--- / --- 00:00 WITA

Prabowo Tegaskan Indonesia Tetap Nonblok

Presiden RI Prabowo Subianto saat memberikan arahan mengenai posisi geopolitik Indonesia dalam acara peresmian infrastruktur jembatan nasional secara virtual dari Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Lokapalanews.id | Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia konsisten memegang teguh prinsip politik luar negeri bebas aktif di tengah eskalasi konflik global yang kian memanas. Penegasan ini muncul sebagai respons atas dinamika ketidakpastian dunia, mulai dari krisis di Eropa hingga ketegangan akut di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada stabilitas internasional.

Kepala Negara menyatakan bahwa arah kebijakan luar negeri Indonesia saat ini sudah berada pada jalur yang tepat dengan tidak memihak pada blok kekuatan mana pun. Menurut Presiden, sikap nonblok bukan berarti pasif, melainkan sebuah pilihan strategis untuk menghormati kedaulatan semua negara sambil tetap mengedepankan kepentingan nasional dan perdamaian dunia.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam sambutan peresmian 218 jembatan yang dilaksanakan secara hibrida dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Meski agenda utama berkaitan dengan infrastruktur domestik, Presiden memandang perlu memberikan pernyataan sikap mengenai posisi geopolitik Indonesia mengingat dampak konflik luar negeri yang kini kian terasa hingga ke sektor ekonomi dan keamanan dalam negeri.

“Bangsa kita, negara kita berada dalam jalur yang sudah benar. Kita berada di jalur tidak memihak. Kita selalu berada di jalur bebas aktif, nonblok. Kita tidak ingin ikut blok mana pun. Kita menghormati semua kekuatan. Kita menghormati semua negara. Itulah Indonesia,” ujar Presiden Prabowo di hadapan peserta undangan virtual, Senin (9/3/2026).

Presiden menyoroti bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja akibat meletusnya perang di berbagai kawasan. Konflik berkepanjangan di Ukraina serta eskalasi militer di Timur Tengah disebutnya sebagai gambaran nyata betapa rapuhnya stabilitas global saat ini. Walaupun secara geografis Indonesia terletak jauh dari pusat konflik tersebut, keterkaitan ekonomi dan mobilitas warga membuat dampak peperangan menjadi sangat nyata bagi masyarakat lokal.

Situasi di Timur Tengah secara khusus menjadi perhatian serius pemerintah karena berkaitan dengan jalur logistik energi dan keselamatan warga negara Indonesia di sana. Hal ini senada dengan langkah evakuasi WNI dari Iran yang dilakukan Kementerian Luar Negeri baru-baru ini. Presiden menilai, di tengah “bumi yang semakin kecil” ini, gesekan di satu wilayah akan segera merambat ke wilayah lainnya dalam waktu singkat.

Baca juga:  Pidato Prabowo Disebut "Kompas", Novita Hardini Beri Sejumlah Catatan Kritis

Lebih lanjut, mantan Menteri Pertahanan ini mengaitkan prinsip politik luar negeri tersebut dengan nilai luhur Bhinneka Tunggal Ika. Ia memandang kemampuan Indonesia untuk tetap rukun di tengah keberagaman ratusan kelompok etnis dan agama sebagai modal sosial yang kuat dalam berdiplomasi. Model kerukunan domestik ini menjadi landasan bagi Indonesia untuk diterima oleh semua pihak di panggung internasional.

“Kita menghormati semua bangsa, menghormati semua agama, menghormati semua ras, menghormati semua kelompok etnis. Inilah yang membuat Indonesia sekarang menikmati kondisi yang damai. Kita bisa hidup berdampingan ratusan kelompok etnis, tapi kita bisa rukun,” tuturnya.

Keberhasilan menjaga kerukunan di dalam negeri dinilai menjadi bukti otentik bahwa prinsip hidup berdampingan secara damai bisa diwujudkan. Oleh karena itu, Indonesia terus mendorong deeskalasi konflik di berbagai forum internasional, termasuk mendesak penghentian serangan di zona konflik guna menghindari krisis kemanusiaan yang lebih dalam.

Penegasan komitmen bebas aktif ini juga menjadi sinyal bagi dunia usaha dan pasar bahwa Indonesia tetap menjadi mitra yang stabil dan terbuka. Di tengah tekanan fluktuasi harga komoditas global akibat perang, posisi nonblok memungkinkan Indonesia untuk tetap menjalin kerja sama perdagangan secara fleksibel dengan berbagai negara tanpa terbelenggu kepentingan politik blok tertentu.

Menutup arahannya, Presiden optimis bahwa dengan menjaga persatuan di dalam negeri dan konsistensi politik luar negeri, Indonesia akan mampu melewati badai ketidakpastian global. Kepentingan nasional tetap menjadi kompas utama dalam setiap pengambilan keputusan diplomatik demi menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan seluruh rakyat Indonesia. *R101

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."