Lokapalanews.id | Di tengah derasnya arus globalisasi, perguruan tinggi di Indonesia dihadapkan pada dilema besar. Impian untuk masuk dalam jajaran “World Class University” (WCU) seringkali terfokus hanya pada peringkat internasional. Seolah, martabat sebuah perguruan tinggi diukur dari posisinya pada tabel-tabel pemeringkatan. Padahal, menjadi perguruan tinggi kelas dunia harus jauh lebih dari sekadar menempati posisi atas. Ia bukan menara gading yang hanya mengejar angka, tetapi pusat riset, inovasi, dan pembentukan karakter.
Esensi dari perguruan tinggi berkelas dunia sejati adalah memiliki kualitas unggul dan diakui secara global, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai lokal. Kesuksesan tidak diukur hanya oleh “berapa ranking”-nya, melainkan seberapa besar dampak dan relevansi bagi masyarakat dan bangsa. Obsesi pada peringkat berpotensi menggerus identitas dan kekhasan yang justru menjadi modal penting dalam menghadapi persaingan global yang homogen.
Data terkini menunjukkan kemajuan, namun juga mengungkap kelemahan fundamental. Berdasarkan SCImago Institutions Rankings (SIR) 2024, Universitas Indonesia (UI) menempati posisi pertama di Indonesia, dengan peringkat global yang meningkat signifikan dari sekitar 629 ke 457. Ini adalah pencapaian luar biasa yang menunjukkan potensi besar. UI juga menduduki peringkat pertama untuk indikator penelitian (research performance), serta memiliki skor tinggi di indikator inovasi dan dampak sosial (societal impact).
Namun, di balik kebanggaan ini, tersembunyi tantangan serius. Meskipun jumlah publikasi ilmiah di Indonesia meningkat tajam, skor sitasi – seberapa sering karya tersebut dikutip oleh peneliti lain – masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan universitas terkemuka di Asia dan dunia. Fenomena ini yang dikenal sebagai middle ranking trap, menggambarkan kondisi di mana kita cukup kompetitif di dalam negeri atau regional, namun masih jauh dari pencapaian global yang paripurna. Kita produktif secara kuantitas, tetapi belum kuat secara kualitas dan pengaruh.
Untuk keluar dari jebakan tersebut, dibutuhkan transformasi yang mendalam dan berani. Peran pemimpin perguruan tinggi – mulai dari rektor, dekan, hingga direktur riset – harus berubah total. Mereka tidak hanya berperan sebagai pengelola administratif, melainkan sebagai visioner yang mampu menggerakkan semua pihak (dosen, mahasiswa, staf) ke arah inovasi berkelanjutan. Pemimpin harus memiliki strategi jangka panjang, yang berani mengambil keputusan sulit, dan mampu menginspirasi seluruh civitas akademika untuk berkolaborasi dan berkreasi. Kepemimpinan yang kuat akan menjadi lokomotif utama yang mendorong perubahan budaya.
Budaya akademik harus bergeser dari sekadar kewajiban tri dharma menjadi gairah untuk menemukan hal baru. Dosen dan mahasiswa harus diberi ruang, dukungan, dan insentif untuk melakukan riset berkualitas tinggi, bukan sekadar memenuhi kuota publikasi. Penguatan ini juga harus menyentuh ranah tata kelola: jurnal-jurnal kampus harus didorong untuk mencapai standar internasional, dengan proses peer review yang ketat, kolaborasi lintas disiplin, keterbukaan data, dan relevansi terhadap isu lokal maupun global.
Contoh nyata datang dari Fakultas Teknik UI (FTUI) yang berhasil meraih posisi pertama di Indonesia dalam SIR 2023 untuk beberapa kategori teknik, seperti Building and Construction. Keberhasilan ini tidak lepas dari fokus strategis dan investasi pada bidang-bidang unggulan. Demikian pula dengan Universitas Ahmad Dahlan, yang berhasil menjadi perguruan tinggi swasta terbaik di kategori penelitian dalam SIR 2023, menunjukkan bahwa komitmen pada riset tidak terbatas pada universitas negeri papan atas.
Di era disrupsi digital dan kemunculan Kecerdasan Buatan (AI) membawa perubahan yang tak terhindarkan. Dunia pendidikan tinggi harus beradaptasi agar lulusan tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan masa depan. Kurikulum harus adaptif, memasukkan keahlian teknis terkini (data science, machine learning, etika AI, literasi digital) sekaligus memadukannya dengan kepekaan budaya dan karakter lokal.
Perguruan tinggi harus menjadi penghubung antara ilmu di menara gading dan kebutuhan riil di masyarakat. Kerjasama dengan industri, lembaga pemerintah, dan komunitas menjadi keharusan, untuk memastikan riset menghasilkan manfaat nyata. Sebagaimana yang dilakukan oleh UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berhasil mengantarkan tiga jurnal ilmiahnya ke dalam peringkat SJR/Quartile yang baik (Q1 dan Q2) pada 2024. Ini adalah bukti bahwa strategi penguatan publikasi internasional dan kualitas editorial dapat membawa hasil nyata.
Relevansi pendidikan tinggi bukan hanya soal daya saing global, tetapi juga soal siapa kita sebagai bangsa. Lulusan harus berakar pada budaya, nilai, bahasa, sejarah, dan identitas bangsa, agar mereka mampu berkontribusi tidak hanya di luar negeri, tapi juga memperkuat masyarakat lokal. Perguruan tinggi harus menjadi ruang pemeliharaan nilai-nilai seperti toleransi, keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, serta kesadaran akan kemajemukan Indonesia.
Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan strategi yang seimbang, antara pencapaian global dan pemeliharaan nilai-nilai lokal. Ini bisa diwujudkan dengan (1) Menetapkan visi & misi yang jelas: Hindari permainan “skor peringkat” yang seringkali mengubah arah visi. Perlu visi jangka panjang yang mencakup riset, masyarakat, dan karakter. (2) Fokus pada bidang unggulan: Alokasikan sumber daya kuat pada beberapa bidang keilmuan yang akan diunggulkan, jangan menyebar tipis. (3) Publikasi berkualitas & sitasi: Dorong publikasi di jurnal-jurnal bereputasi tinggi dan tingkatkan kolaborasi internasional. (4) Internasionalisasi yang terarah: Bangun jejaring, pertukaran mahasiswa dan dosen, dan program double degree, namun pastikan konteks lokal tetap terjaga. (5) Penguatan soft-skill & karakter: Tanamkan nilai kepemimpinan, etika, pendidikan kewarganegaraan, dan kepedulian sosial. (6) Kebijakan nasional yang mendukung: Pastikan regulasi, pembiayaan, dan pengakuan terhadap karya dosen/mahasiswa sejalan dengan tujuan strategis.
Kesimpulannya, menjadi perguruan tinggi berkelas dunia bukan semata soal nama di peringkat global. Ini tentang membangun institusi riset yang kuat, relevan, berdaya saing global, serta tetap menghormati akar budaya dan identitas bangsa. Peringkat bisa menjadi indikator dan motivator, tapi bukan tujuan akhir. Strategi yang seimbang akan menjadi penentu sejati bagi perguruan tinggi Indonesia yang ingin berdiri sejajar dengan perguruan tinggi papan atas dunia. *






