Lokapalanews.id | Ada penyakit aneh di negeri ini. Penyakit yang tak terdeteksi oleh alat kedokteran mana pun, tapi gejalanya kentara sekali: omongan selangit, isinya nol besar. Ini bukan cuma menular, tapi sudah jadi epidemi. Ada di mana-mana. Di warung kopi, ruang rapat, sampai di istana-istana kekuasaan.
Mereka pandai sekali merangkai kata. Setiap kalimatnya indah, setiap janjinya menggoda. “Proyek ini akan mengubah tatanan dunia,” kata mereka. “Saya punya akses sampai ke inti kekuasaan,” janji mereka. Wajahnya meyakinkan, matanya berbinar-binar. Kita semua terbius, terpana, lantas percaya begitu saja. Seolah di depan kita berdiri seorang nabi, bukan seorang pesulap.
Tapi coba sentuh sedikit saja. Sentuh, jangan cuma dengar. Maka kita akan tahu, semua itu hanya gelembung sabun. Cantik, tapi kosong. Proyek yang mereka gembar-gemborkan tidak lebih dari cetak biru di atas kertas usang. Koneksi yang mereka banggakan hanya sebatas nama di daftar kontak, bukan hubungan di atas meja makan. Semua itu gertakan. Pedasnya hanya di lidah, tidak sampai ke usus.
Saya punya kenalan yang begitu. Setiap kali bertemu, ia selalu cerita omzetnya sudah miliaran, cabangnya puluhan. Semua orang menaruh hormat. Kami pikir dia naga ekonomi yang siap melumat. Eh, rupanya teman saya diam-diam menyelidiki. Ternyata, tokonya cuma satu, dan nyaris sekarat. Selama ini, omongan besarnya hanya topeng untuk menutupi ketidakmampuannya. Kepercayaan kami, dibayar dengan kebohongan.
Kenapa orang-orang ini suka berbohong? Karena takut. Takut dianggap tak punya arti. Mereka pikir, dengan omongan, mereka bisa menutupi cacat dan cela. Mereka lupa, omongan itu adalah utang. Janji yang tidak ditepati, adalah utang yang tak akan pernah bisa lunas. Ia akan terus menghantui.
Pada akhirnya, apa yang terjadi? Reputasi yang dibangun dari kata-kata, akan runtuh oleh tindakan. Kepercayaan yang dipupuk dari janji, akan mati oleh kenyataan. Orang-orang akan tahu siapa yang sungguh-sungguh, dan siapa yang cuma jago omong. Mereka akan ditinggalkan sendirian, bersama semua kebohongan yang pernah mereka tanam.
Sebab, yang akan membawa kita ke depan bukan omongan manis, tapi keringat yang menetes, kerja yang nyata, dan hasil yang terlihat. Tak perlu bicara banyak. Biarkan tangan yang bekerja. Biarkan hasil yang berteriak. *






