Lokapalanews.id | Saya baru saja membaca pesan WhatsApp dari seorang kawan lama, seorang profesor di salah satu perguruan tinggi. Dia curhat, bukan soal IPK mahasiswa yang anjlok, tapi soal oli moral yang kering di mesin kampusnya.
Awalnya saya kira dia bercanda. Bagaimana mungkin kampus, tempatnya para cerdik pandai, bisa kering moral? Bukankah di sana ada dosen yang idealismenya setinggi langit, dan mahasiswa yang kritisnya minta ampun?
Tapi dia mengirimkan sebuah foto. Bukan foto ruang kuliah yang bersih, melainkan foto tumpukan berkas yang ditata rapi – hanya untuk difoto. “Ini dokumen akreditasi, Pak,” katanya. “Di atas kertas, semua sempurna. Data keuangan teratur. Jargon ‘unggul’ di mana-mana. Tapi di balik semua itu, kita hidup di panggung teater, bukan di ruang akademik.”
Kita semua tahu, panggung teater itu bagus di depan. Lampu sorotnya gemerlap, tirainya mahal, semua tampak indah. Tapi kalau Anda berani mengintip di belakang tirai, Anda akan menemukan reruntuhan, kabel-kabel kusut, dan suasana yang sumpek. Nah, kampus ini persis seperti itu.
Apa yang terjadi di balik tirai? Tata kelola buruk adalah penyakit utamanya.
Kampus yang seharusnya jadi benteng kebebasan berpikir, malah dikuasai gaya feodalisme baru. Pimpinannya bukan lagi bapak atau ibu rektor, tapi semacam penguasa kecil yang haus legitimasi. Mereka tidak menuntut profesionalisme, apalagi integritas. Yang mereka minta hanya satu loyalitas penuh.
Anda kompeten? Bagus. Tapi kalau Anda kritis dan tidak loyal pada ‘raja kecil’ itu, bersiaplah disingkirkan. Bukan dengan cara kasar, melainkan cara halus yang menusuk: lewat mekanisme administratif yang kelihatan sah. Mereka bungkus ini semua dengan istilah keren: “efisiensi” atau “optimalisasi sumber daya.”
Makna di lapangannya? Sederhana: pemangkasan hak, pengabaian kesejahteraan, dan pembungkaman inisiatif. Pegawai menanggung beban kerja berat, gajinya begitu-begitu saja. Dosen disuruh mati-matian bikin publikasi, tapi fasilitasnya ala kadarnya.
Mahasiswa? Jangan harap bisa kritis. Aspirasi mereka tenggelam di antara rapat birokrasi dan narasi indah yang disiapkan untuk menteri. Akhirnya, dosen muda memilih bungkam, pegawai pasrah, dan mahasiswa dicap pembuat gaduh. Suasana akademik mengering, persis seperti sawah di musim kemarau.
Bohong Demi Peringkat
Coba kita bicara soal akreditasi. Akreditasi itu sebenarnya alat. Alat untuk mengukur dan memperbaiki mutu. Tapi di tangan para pemimpin yang sedang sakit moral ini, akreditasi sudah berubah total jadi tujuan.
Setiap kali tim asesor datang, kampus berubah drastis. Ruangan dicat. Dokumen dipoles. Narasi kesuksesan dihafal seperti naskah sandiwara. Dosen diinstruksikan untuk “bicara positif”. Mahasiswa tahu harus menjawab sesuai skrip.
Begitu asesor pulang? Kembali ke pola lama. Sepi. Busuk.
Kampus tak lagi menatap cermin untuk melihat cacatnya, melainkan hanya untuk memastikan bayangannya terlihat sempurna di mata penilai. Inilah kebohongan kelembagaan yang paling sistemik: laporan rapi menutupi realitas yang berantakan. Mereka berlari kencang, mengejar nilai akreditasi, peringkat webometrik, dan sertifikasi ISO, tapi sebenarnya hanya berputar di tempat.
Masalah utama pendidikan tinggi kita hari ini, menurut saya, bukan kekurangan dana. Tapi krisis moral di pucuk pimpinan. Para pemimpin lebih sibuk membangun reputasi diri ketimbang membangun kesejahteraan sivitas akademika. Semua keputusan diambil dengan pertimbangan politis, bukan akademis.
Kejujuran adalah Keunggulan Sejati
Dulu, saya selalu percaya kampus adalah tempat mencari kebenaran, menghargai kritik, dan menjunjung tinggi integritas.
Jika kita terus begini, laporan lebih penting daripada kenyataan, dan loyalitas lebih berharga daripada integritas, maka pendidikan tinggi hanya akan melahirkan satu generasi, yaitu generasi yang lihai mengakali sistem, bukan memperbaikinya.
Sudah saatnya kampus-kampus ini berhenti menipu diri. Mutu sejati itu bukan lahir dari secarik sertifikat “Unggul”, tapi dari keberanian menatap wajah sendiri dan mengakui cacatnya.
Sejarah tidak akan mencatat kampus mana yang paling banyak mendapat nilai A. Tapi, sejarah akan selalu mengingat kampus yang paling berani jujur pada dirinya sendiri. *yas





