--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Malu, Bali Gagal Kelola Sampah

Wayan Supadno

Lokapalanews.id | Berikut ini kisah nyata kaya ilmu hikmahnya, tentang cerita para sahabat di Banyuwangi, Jember dan Jakarta yang merantau di Bali. Keluhannya macet, tidak aman dan paling ekstrem hal sampah di mana – mana.

Seolah para pemimpin Bali, formal maupun non formal “tidak mampu” lagi mengatasi sampah yang sudah jadi “berita mendunia”. Padahal Bali dikenal Pulau Dewata. Satu – satunya di dunia. Sakral.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya dulu tahun 1984 sd 1987, saat studi di SMA Negeri 1 Singaraja Bali. Bangga sekali, karena sangat harum nama Bali. Tiap kali kenalan dengan orang baru, selalu dapat pujian bahwa masyarakat Bali hebat.

Banyak tokoh kelas dunia terlahir di Bali. Banyak masyarakat transmigrasi asal Bali juga mengharumlan nama besar Bali. Bahkan banyak buku berkisah bahwa masyarakat Bali sangat ramah, jujur hingga tiada kasus pencurian.

Yang membuat haru. Bali dikenal sebagai sentra umat Hindu. Sejarahnya dominan pelarian saat Majapahit bubar. Bali yang sangat toleran tapi agamis terapan. Bukan cuma hafalan teori saja. Tiap hari kita saksikan di tengah masyarakat Bali.

Pendek kata, kalau mutu masyarakat Bali jangan diragukan lagi. “Tapi itu dulu”. Beda dengan beberapa tahun ini. Entah kenapa banyak pergeseran dan bahkan mengalami degradasi. Turun mutunya masyarakat Bali. Karena sampah saja. Malu.

Jika saya ditanya, siapa yang salah?

Para Pemimpin Bali. Formal, maupun non-formal. Kebanyakan “meboya”, istilah masyarakat Buleleng. Kebanyakan narasi janji. Kebanyakan ingkar. Lupa bumi. Lupa ajaran Tri Kaya Parisudha, pikiran ucapan dan praktik mestinya selaras.

Lupa bahwa Bali adalah titipan Leluhurnya yang harus makin “Ajeg Bali”. Silau fatamorgana saja. Makanya Hindu mengajarkan Tri Hita Karana agar taqwa kepada Sang Hyang Widhi, sayang kepada sesama dan menjaga kelestarian lingkungan.

Baca juga:  Menjelang Hari Perempuan Pembela HAM Sedunia, UNDP dan Komnas Perempuan Tekankan Pentingnya Dukungan bagi Perempuan di Garis Depan Isu Iklim dan HAM

Mohon maaf, saya menulis ini karena dasarnya rasa “cinta pekat” kepada Bali. Saya tahu diri bisa seperti saat ini karena banyak campur tangan bantuan orang – orang Bali yang baik – baik semua. Itu empirik pengalaman saya pribadi.

Saya sangat merindukan Bali, kembali bersih aman dan banyak hal seperti yang saya lihat dulu. Seperti kisah nyata yang positif, hingga dinarasikan oleh seluruh masyarakat dunia yang puas bila berwisata ke Bali.

Bali punya banyak pemimpin hebat. Banyak Ilmuwan hebat. Apa sulitnya menyisihkan anggaran APBD untuk meniru/latah atas kebaikan Pemkab Banyumas dalam mengelola sampah ?

Ingat, bahwa gelas akan terasa “sangat bermanfaat” bila sudah terlanjur retak atau pecah. Begitu juga nama harum Bali. Akan jadi “sesal lekat”, jika telah sirna. Apalagi hanya karena gagal kelola sampah saja. Hmmm. Malulah. Saatnya mawas diri. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."

Respon (1)

  1. Saya belajar membiasakan diri kelola sampah mandiri sejak kecil atas pendidikan orang tua yg keras, kini saya kelola sampah organik jadi pupuk di kebun sayur, dan secara sukarela membersihkan sampah plastik meskipun dibuang orang lain.
    Semoga kita semua ikut peduli Ibu Pertiwi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *