Lokapalanews.id | Gianyar – Langit mendung menyelimuti kepergian salah satu putra terbaiknya. Mantan Bupati Gianyar dua periode, Anak Agung Gde Agung Bharata, S.H., yang belakangan lebih dikenal dengan gelar spiritual Ida Bhagawan Blebar Gianyar, mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (21/2/2026).
Kepergian sosok yang dikenal sangat dekat dengan tradisi dan pelestarian budaya ini tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga besar Puri Agung Gianyar, tetapi juga bagi seluruh masyarakat yang pernah dipimpinnya. Beliau berpulang di usia 76 tahun setelah berjuang melawan penurunan kondisi kesehatan dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi fisik mantan orang nomor satu di Gianyar itu mulai menurun drastis dalam beberapa pekan terakhir. Gejala hilangnya nafsu makan dan kelemahan fisik membuatnya harus mendapatkan perawatan intensif di RSUD Sanjiwani Gianyar. Meski sempat menunjukkan tren positif dan diperbolehkan pulang ke puri, kondisi beliau kembali memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Riwayat penyakit jantung disebut menjadi faktor utama menurunnya kesehatan sosok yang pernah menjabat Ketua Presidium Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ini. Di masa-masa terakhirnya, almarhum lebih banyak menghabiskan waktu dalam ketenangan, didampingi selang infus yang setia menemani di tengah perjuangan melawan sakitnya.
Keputusan almarhum untuk menanggalkan seluruh atribut politik di akhir masa jabatan dan memilih jalur spiritual sebagai sulinggih merupakan fase penting dalam perjalanan hidupnya. Transformasi dari seorang pejabat publik menjadi abdi spiritual dengan gelar Ida Bhagawan Blebar Gianyar mencerminkan kedalaman filosofi hidupnya yang mencari kedamaian batin (shanti).
“Ini sebagai bentuk pengabdian saya kepada masyarakat dan alam melalui lantunan doa. Secara fisik, saya sudah tidak lagi mampu mengabdi seperti dulu,” katanya.
Selama menjabat sebagai Bupati Gianyar periode 2003-2008 dan 2013-2018, Agung Bharata dikenal sebagai pemimpin yang “hijau”. Komitmennya terhadap lingkungan tercermin dari gerakan gotong royong ke desa-desa yang sering ia pimpin langsung, serta upayanya membangun Desa Kerta melalui infrastruktur dan kebun raya tematik. Di bawah kepemimpinannya, Gianyar memperkuat identitasnya sebagai kota pusaka dan pusat kebudayaan Bali.
Duka ini terasa semakin mendalam mengingat belum genap setahun yang lalu, tepatnya pada Mei 2025, keluarga puri juga kehilangan putra tunggal almarhum, Anak Agung Gde Raka Semara Putra. Kehilangan berturut-turut ini memicu gelombang simpati dan doa dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah hingga krama adat di Gianyar.
Saat ini, jenazah almarhum telah disemayamkan di rumah duka di lingkungan Puri Agung Gianyar. Berdasarkan keputusan rapat keluarga besar trah Ida Bhatara Manggis Kuning dan petunjuk dari Bhagawanta Puri, prosesi upacara pengabuan atau Palebon direncanakan akan dilangsungkan pada 7 Maret 2026 di Setra Beng.
Masyarakat Gianyar kini bersiap melepas kepergian tokoh yang selama hidupnya tidak pernah lelah menyuarakan pentingnya menjaga adat dan tradisi Bali di tengah arus modernisasi. Jejak pengabdiannya, baik sebagai birokrat maupun sebagai sulinggih, akan terus membekas sebagai warisan bagi generasi mendatang. *R105






