--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Saat Kursi Jadi Kuburan Hati

Lokapalanews.id | Jabatan itu ujian. Begitu kata orang bijak. Bukan hadiah, apalagi berkah. Tapi seringnya, ia memang jebakan. Bikin lupa siapa kita, dari mana kita berasal, dan siapa yang dulu berdiri di samping kita, saat kita belum punya apa-apa.

Ada cerita yang membuat saya prihatin dan geleng-geleng kepala dari seorang guru. Kepada muridnya.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Guru yang sudah 41 tahun mengabdi. Empat puluh satu tahun! Bayangkan. Sudah berapa rezim berganti, berapa kurikulum direvisi, berapa angkatan yang sudah ia bimbing. Ia saksi hidup sejarah lembaga itu.

Namanya tiba-tiba lenyap dari jadwal mengajar. Padahal, surat perpanjangan sudah ia kantongi. Ia terombang-ambing tanpa status. Semester sudah mulai. Ia tak menyesal soal uang. Honornya, cuma Rp 50 ribu per kehadiran. Jauh dari kata layak. Tapi ia bertahan. Bukan demi uang, tapi demi panggilan jiwa. Demi anak-anak yang ia cintai.

Lalu ia melihat sekeliling. Murid-muridnya yang dulu ia bimbing, kini naik tahta. Duduk di kursi empuk. Menikmati “kue” yang dulu mereka perjuangkan bersama. Dan yang paling menyakitkan, ia melihat salah satu dari mereka, mantan anak didiknya, yang kini jadi pejabat, justru ikut membiarkan ketidakadilan itu terjadi.

Ia tumpahkan kekecewaannya lewat pesan WhatsApp. “Apakah salah jika saya bertanya kepada orang yang sudah saya anggap sebagai adik?” tanyanya. “Apakah salah jika saya berharap sedikit saja empati?”

Sunyi.

Tak ada balasan. Bahkan sekelebat emoji pun tidak. Seolah-olah, jabatan itu sudah jadi jurang tak terlihat yang memisahkan mereka. Ia sadar, mantan muridnya itu kini punya dunia baru. Dunia penuh penjilat yang setiap pagi menyodorkan cangkir teh dan senyum palsu. Dunia yang sibuk dengan agenda dan rapat-rapat penting, yang tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk membalas pesan dari seorang guru tua yang hatinya terluka.

Baca juga:  Benteng Komunikasi Keluarga, Jawaban Atas Radikalisasi Anak Lewat Game Online

Saya jadi mikir, apa sih yang kita cari dalam hidup ini? Kekuasaan? Kekayaan? Pengakuan? Semua itu fana. Mereka datang dan pergi. Suatu hari, kursi itu akan kosong. Lampu-lampu kantor akan padam. Dan yang tersisa hanyalah bayangan kita sendiri. Bayangan dari semua keputusan yang kita ambil. Bayangan dari semua hati yang kita sakiti.

Apa yang terjadi pada sang guru adalah cermin kegagalan kita sebagai manusia. Kegagalan kita untuk mengingat jasa. Kegagalan untuk membalas budi. Ia adalah “alpaka guru” yang paling tragis. Bukan hanya si murid yang berkhianat, tapi juga sebuah sistem yang membiarkan hal itu terjadi. Sistem yang membuat orang-orang berani melupakan siapa mereka sebenarnya.

Saya hanya berharap, di tengah segala kesibukan dan kemewahan itu, sang pejabat sesekali berhenti. Hening sejenak. Dan bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah semua ini sepadan?” Apakah kursi itu sepadan dengan hati yang telah ia lukai?

Hati yang dulu pernah jadi tempatnya berteduh. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."