--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Ketika Mahkota tak lagi di Kepala

Lokapalanews.id | Kursi. Benda mati ini bisa punya kekuatan luar biasa. Ia bisa mengubah orang, membuat sebagian merasa penting, dan sebagian lagi terperangkap di dalamnya. Di setiap sudut kota, selalu ada kisah tentang kursi. Kursi jabatan. Kursi kekuasaan. Ada yang berebut, ada yang bertahan mati-matian, dan ada yang dengan ikhlas melepaskannya. Tetapi, ada satu hal yang sering terlewat: apa yang terjadi setelah kursi itu kosong? Terutama bagi mereka yang terlalu lama duduk di sana.

Beberapa hari lalu, saya bertemu seorang kawan lama. Dia dulunya orang hebat, jabatannya mentereng. Kalau dia bicara, semua orang diam. Keputusannya tak terbantahkan. Begitu pensiun, dia menghilang. Bukan karena dia sengaja bersembunyi, tapi entah kenapa, sorotan itu tiba-tiba padam.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Kemarin, dia cerita. Awalnya, dia merasa lega. Bisa tidur lebih nyenyak, tak lagi pusing memikirkan masalah kantor. Tapi lama-lama, ada yang aneh. Telepon jarang berdering. Pertemuan yang dulu padat jadwal, kini kosong melompong. Bahkan ketika dia mencoba menghubungi bawahan lamanya, mereka sibuk.

Dia tak marah. Dia hanya bingung. “Rasanya seperti hidup di dunia yang berbeda,” katanya, sambil tersenyum kecut. “Dulu, saya yang dicari. Sekarang, saya yang harus mencari.”

Ini namanya post-power syndrome. Sebuah kondisi psikologis yang menyerang mereka yang kehilangan kekuasaan. Bukan hanya soal jabatan, tapi juga soal identitas. Bagi banyak orang, terutama mereka yang punya sedikit sifat narsistik, jabatan itu bukan hanya pekerjaan. Itu adalah diri mereka. Mahkota yang melekat di kepala.

Ketika mahkota itu dilepas, cermin pun pecah. Mereka melihat diri mereka bukan lagi sebagai “Pak Direktur” atau “Ibu Kepala”, tapi hanya sebagai “dia yang pernah menjabat”. Dan itu, bagi sebagian orang, adalah kenyataan yang pahit.

Baca juga:  Ketika Utang Melahirkan Pemimpin 'Berbakat' Sandiwara

Bukan salah mereka, juga bukan salah orang lain. Ini hanya transisi. Transisi dari “di atas” menjadi “di tengah”. Dari “penting” menjadi “biasa”. Dari “suara yang didengar” menjadi “satu di antara banyak suara”.

Pelajaran dari kawan saya itu sederhana. Kekuasaan itu seperti embun pagi. Indah, berkilau, tapi sebentar. Ia akan menguap. Yang tersisa adalah karakter kita. Seberapa kuat kita berdiri tanpa embun itu. Seberapa berharga kita, bukan karena jabatan kita, melainkan karena siapa kita sebenarnya.

Mungkin, ada baiknya kita mulai berpikir dari sekarang. Siapa kita setelah embun itu menguap? Ketika tiba saatnya turun, turunlah dengan kepala tegak. Tersenyumlah, dan lihatlah betapa luasnya dunia di luar sana. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."