--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Menyucikan Persembahan, Menjaga Ibu Pertiwi Tetap Asri

I Made Suyasa

Seorang ibu dengan khidmat menata banten berbahan alami di atas meja kayu, menunjukkan keindahan tradisi yang ramah lingkungan.

Lokapalanews.id | Imbauan Bendesa Adat Kapal, Ketut Sudarsana, perihal penyederhanaan pelaksanaan mebanten harian sejatinya bukan merupakan instruksi untuk memutus mata rantai tradisi, melainkan sebuah ajakan untuk merenung kembali tentang inti sari spiritualitas yang selaras dengan napas alam Bali. Perdebatan hangat yang mewarnai ruang publik akhir-akhir ini menunjukkan betapa mendalamnya keterikatan umat terhadap warisan leluhur yang telah membimbing kehidupan selama berabad-abad. Namun, kita tidak bisa lagi menutup mata bahwa tumpukan sampah sisa upakara, yang kini bercampur dengan material plastik dan styrofoam, merupakan realitas ekologis yang menuntut solusi bijak serta segera. Menemukan titik temu antara kesetiaan pada akar adat dan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan adalah ujian kedewasaan sekaligus cermin kualitas beragama kita sebagai masyarakat modern yang berpijak pada tradisi.

Penekanan Ketut Sudarsana untuk memfokuskan persembahan pada hari-hari suci seperti Purnama, Kajeng Kliwon, hari raya besar, maupun piodalan bukanlah upaya untuk melunturkan nilai-nilai keagamaan. Ia justru mengundang kita untuk merefleksikan kembali bahwa bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak pernah bergantung pada kuantitas materi sesajen yang dihaturkan dalam frekuensi yang tinggi setiap harinya. Dalam filosofi ajaran Hindu, konsep desa, kala, patra merupakan fondasi fleksibilitas yang sangat luar biasa; sebuah penegasan bahwa setiap praktik keagamaan harus senantiasa menyesuaikan diri dengan kondisi tempat, waktu, dan keadaan yang berlaku. Saat ini, tantangan zaman telah berubah secara drastis dibandingkan era masa lalu, di mana pengelolaan sampah kini menjadi persoalan krusial yang mengancam keasrian pulau ini.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Banyak di antara kita merasa keberatan dengan imbauan tersebut karena mebanten dianggap sebagai wujud kedisiplinan dan hubungan personal yang sangat intim dengan Sang Pencipta. Pandangan ini patut dihargai secara mendalam karena bagi umat Hindu di Bali, mebanten adalah bentuk rasa syukur yang mewujud dalam sebuah meditasi aktif yang memberi ketenangan jiwa sebelum memulai aktivitas harian. Namun, bukankah esensi tertinggi dari sebuah yadnya adalah citta nirmala atau ketulusan hati yang suci yang melampaui segala bentuk materi fisik? Ketika ritual yang kita lakukan dengan penuh cinta justru menyisakan beban bagi bumi, kita diajak untuk berdialog dengan batin, apakah persembahan tersebut sudah sepenuhnya selaras dengan kehendak Tuhan yang mencintai seluruh semesta.

Kita sesungguhnya berada di persimpangan jalan antara mempertahankan kebiasaan lama dan beradaptasi demi keberlanjutan masa depan anak cucu. Menghilangkan residu sampah dari sarana persembahan adalah cara paling luhur untuk menghormati Ibu Pertiwi sekaligus menjaga kehormatan ritual itu sendiri di mata dunia. Solusi dari kebuntuan ini tidak harus berupa pengurangan drastis yang mencederai perasaan umat, melainkan melalui transformasi cara kita bersembahyang secara fundamental. Kita dapat mulai beralih sepenuhnya ke bahan-bahan alami yang mudah terurai kembali ke tanah tanpa meninggalkan jejak limbah plastik, staples, atau styrofoam yang mencemari lingkungan pekarangan kita sendiri.

Baca juga:  Roblox dan Tanggung Jawab yang Hilang

Mengubah banten menjadi sepenuhnya organik adalah bentuk nyata dari yadnya yang lebih suci, karena kita secara sadar mempersembahkan hasil alam yang akan kembali menyatu dengan alam tanpa merusak tatanan ekologis. Bayangkan betapa indahnya jika setiap rumah tangga di Bali kembali menggunakan janur, bunga segar, daun pisang, dan persembahan asli bumi lainnya yang tidak meninggalkan polusi setelah upacara usai. Narasi ini harus kita ubah dari sekadar tuntutan untuk mengurangi frekuensi menjadi semangat untuk menyempurnakan kualitas bhakti melalui kesadaran lingkungan yang mendalam. Dengan demikian, setiap canang atau banten yang kita haturkan tidak hanya menjadi jembatan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga wujud bakti nyata untuk menjaga Bali agar tetap asri sebagaimana mestinya.

Keberhasilan desa adat dalam membangun kesadaran ini akan menjadi mercusuar bagi seluruh Bali, menunjukkan bahwa tradisi yang kuat justru terletak pada kemampuannya untuk hidup berdampingan dengan tantangan zamannya. Dialog yang inklusif, diskusi di tingkat banjar, serta keteladanan dari tokoh-tokoh agama sangat diperlukan agar pesan ini sampai ke hati masyarakat, bukan hanya sekadar instruksi yang diterima dengan keterpaksaan. Kita harus memposisikan diri sebagai subjek yang aktif menjaga peradaban, bukan objek yang hanya menjalankan rutinitas tanpa pemaknaan yang utuh terhadap perubahan dunia. Ketika agama dan ekologi berjalan beriringan, kita sedang mempraktikkan bentuk tertinggi dari pengabdian kepada Tuhan, yakni menjaga ciptaan-Nya agar tetap suci dan terjaga.

Pemerintah dan lembaga adat pun memikul tanggung jawab besar untuk menyediakan edukasi berkelanjutan mengenai manajemen sampah upakara yang lebih sistematis. Namun, perubahan yang paling bertahan lama adalah perubahan yang lahir dari kesadaran individu di setiap rumah tangga yang menyadari bahwa kebersihan pekarangan adalah bagian dari kesucian hati. Marilah kita melangkah melampaui zona nyaman kebiasaan lama untuk menemukan bentuk yadnya yang lebih murni, lebih tulus, dan lebih ramah bagi tanah yang memberi kita kehidupan setiap detiknya. Jika kita mampu menyatukan kembali esensi bhakti dengan kesadaran menjaga alam, bukankah keharmonisan yang kita cari selama ini justru akan semakin terpancar dalam kehidupan sehari-hari?

Pada akhirnya, tantangan ini bukanlah tanda memudarnya keyakinan, melainkan kesempatan emas bagi umat Hindu Bali untuk menunjukkan bahwa tradisi kita sangatlah dinamis dan mampu menjawab persoalan zaman secara bijak. Mari kita kembalikan marwah mebanten sebagai simbol syukur yang bersih, indah, dan mendamaikan semesta. Semoga keikhlasan kita dalam berbenah diri menjadi persembahan terbaik bagi masa depan Bali yang lebih hijau dan penuh berkah. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."