Lokapalanews.id | Saya kalau bepergian ke luar kota, selalu penasaran dengan pabrik-pabrik besar yang saya lewati di pinggir tol. Apalagi kalau melihat cerobong asapnya yang mengepul – pasti pabriknya sedang full power memproduksi. Begitu pula saat saya melintas di sekitar Gresik, Jawa Timur, beberapa hari lalu, pikiran saya langsung tertuju: daerah ini benar-benar pusat industrialisasi, dari semen sampai otomotif.
Tapi, begitu kita bicara industrialisasi, muncul satu pertanyaan mendasar: Di mana peran kampusnya?
Bukankah aneh, jika di satu sisi ada pabrik raksasa yang butuh solusi teknis, dan di sisi lain ada kampus yang punya ribuan profesor, tapi keduanya berjalan seperti dua rel kereta yang tidak pernah bertemu?
Inilah yang menurut saya jadi benang merah dari pesan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, saat meresmikan Universitas Sunan Gresik (USG) dan berbicara tentang penguatan perguruan tinggi swasta (PTS) di Jawa Timur.
Menteri Brian bilang begini, “Perguruan tinggi adalah pusat pertumbuhan di Indonesia. Sejatinya, kampus memiliki program-program yang sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi.” Kata kuncinya: pusat solusi.
Selama ini, banyak kampus yang hanya sibuk menjadi “pabrik ijazah”. Menerima mahasiswa, mengajar teori di kelas, lulus, lalu goodbye. Padahal, tantangan ekonomi dan geopolitik yang kita hadapi sekarang ini begitu berat. Siapa yang harus menjawab tantangan ini kalau bukan kampus?
Menteri Brian mendorong agar riset di kampus tidak lagi menjadi kegiatan akademis yang berakhir di lemari perpustakaan. Riset harus berbasis pada masalah nyata yang dihadapi industri dan masyarakat.
Kita ambil contoh USG ini. Rektornya, Abdul Muhith, lapor bahwa mereka berhasil menarik 2.873 mahasiswa baru. Angka itu bagus. Tapi yang lebih hebat, USG sudah menjalin kerja sama – MoU – dengan 60 perusahaan besar di Gresik untuk menampung lulusan mereka dalam program pelatihan enam bulan.
Ini langkah gesit yang patut kita acungi jempol! Kampus ini sadar, ijazah saja tidak cukup. Lulusan harus siap “dipakai” oleh pabrik di sampingnya. Kampus tidak boleh lagi menjadi menara gading yang jauh dari realitas industri.
Ini yang seharusnya dicontoh PTS lain. Jangan hanya bergantung pada iuran mahasiswa. Kampus harus menciptakan ekosistem saling menguntungkan. Industri butuh solusi efisiensi energi? Kampus siapkan risetnya. Masyarakat butuh cara meningkatkan hasil panen? Dosen buatkan teknologinya. Kampus dapat dana riset, industri dapat jawaban, mahasiswa dapat pengalaman riil. Win-win solution!
Menteri Brian mengapresiasi langkah USG sebagai motor penggerak industrialisasi dan SDM unggul. Saya ingin menambahkan: Peran Kementerian Dikti sekarang adalah memotong semua pita birokrasi agar dosen dan peneliti bisa bebas bergerak menjadi problem solver sejati.
Jika kampus-kampus kita, baik negeri maupun swasta, bisa sepenuhnya bertransformasi menjadi pabrik solusi alih-alih sekadar pabrik ijazah, maka kita tidak perlu khawatir soal daya saing bangsa. Daya saing itu lahir dari inovasi, dan inovasi lahir dari kampus yang berani kotor, berani keluar dari kelas, dan berani menantang masalah. Jangan jalan di tempat! *






