--- / --- 00:00 WITA

Sinergi Keluarga dan Siber Perkuat Karakter

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum dalam Talkshow Membangun Ekosistem Digital yang Aman, Etis, dan Cakap: Dari Takut, Jadi Tangkas di acara Safer Internet Day 2026: Bijak Cerdas Berdigital dan Ber-AI di Kantor Kemenko PMK (Foto: Amiriyandi Infopublik/Igid)

Lokapalanews.id | Jakarta – Penguatan karakter bangsa di era transformasi digital tidak lagi dapat bertumpu pada satu sektor saja, melainkan harus melibatkan ekosistem yang utuh mulai dari unit terkecil keluarga hingga pengawasan ruang siber. Fenomena generasi muda, khususnya Gen Z dan Alpha yang menjadi digital native, menuntut pola pengasuhan yang adaptif guna membentengi mereka dari arus konten negatif seperti kekerasan dan perundungan siber (cyberbullying).

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun ketahanan nasional. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, dilansir dari InfoPublik.id menyatakan keprihatinannya terhadap durasi penggunaan internet anak-anak yang kini mencapai seperempat hari atau sekitar enam jam setiap harinya. Tanpa bimbingan yang tepat, durasi yang panjang tersebut berisiko memapar anak pada nilai-nilai yang bertentangan dengan karakter bangsa.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Langkah penguatan ini didorong melalui kolaborasi lintas sektoral yang melibatkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) serta institusi pendidikan. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa teknologi digital saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan domestik, bahkan gawai sudah dianggap seperti anggota keluarga baru. Oleh karena itu, konektivitas digital yang masif harus berjalan beriringan dengan pengawasan ketat terhadap interaksi berbahaya di dunia maya.

Selain faktor teknis pengawasan, tantangan psikologis seperti penurunan empati akibat minimnya interaksi tatap muka menjadi fokus utama. Pemerintah mendorong terciptanya “Zona Bebas Gawai” di lingkungan keluarga sebagai laboratorium karakter untuk mengembalikan kualitas komunikasi empatik. Hal ini dianggap krusial agar kemajuan teknologi tidak menggerus moralitas, melainkan menjadi alat pendukung menuju visi Indonesia Emas 2045.

Baca juga:  Peran Rumah Lindungi Anak di Ruang Digital

Peran platform global seperti Google dan YouTube juga terus didorong untuk menghadirkan teknologi perlindungan anak yang lebih mumpuni. Melalui program aksi digital, diharapkan tercipta ruang siber yang aman dari konten tidak pantas. Sinergi antara kebijakan pemerintah, ketegasan regulasi, dan kesadaran orang tua dalam memberikan pendampingan bermakna menjadi kunci utama agar generasi masa depan tetap memiliki jati diri yang kuat di tengah dinamika global yang serba digital. *R104

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."