Lokapalanews.id | Pernah Anda menemukan sosok yang paling vokal, paling ‘moralis’ di grup-grup WhatsApp? Retorikanya berapi-api, komentarnya paling kritis. Seolah-olah, dialah pemegang saham mayoritas integritas di sana. Setiap isu dibahas tuntas, setiap ketidakadilan dikritik tajam. Semua orang mengangguk-angguk.
Mereka percaya.
Dan percaya adalah kata yang paling berbahaya.
Karena di balik topeng pahlawan itu, tersembunyi karakter yang jauh lebih usang: Sengkuni modern.
Anda pikir karakter terburuk itu adalah koruptor? Bukan. Mereka yang terang-terangan korup itu gampang dibaca. Yang paling berbahaya adalah manusia bermulut manis, yang diam-diam menikmati kehancuran.
Sengkuni modern bukan sekadar berteori tentang kepedulian. Mereka mempraktikkannya, setidaknya di depan layar gawai. Mereka yang paling lantang menyuarakan solidaritas. Yang paling gigih menggalang dukungan. Kepercayaan yang mereka dapatkan bukan dari bukti nyata, melainkan dari sandiwara yang mereka lakonkan dengan sangat apik.
Sampai akhirnya, sesuatu yang sensitif dibicarakan. Sesuatu yang seharusnya hanya untuk konsumsi internal.
Saat itulah topeng itu jatuh.
Mereka, yang paling lantang berjanji untuk menjaga rahasia, justru menjadi yang pertama membocorkannya. Memutarbalikkan fakta. Menjadikan informasi sensitif sebagai alat tawar-menawar. Kepercayaan itu bukan lagi aset, melainkan komoditas. Untuk apa? Jabatan? Uang? Atau sekadar sensasi melihat orang lain menderita?
Tindakan Mereka Adalah Cermin Jiwa yang Kosong
Mengapa mereka melakukannya? Pertanyaan itu jawabannya sesederhana: jiwa yang kosong butuh pengakuan.
Mereka mengkhianati bukan karena terpaksa. Mereka mengkhianati karena itulah satu-satunya cara mereka merasa penting. Mereka butuh validasi, butuh melihat kekacauan yang mereka ciptakan, agar merasa punya kuasa.
Maka, pelajaran terpenting bukanlah tentang bagaimana menghakimi mereka. Tetapi bagaimana kita belajar membedakan.
Berhenti terbuai oleh kata-kata.
Lihatlah tindakan. Dan lebih penting lagi, lihat motif di balik tindakan itu.
Bangunlah sistem kepercayaan yang kuat. Yang tidak bergantung pada satu sosok, tetapi pada nilai yang dipegang bersama. Karena di dunia yang penuh sandiwara, Sengkuni modern adalah pengingat bahwa tidak semua yang bersuara lantang adalah kawan sejati. Mereka adalah parasit yang merusak dari dalam, dan kehancuran yang mereka timbulkan jauh lebih dalam daripada sekadar bocornya sebuah rahasia. *yas






