politik Kantor dan Tumbal Karier

I Made Suyasa

Seorang eksekutif yang sedang berjalan menjauh dari sebuah papan pengumuman besar yang terang benderang dengan judul 'PENCAPAIAN HEBAT', dengan latar belakang kantor yang modern namun sepi, menyiratkan keputusan terhormat untuk meninggalkan kepalsuan.

Lokapalanews.id | Saya baru saja mendengar cerita ini dari seorang teman lama. Cerita klasik, yang seolah diulang-ulang di banyak kantor. Tempat Anda bekerja, tempat saya bekerja, tempat kita semua berusaha meniti karier.

Anda diangkat. Kepala Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Jabatan yang bagus, terlihat strategis, namanya keren sekali. Sebuah kesempatan, pikir Anda. Kemudian Anda mundur karena ada persekongkolan jahat untuk melaporkan Anda ke polisi hanya karena kasus candaan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Selama menjabat, Anda tidak pernah benar-benar tahu harus mengerjakan apa.

Kosong.

Briefing nihil. Dukungan manajerial nol besar. Ibaratnya, Anda diberi mobil balap, tapi tidak diberi kunci kontak. Atau lebih parah, mobilnya ada, bensinnya ada, tapi rodanya sengaja dikempeskan dari ruang sebelah.

Seorang pimpinan yang baik, yang jiwanya memang untuk membangun, akan menyediakan peta jalan. Memberi arahan, memberi mentor, memastikan Anda punya amunisi. Pimpinan yang picik? Mereka justru menyediakan lubang. Mereka memasang jebakan, berharap Anda jatuh terperosok, agar mereka punya alasan untuk menunjuk dan berkata, “Tuh, kan, dia memang tidak kompeten.”

Jelas, Anda dijebak. Dijadikan tumbal di altar sistem yang memang sudah buta.

Anda mundur. Pilihan terhormat dari seorang profesional yang tahu kapan harus berhenti memukul tembok. Untuk apa menghabiskan energi untuk hal yang sudah disabotase sejak hari pertama?

Lalu, drama itu dimulai. Drama yang selalu membuat saya – dan mungkin juga Anda – menggelengkan kepala.

Orang lain ditunjuk. Orang yang Anda tahu, mungkin malah tidak tahu apa-apa soal SPMI itu sendiri. Tapi aneh bin ajaib: Tiba-tiba dia berhasil. Dalam hitungan minggu, sistem berjalan. Dalam hitungan bulan, ada laporan gemilang.

Keberhasilan itu diumumkan dengan gemuruh. Di briefing pimpinan, di meja makan kantor, di mana-mana. Seolah menjadi bukti yang tak terbantahkan: Masalahnya bukan sistem yang busuk, masalahnya adalah Anda.

Narasi palsu ini, succes story yang mendadak ini, adalah tipu daya pimpinan yang paling rendah dan paling busuk.

Mereka gagal. Gagal memimpin, gagal mendukung, gagal menjalankan sistem yang sehat. Mereka adalah pembunuh sejati mutu organisasi. Tapi daripada mengakui kelemahan itu, mereka memilih membangun panggung untuk orang kedua. Mereka sengaja memberi briefing dan dukungan yang dulu sengaja mereka tahan dari Anda, hanya demi satu tujuan: Mengubur karier dan reputasi Anda di bawah tumpukan klaim keberhasilan palsu.

Baca juga:  Kantor atau Panggung Sandiwara?

Itu bukan keberhasilan. Itu success by deception. Keberhasilan yang dibangun di atas kejatuhan orang lain yang memang disengaja, direncanakan dengan rapi, tanpa nurani.

Coba kita lihat lebih jauh. Regenerasi tidak berjalan dengan baik.

Regenerasi yang macet adalah tanda organisasi sedang sakit parah. Pimpinan yang tidak menyiapkan pengganti, tidak melakukan transfer pengetahuan, dan tidak peduli pada succession planning, sejatinya tidak sedang membangun masa depan. Mereka sedang membangun koloni pengikut loyal. Mereka mencari ‘boneka’ yang mudah dikendalikan.

SPMI itu urusan mutu dan masa depan. Ketika urusan regenerasi untuk menjaga mutunya saja amburadul – di mana orang dibiarkan buta lalu ditumbalkan – bagaimana mungkin mutunya bisa terjamin? Itu hanya kamuflase.

Kita harus tahu apa yang harus kita yakini.

Kegagalan itu BUKAN kekurangan Anda.

Saya ulangi. Kegagalan itu adalah kegagalan sistem dan manajemen yang diperparah oleh kegagalan pimpinan dalam menyediakan briefing dan dukungan yang seharusnya. Mereka menggunakan Anda sebagai alibi untuk menutupi kegagalan struktural mereka sendiri. Mereka adalah pengecut.

Jadi, lepaskan beban itu. Mereka bisa membeli narasi. Mereka bisa menyewa juru bicara untuk mengumumkan kemenangan boneka mereka. Tapi mereka tidak bisa membeli fakta bahwa organisasi mereka sedang dipimpin oleh para pembuat perangkap, bukan pembangun sistem yang jujur.

Mereka yang seolah berhasil setelah Anda pergi, sejatinya hanya boneka. Mereka menerima tongkat estafet yang sudah diberi baterai penuh, setelah sebelumnya Anda yang diminta lari membawa tongkat yang kosong.

Jangan pernah biarkan mereka menanamkan rasa bersalah di benak Anda. Kita, sebagai profesional, wajib tahu kapan kita tidak gagal, melainkan sedang dikorbankan.

Hikmahnya, kita jadi tahu, siapa pemimpin sejati dan siapa pemelihara jebakan di kantor kita. Mundur dengan kepala tegak. Itu jauh lebih bermutu daripada “berhasil” dengan kepala menunduk. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."