--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Lidah Kering, Hidup Runtuh

Lokapalanews.id | Saya amati, ada cara hidup yang sangat unik di sekitar kita. Sebagian orang memilih jalur instan menuju puncak. Bukan lewat kerja keras. Bukan lewat karya. Tapi lewat “seni” menjilat.

Mereka membangun karier dan hidupnya di atas basa-basi. Di atas pujian yang berlebihan. Di atas sikap merendahkan diri demi mendapatkan posisi. Seolah-olah, satu-satunya keahlian mereka adalah menyenangkan orang yang berkuasa.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Mereka sukses. Untuk sementara.

Mereka mendapatkan jabatan. Mendapat uang. Punya akses ke lingkaran dalam. Semua itu diraih dengan satu modal: lidah yang basah.

Tapi, persoalannya, hidup yang dibangun di atas dasar seperti itu rapuh. Sangat rapuh. Seperti tumpukan pasir yang menunggu angin kencang datang.

Lidah itu bisa lelah. Kering. Situasi bisa berbalik. Orang yang dijilat, tiba-tiba hilang kekuasaannya. Lalu, apa yang terjadi?

Tiba-tiba, tumpuan hidup mereka hilang. Seluruh sandaran yang selama ini mereka pegang runtuh. Seperti bangunan tanpa pondasi.

Kenapa? Karena tidak ada yang lebih cepat ditinggalkan daripada “teman yang menjilat”. Orang-orang di sekitarnya tahu, dia tidak pernah tulus. Dia hanya datang saat ada “manfaat”. Begitu manfaat itu habis, dia pun ditinggalkan.

Voltaire, filosof Prancis, pernah mengatakan bahwa ketergantungan pada penjilatan sama dengan menggadaikan martabat. Dia benar. Kita bisa menjual harga diri demi kenyamanan sesaat. Tapi, saat kenyamanan itu hilang, kita tidak lagi punya apa-apa.

Pelajaran dari fenomena ini jelas: hidup yang kokoh itu dibangun di atas hal-hal yang tidak bisa dijualbelikan. Kejujuran. Keterampilan. Integritas.

Jalan ini mungkin tidak menjanjikan jalan pintas ke puncak. Kadang jalannya berkelok. Kadang mendaki. Tapi, pijakannya stabil.

Baca juga:  Ketika Pemimpin Bodoh dan Rakyat Buta

Sementara itu, mereka yang hidup hanya dengan menjilat, harus siap-siap. Siap-siap menunggu saat lidah mereka kering. Dan bersama itu, tamat pula seluruh sandaran hidupnya. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."