Lokapalanews.id | Praktik curang di perguruan tinggi bukan lagi sekadar kasus perorangan. Ini sudah menjadi kanker kampus yang menggerogoti integritas dan masa depan bangsa. Mahasiswa yang memilih “jalan pintas” dalam studi mereka, pada akhirnya akan menemukan diri mereka di “jalan buntu” dalam kehidupan nyata.
Saya melihat fenomena ini seperti epidemi. Awalnya hanya “batuk-batuk” kecil, seperti mencontek saat ujian. Tapi lama-lama, virus ini bermutasi menjadi penyakit yang lebih mematikan: plagiarisme massal, pemalsuan data laporan penelitian, hingga “joki” tugas yang diperdagangkan secara terang-terangan di media sosial.
Mengapa ini bisa terjadi? Ada beberapa faktor pemicu. Pertama, tekanan akademik yang tak masuk akal. Mahasiswa dipaksa bersaing ketat untuk mendapatkan nilai sempurna, padahal substansi pemahaman seringkali diabaikan. Kedua, sistem pendidikan yang lemah. Pengawasan yang longgar, sanksi yang tak pernah benar-benar ditegakkan, dan dosen yang terlalu sibuk hingga tak sempat memperhatikan. Ketiga, budaya yang permisif. Di beberapa lingkungan, mencontek justru dianggap sebagai “solidaritas” antar-teman. Sebuah pemahaman yang sangat berbahaya.
Angka yang Menohok: Cermin Buram Pendidikan Kita
Data bukan sekadar angka, ia adalah cermin yang tak bisa bohong. Survei Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2024 menunjukkan fakta yang sangat mencemaskan: 98% kampus di Indonesia masih ditemukan kasus menyontek. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan di sekolah.
Lebih detail lagi, survei tersebut mencatat 57,87% mahasiswa mengaku pernah menyontek dan 44,59% mengakui telah melakukan plagiarisme. Riset lain bahkan lebih ekstrem, menunjukkan bahwa 97,6% dari 250 responden mahasiswa pernah melakukan setidaknya satu bentuk kecurangan akademik. Ini artinya, hanya segelintir kecil mahasiswa, sekitar 2,4%, yang bersih dari praktik curang.
Fakta ini tak hanya soal mahasiswa yang nakal. Ini adalah gambaran besar kegagalan sistem. Mahasiswa seringkali merasa tertekan. Mereka kurang persiapan, manajemen waktu yang buruk, atau tidak tertarik dengan mata kuliah yang diajarkan. Alasan-alasan ini, ditambah dengan kesempatan yang terbuka lebar, membuat mereka merasa kecurangan adalah satu-satunya jalan keluar.
Dampak Nyata, Kerugian yang tak Terukur
Dampak buruknya? Sangat mengerikan. Lulusan yang curang akan menjadi profesional yang tak kompeten. Mereka adalah “bom waktu” yang siap meledak di dunia kerja. Bayangkan, seorang insinyur yang curang saat kuliah, akhirnya membangun jembatan yang rapuh. Atau seorang dokter yang lulus berkat kecurangan, akhirnya salah mendiagnosis pasien. Nyawa manusia dan masa depan sebuah industri bisa menjadi taruhannya.
Integritas adalah mata uang paling berharga yang tak bisa dibeli. Jalan pintas mungkin terlihat mudah, tapi di ujungnya hanya ada kehampaan. Jika kita tak bertindak sekarang, kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi penerus. Kita sedang membiarkan institusi pendidikan kita menghasilkan lulusan yang tidak jujur, yang pada akhirnya akan merusak sendi-sendi peradaban.
Sudah saatnya kita semua, mahasiswa, dosen, dan pimpinan kampus, sadar bahwa masalah ini adalah tanggung jawab bersama. Kita harus berani mengambil langkah tegas. Bukan hanya soal sanksi, tapi juga membangun budaya jujur dari nol. Karena masa depan bangsa ini dibangun di atas kejujuran, bukan di atas tumpukan kebohongan. *






