Lokapalanews.id | Dosen yang berpendidikan doktor dan sudah mengabdi minimal lima tahun akan diberikan tunjangan Rp 500 ribu per bulan. Demikian pengumuman yang beredar di salah satu perguruan tinggi swasta. Kado istimewa untuk segelintir orang, tapi seperti duri bagi mereka yang gajinya masih jauh dari standar hidup layak.
Saya ikut garuk-garuk kepala. Logika apa yang sedang dipakai? Di satu sisi, kita punya pegawai yang gajinya habis bahkan sebelum tanggal tua. Mereka bertarung dengan harga beras, cicilan motor, dan uang sekolah yang terus merangkak naik. Napas mereka tersengal setiap awal bulan. Di sisi lain, muncul tunjangan setengah juta, hanya untuk sebuah gelar.
Ini bukan soal anti-ilmu. Bukan benci pada orang pintar. Sama sekali tidak. Doktor itu penting. Perlu. Tapi apakah ‘penting’ itu harus dibangun di atas puing-puing ketidakadilan? Apakah kecerdasan harus diukur dari seberapa besar luka yang ditimbulkan pada yang lain?
Mereka yang membuat kebijakan ini mungkin berpikir: “Ini untuk menarik talenta.” Alasan yang klasik. Tapi, apakah kita lupa, bahwa sebelum mencari yang baru, kita harus menjaga yang sudah ada? Membangun istana di atas fondasi yang retak sama saja dengan menunggu waktu untuk runtuh. Keretakan itu bernama ketidakadilan.
Keadilan itu fondasi moral. Tanpa itu, semangat kerja ambruk. Karyawan akan mulai bertanya dalam hati, “Kerja keras saya selama ini dihargai berapa? Pengorbanan saya ini sebanding dengan apa?” Pertanyaan itu tidak butuh jawaban lisan. Ia akan menjawab sendiri lewat penurunan produktivitas, hilangnya loyalitas, dan lambat laun, mereka akan pergi mencari tempat yang tidak menganggap mereka sebagai ampas.
Kita butuh orang pintar, butuh inovasi, butuh terobosan. Ya, benar. Tapi apakah kecemerlangan seorang doktor harus meredupkan semangat mereka yang setiap hari bekerja keras di barisan paling depan? Apakah kita rela mengorbankan ribuan semangat demi beberapa gelar?
Cari Jalan Tengah yang Adil
Apakah tunjangan doktor itu harus dihilangkan? Tidak juga. Tapi, mari kita lebih cerdas. Sebelum mengeluarkan “kado” mahal, bukankah lebih baik kita pastikan dulu, apakah gaji pokok semua pegawai sudah layak? Apakah mereka sudah bisa tersenyum saat menerima slip gaji, bukan malah menghela napas?
Jika ada dana, kenapa tidak didahulukan untuk menaikkan gaji pokok seluruh pegawai secara merata? Atau, berikan tunjangan kinerja yang adil. Yang dirasakan semua, bukan cuma segelintir orang dengan gelar tertentu.
Organisasi itu seperti sebuah tim. Butuh kapten yang cerdas, tapi juga butuh pemain-pemain di lapangan yang merasa dihargai. Merasa setara. Jika tidak, jangan heran jika nanti ada yang bilang: “Ah, gelar itu cuma pemanis bibir. Yang kerja keras, yang keringetan, justru yang terpinggirkan.”
Sungguh miris, dan sayangnya, seringkali itu adalah kenyataan. *yas





