--- / --- 00:00 WITA
Ekbis  

AS Tak Berdaya, Indonesia Amankan Tarif Nol Persen

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memaparkan capaian diplomasi ekonomi Indonesia dalam pembukaan akses pasar global dan pengecualian tarif ekspor ke Amerika Serikat.

Lokapalanews.id | Pemerintah Indonesia berhasil mengamankan posisi tawar dalam kancah perdagangan internasional melalui serangkaian kesepakatan krusial dengan Amerika Serikat (AS) dan blok ekonomi Eurasia. Langkah diplomasi ekonomi yang agresif ini menjadi oase di tengah ketidakpastian pasar global, sekaligus memberikan proteksi bagi komoditas unggulan nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengonfirmasi bahwa Indonesia dan United States Trade Representative (USTR) telah mencapai kesepakatan teknis dalam dokumen Agreements on Reciprocal Trade (ART). Poin paling signifikan bagi publik adalah pemberian pengecualian tarif oleh AS terhadap produk-produk padat karya dan komoditas utama Indonesia.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“Pemerintah menjaga daya beli dalam negeri, kemudian membuka pasar, sekaligus menjaga ketahanan ekonomi. Dengan biaya masuk rata-rata sudah nol, terbuka kesempatan bagi pengusaha kita, termasuk UMKM, untuk lebih kompetitif,” ujar Airlangga dalam dialog media di Jakarta, Jumat (26/12/2025).

Karpet Merah untuk CPO dan Mineral Kritis

Kesepakatan dengan Washington tidak hanya menguntungkan sektor manufaktur. Komoditas seperti minyak sawit mentah (CPO), kopi, teh, hingga kakao dipastikan mendapat perlakuan khusus yang akan menjaga daya saingnya di pasar Negeri Paman Sam.

Selain tarif, Indonesia juga berhasil mengunci pembahasan strategis mengenai mineral kritis (critical minerals). Mengingat peran Indonesia sebagai pemegang cadangan nikel terbesar dunia, akses langsung ke pasar ekspor AS melalui skema ART menjadi kunci bagi hilirisasi industri dalam negeri. Airlangga menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari investasi panjang perusahaan AS di sektor pertambangan Indonesia.

Dokumen ART kini tengah memasuki tahap legal scrubbing. Jika tidak ada aral melintang, Presiden RI dijadwalkan menandatangani perjanjian ini bersama Presiden AS sebelum akhir Januari 2026.

Baca juga:  Kemenperin Genjot IKM Fesyen Bali ke Pasar Global

Ekspansi ke Kawasan Beruang Merah

Tak hanya terpaku pada pasar tradisional, Indonesia secara resmi juga telah membuka gerbang menuju kawasan Eurasia melalui penandatanganan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) pada 21 Desember lalu.

Perjanjian ini memberikan akses langsung ke pasar Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Belarus, dan Armenia. Dengan populasi gabungan mencapai 180 juta jiwa dan PDB sebesar USD 2,56 triliun, pasar non-tradisional ini menawarkan preferensi tarif nol persen untuk lebih dari 95 persen nilai perdagangan.

Mengurangi Ketergantungan Barat

Langkah ganda yang diambil pemerintah ini menunjukkan strategi diversifikasi yang cerdik. Di satu sisi, Indonesia tetap menjaga hubungan harmonis dengan AS melalui pengecualian tarif. Di sisi lain, pembukaan pasar Eurasia secara masif menjadi “ban serep” yang kuat jika terjadi gejolak politik di Barat.

Dampak ekonominya tidak main-main. Implementasi FTA Eurasia diproyeksikan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 2,36 persen. Bagi pembaca umum, ini berarti potensi lapangan kerja baru di sektor ekspor – mulai dari tekstil, alas kaki, hingga jasa digital dan ekonomi kreatif – akan semakin terbuka lebar.

Pemerintah kini mendorong pembentukan business council untuk mempercepat transaksi di lapangan tanpa menunggu proses ratifikasi yang panjang. Tantangan berikutnya adalah sejauh mana pelaku usaha domestik, terutama UMKM, mampu memenuhi standar kualitas pasar Eurasia yang selama ini jarang terjamah. *102

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."