Lokapalanews.id | Kabut tebal biasanya masih menyelimuti lembah Sembung ketika desas-desus tentang pergeseran kekuasaan mulai membakar kecemasan di beranda-beranda rumah. Di tengah ketidakpastian politik yang meruncing, I Gusti Ngurah Made Buleleng, yang menyandang gelar perkasa Tunggulyuda, harus menelan pahitnya sebuah pilihan. Ia tidak sedang memilih antara menang atau kalah di medan laga, melainkan memilih antara ego kekuasaan atau kelangsungan napas keturunannya. Maka, di bawah temaram lampu minyak dan bisikan doa yang tertahan, sebuah eksodus besar dimulai. Tanah leluhur ditinggalkan demi sebuah janji pada masa depan yang masih samar.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan raga, melainkan sebuah strategi bertahan hidup yang sunyi. Rombongan pengungsi itu terbelah di persimpangan nasib; sebagian mencari suaka di Pemahayun, sementara Tunggulyuda memimpin kelompok utama menembus rimbunnya vegetasi menuju Keliki. Di sana, di bawah bayang-bayang kekuasaan I Dewa Agung Made Sukawati, sang ksatria memilih untuk meluruhkan identitasnya. Ia menanggalkan kemegahan gelar Buleleng dan mengenakan jubah penyamaran sebagai I Gusti Ngurah Pacung Taro. Hidup low profile menjadi tameng utama dari incaran musuh-musuh politik yang masih haus akan darahnya.
Di Keliki, kehidupan seolah memberi jeda yang manis. Sepuluh putra-putri lahir, tumbuh di antara aroma tanah basah dan gemericik air sawah, menjadi tunas-tunas baru dari trah Arya Sentong yang tangguh. Namun, sejarah selalu punya cara untuk mengulang dramanya. Kekuatan yang mulai mengakar dan pengaruh yang kian meluas dari kelompok Pacung Taro perlahan memicu bara kecurigaan di hati penguasa setempat. Konflik fisik tak lagi bisa dihindari. Di atas tanah Keliki yang hijau, benturan kepentingan pecah, memaksa keturunan Arya Sentong kembali memanggul keranjang pengungsian mereka untuk kedua kalinya.
Dalam kekalahan yang menyesakkan, estafet kepemimpinan jatuh ke tangan I Gusti Ngurah Batan Duren. Ia bukan sekadar memimpin pelarian; ia menjaga harapan dua ratus jiwa yang setia mengikuti langkah kakinya melintasi Yeh Tengah hingga Padangjarak. Mereka sempat bernapas sejenak di bawah perlindungan Ubud, sebelum takdir mengetuk pintu lewat sebuah krisis di Desa Ayunan. Kematian I Gusti Ngurah Ayunan di medan perang menyisakan kekosongan singgasana yang menganga. I Gusti Agung Gede Agung dari Singasari (Blahkiuh) menyadari bahwa stabilitas Ayunan hanya bisa dipulihkan oleh darah murni Arya Sentong.
Batan Duren pun dijemput, bukan sebagai pengungsi, melainkan sebagai juru selamat. Ia dinobatkan sebagai Raja Ayunan III, menghidupkan kembali gema kebesaran ayahnya dengan gelar I Gusti Gede Ayunan atau yang lebih akrab disapa rakyatnya sebagai I Gusti Ngurah Buleleng. Dari rahim Ni Gusti Ayu Rasning, lahir empat putra yang akan memetakan geografi Trah Arya Sentong di masa depan: I Gusti Ngurah Rajya, I Gusti Ngurah Jaya, I Gusti Ngurah Pacung Ngemban, dan seorang putra yang kelak membawa cahaya ke wilayah utara Badung, I Gusti Ngurah Jati.
Berbeda dengan para pendahulunya yang akrab dengan desing senjata dan diplomasi istana, perjalanan I Gusti Ngurah Jati muncul sebagai sebuah ziarah batin yang mendalam. Ia semula berniat menuju Denbukit di utara, namun langkahnya terhenti secara metafisik di Pura Pucak Padang Dawa. Sebuah isyarat spiritual yang tak kasatmata – sebuah getaran yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang jiwanya telah selaras dengan alam – menghalanginya bergerak ke utara. Patuh pada bisikan niskala tersebut, ia memutar kemudi hidupnya menuju timur.
I Gusti Ngurah Jati dan rombongannya menembus keheningan hutan Petang, mendaki perbukitan yang menantang nyali, hingga sempat menyandarkan lelah di Auman. Namun, “tanah harapan” itu belum juga ditemukan. Ia terus berjalan, melewati Satung, Buahan, hingga Susut, seolah-olah sedang mencari detak jantung bumi yang paling sinkron dengan nadinya sendiri. Pencarian panjang itu berakhir ketika ia menjejakkan kaki di sebuah wilayah yang tenang, di mana air mengalir melimpah di antara celah bebatuan dan pepohonan yang rimbun: Banjar Sekarmukti.
Di Sekarmukti, pedang ksatria itu tak lagi sering terhunus untuk berperang, melainkan digunakan untuk membuka lahan dan menata peradaban. I Gusti Ngurah Jati membangun pemukiman yang tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga teguh secara nilai. Di sinilah identitas Paibon lahir – sebuah institusi spiritual yang lebih dari sekadar tumpukan batu padas berukir. Paibon menjadi “Rahim Spiritual”, tempat di mana setiap keturunan Arya Sentong yang kini tersebar di kota-kota besar atau bahkan di luar negeri, selalu memiliki kompas untuk pulang.
Sejarah ini mengajarkan bahwa menjadi bagian dari Arya Sentong bukanlah soal bangga pada silsilah yang mentereng, melainkan mewarisi ketangguhan untuk tetap tegak saat badai politik menerjang, keluwesan untuk menyamar saat situasi tak menguntungkan, dan keberanian untuk mengikuti intuisi spiritual seperti yang dicontohkan oleh I Gusti Ngurah Jati. Sekarmukti adalah monumen hidup dari perjalanan panjang sebuah dharma yang tak pernah putus.
Kini, di tengah deru modernisasi yang seringkali membuat ingatan manusia menjadi pendek, kisah-kisah dari Sembung, Keliki, hingga Ayunan ini tetap hidup dalam hembusan angin di perbukitan Petang. Mereka yang melupakan akarnya akan mudah tumbang saat diterjang angin kencang. Namun, bagi mereka yang memegang teguh api semangat I Gusti Ngurah Jati, Sekarmukti bukan sekadar nama desa di peta, melainkan sebuah janji suci untuk menjaga martabat keluarga hingga berabad-abad mendatang. Sejarah memang tentang masa lalu, tapi ia adalah satu-satunya cermin paling bening untuk menatap masa depan. *yas






