Lokapalanews.id | Dulu, kampus itu adalah tempat di mana akal sehat bersemayam. Di mana logika jadi panglima, dan diskusi adalah nafasnya. Tapi sekarang, kalau boleh jujur, di banyak kampus, akal sehat itu seperti barang langka. Bahkan hilang. Diganti oleh patung-patung yang duduk di kursi kekuasaan.
Salah satu penyebab utamanya adalah wabah aneh yang menjangkiti para pejabat di sana: komunikasi yang bejat.
Komunikasi mereka itu seperti jalan tol yang cuma punya satu arah. Dari atas ke bawah. Dari rektor ke dekan, dari dekan ke dosen, dari dosen ke mahasiswa. Informasinya mengalir kencang, tapi isinya kosong melompong. Penuh jargon, penuh basa-basi, tapi tidak ada substansi. Seperti kaleng rombeng yang berbunyi nyaring, tapi isinya cuma angin.
Mereka, para pejabat itu, merasa sudah paling benar. Merasa sudah paling tahu. Mereka pikir, “Saya rektor. Saya dekan. Saya sudah membaca semua laporan. Apa lagi yang perlu saya dengarkan dari kalian?” Ini adalah penyakit akut yang menjangkiti mereka: dungu di menara gading.
Mereka lupa, perguruan tinggi itu bukan monumen yang kaku. Itu adalah ekosistem yang hidup. Ada ribuan dosen, staf, dan mahasiswa yang punya pikiran, ide, dan keluhan. Mereka adalah darah yang membuat kampus ini terus berdenyut. Tapi, para pejabat ini malah menutup telinga. Mereka lebih suka mendengar gaung suara mereka sendiri di dalam ruang rapat yang dingin.
Akibatnya, banyak hal aneh terjadi. Kebijakan yang tiba-tiba muncul. Peraturan yang berubah-ubah seperti angin. Dosen bingung. Staf pusing. Mahasiswa protes. Tapi protes pun percuma. Aspirasi mereka seperti tetesan air di gurun pasir. Langsung menguap tanpa bekas.
Mengapa bisa begitu? Karena para pejabat ini terlalu sibuk membangun citra, bukan membangun institusi. Mereka lebih peduli pada ranking, pada akreditasi, pada laporan tahunan, daripada pada manusia-manusia di dalamnya. Mereka sibuk membuat presentasi PowerPoint yang indah untuk kementerian, tapi lupa berkomunikasi dengan dosen di fakultas sebelah.
Komunikasi yang buruk ini seperti rem tangan yang macet. Menghambat laju. Potensi yang seharusnya bisa meledak, menjadi kuncup layu. Dosen yang ingin berinovasi jadi malas. Staf yang ingin bekerja lebih baik jadi apatis. Mahasiswa yang ingin berprestasi jadi frustrasi.
Sudah saatnya para pejabat itu belajar. Belajar bahwa komunikasi itu bukan cuma soal mengeluarkan pengumuman di papan tulis. Komunikasi itu soal mendengarkan. Soal berdialog. Soal membangun jembatan, bukan membangun tembok.
Jika tidak, perguruan tinggi kita akan terus berjalan di tempat. Terus mengeluhkan hal yang sama. Terus menyalahkan orang lain. Padahal, masalah utamanya ada di dalam diri mereka sendiri. Di dalam corong yang hanya bisa meniup, tapi tidak pernah mau mendengar. *yas






