--- / --- 00:00 WITA
Ekbis  

Ekonomi Indonesia ‘Cawan Suci’ Asia, Inflasi Stabil, FDI Naik

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar sebelum konferensi pers hasil rapat KSSK di Jakarta, Senin (3/11/2025).

Lokapalanews.id | Jakarta – Performa makroekonomi Indonesia kembali menjadi sorotan positif di tengah ketidakpastian global, menunjukkan disiplin kebijakan fiskal dan moneter yang matang. Analisis ini dikonfirmasi oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) dan pandangan dari Shan Saeed, Chief Economist Juwai IQI Global.

Data BPS per November 2025 menunjukkan inflasi harga konsumen utama (IHK) tercatat 2,86 persen secara tahunan (Year on Year/YoY) dan 2,10 persen secara tahun kalender (Year to Date/YtD). Angka moderat ini berada dalam kisaran target 2 persen–3 persen, yang menurut Saeed, adalah bukti efektivitas kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan pengelolaan fiskal yang terukur.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Pertumbuhan Solid dan Kepercayaan Pasar
Kombinasi inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang solid disebut Shan Saeed sebagai “cawan suci” dalam manajemen makroekonomi modern. Indonesia diproyeksikan mencatat pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,0 persen hingga 5,8 persen pada akhir tahun 2025, menjadikannya salah satu ekonomi berkembang paling tangguh di Asia.

Sinergi antara pemerintah dan otoritas moneter ini juga tercermin dari kinerja pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren positif, naik sekitar 7,5 persen secara tahunan dan mencapai kisaran 8.272 poin, mencerminkan kepercayaan investor yang konstruktif terhadap stabilitas makro Indonesia.

Arus FDI dan Kredibilitas Kebijakan
Daya tarik ekonomi Indonesia diperkuat oleh arus Investasi Asing Langsung (FDI) yang kuat. Pada 2024, FDI mencatatkan arus masuk bersih sekitar USD24,1 miliar, menjadikannya pilar penting transformasi struktural.
Sektor penerima investasi menunjukkan diversifikasi sehat, dengan industri logam dan mesin menyerap sekitar 23,4 persen, diikuti telekomunikasi dan transportasi 11,2 persen, kimia dan farmasi 9,6 persen, serta pertambangan 9,4 persen.

Baca juga:  Prabowo: Persatuan Kunci Indonesia Jadi Negara Terkaya

Struktur ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam rantai nilai global.
“Momentum ini memperkuat reputasi Indonesia sebagai magnet bagi modal berkualitas, didukung oleh arsitektur kebijakan reformis dan kedalaman institusional,” tambah Saeed.

Kredibilitas kebijakan yang kuat, bonus demografi, dan komitmen transisi energi adalah faktor utama yang menjaga minat investor global.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan bahwa ekonomi triwulan II-2025 tumbuh solid 5,12 persen (YoY). Indikator lain, seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di level 115 dan realisasi investasi langsung sebesar Rp1.434 triliun sepanjang Januari–September 2025 (naik 13,7 persen YoY), semakin memperkuat optimisme terhadap prospek ekonomi nasional.
*R101

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."