--- / --- • 00:00 WITA
Narasi  

Saking Pintarnya Goblok

Presiden Prabowo Subianto.

Lokapalanews.id | Saya senyum-senyum sendiri mendengar pidato Presiden Prabowo Subianto.

Bicaranya blak-blakan. Ciri khas beliau yang sukar diubah.

Advertisement

Jumat lalu, di hadapan kader Partai Amanat Nasional (PAN) yang sedang merayakan HUT ke-28 di Jakarta, Prabowo melempar peluru kendali. Sasarannya: para pakar.

Kalimatnya menohok. “Saking pintarnya jadi goblok,” kata Presiden.

Ruangan langsung riuh.

Saya membayangkan para pengamat politik dan pakar hukum di rumah masing-masing. Apakah ada yang tersedak saat mendengar kalimat itu?

Prabowo tahu betul ucapannya bakal dipotong-potong lalu disebar di media sosial. Tapi beliau tidak peduli. Terus melaju.

Penyebabnya satu: fitnah.

Prabowo bilang, kalau sekadar kritik, beliau sama sekali tidak keberatan. Yang bikin gusar adalah ketika bungkus kepakaran itu dipakai untuk melontarkan fitnah.

Di depan basis massa PAN yang religius, Prabowo menyitir Surat Al-Baqarah ayat 191. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

Lalu, siapa pakar yang dimaksud?

Prabowo tidak menyebut nama. Tidak juga merinci pernyataan apa yang membuat hatinya jengkel. Beliau hanya bilang: mencatatnya.

“Kalau dia sadar, saya maafkan,” ujarnya santai.

Di sinilah letak esensi pemikiran Prabowo.

Beliau kemudian membelokkan arah pembicaraan ke panggung yang lebih fundamental: intellectual honesty. Kejujuran intelektual.

Seorang cendekiawan, kata Prabowo, boleh pintar setengah mati. Tapi tanpa kejujuran, kepintaran itu amblas. Malah bisa berubah jadi hal yang beliau sebut tadi.

Ukuran Prabowo sebenarnya sederhana. Beliau hanya ingin membuktikan sumpahnya sejak umur 18 tahun. Sumpah siap mati untuk negeri ini.

Targetnya terkesan amat tinggi tapi mulia: tidak ada lagi orang lapar di Indonesia. Tidak ada anak-anak yang berangkat sekolah dengan perut kosong. Tidak ada lagi stunting yang bikin tulang, otot, dan sel otak anak bangsa lemah hingga kalah bersaing dengan negara lain.

Baca juga:  Prabowo Tunda ke Tiongkok, Fokus Urus Negeri

Cita-cita itu luar biasa mulia. Tapi di situlah ujian sesungguhnya.

Para pakar sering kali melihat dunia dari angka, risiko, dan logika anggaran. Sementara pemimpin politik sering memandang dunia dari visi besar, keberanian, dan eksekusi.

Ketika dua kutub ini bertabrakan, batas antara kritik rasional dan fitnah memang kerap menjadi remang-remang.

Repotnya, di negeri kita, batas itu sering tergantung siapa yang sedang memegang mikrofon.

Pakar merasa sedang menyelamatkan uang negara lewat kritik tajam. Pemerintah merasa sedang diganggu niat baiknya lewat prasangka.

Padahal kejujuran intelektual tidak hanya berlaku bagi pengamat di luar istana. Kejujuran yang sama juga dituntut dari mereka yang berada di dalam lingkar kekuasaan untuk mau mendengar pahitnya fakta lapangan.

Kalau tidak, ujung-ujungnya kita hanya sibuk saling tuduh: siapa yang benar-benar pintar, dan siapa yang saking pintarnya justru jadi goblok? *yas

Advertisement
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."
Advertisement