Lokapalanews.id | Telepon genggam saya berdering tiada henti. Bukan untuk urusan pekerjaan, apalagi basa-basi. Isinya cuma satu: “Saya butuh dukungan Anda.” Ia santer disebut akan dicalonkan menjadi pimpinan, ingin memastikan saya berdiri di belakangnya. Ia datang ke rumah, bicara di teras, sampai saya merasa tidak enak.
“Jabatan ini adalah impianku. Dengannya, kita bisa membuat perubahan,” katanya dengan mata berbinar. Saya tidak gila jabatan, saya tahu itu sebuah amanah. Tapi melihat ambisinya yang kuat, saya pun mengangguk, memberinya dukungan.
Ia berhasil. Jabatan itu kini di tangannya.
Topeng yang Terlepas
Awalnya, semua berjalan sesuai rencana. Senyum masih merekah. Janji-janji tentang kesejahteraan dan kebersamaan terus diucapkan. Namun, tak butuh waktu lama, topeng itu mulai terlepas.
Kata-kata kasar, kebijakan yang dibuat seenaknya, dan arogansi yang tak terukur. Ia kini berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Ia lupa, kekuasaan itu sejatinya ujian, bukan alat untuk memuaskan ego. Singa yang dulu tertidur, kini bangun. Mengaum, memamerkan taringnya, seolah dunia ini miliknya.
Hati nurani saya mulai terganggu. Di sinilah pertarungan sesungguhnya terjadi. Bukan soal target atau angka di laporan. Tapi soal prinsip. Apakah saya harus diam, menjadi bagian dari “gangguan” itu? Menjadi roda yang ikut memutar mesin yang salah? Atau, saya harus memilih jalan yang lebih sunyi?
Saya memilih jalan kedua. Saya mundur.
Harga Sebuah Integritas
Banyak yang bertanya, “Kenapa mundur?” Saya hanya tersenyum. Bagi saya, lebih baik melepas status daripada kehilangan integritas.
Jabatan itu datang, dan bisa pergi. Mungkin hari ini kita di atas, besok sudah di bawah. Tapi ada satu hal yang tidak boleh pergi: harga diri, kejujuran, dan hati nurani. Itu aset yang tidak bisa dibeli dengan jabatan setinggi apa pun. Itu harga yang terlalu mahal untuk digadaikan. *yas






