Lokapalanews.id | Saya teringat obrolan di sebuah warung kopi pinggiran. Di sana, seorang kakek bercerita tentang masa mudanya. Tentang bagaimana ia harus bersembunyi di hutan. Hanya untuk mempertahankan martabat sebuah negeri yang baru lahir.
Bagi sang kakek, perjuangan bukan soal jabatan. Bukan soal ingin fotonya dipasang di baliho besar. Perjuangan adalah pengabdian yang sunyi. Ia tidak pernah meminta namanya diabadikan menjadi apa pun.
Lalu saya melihat sebuah bangunan megah. Gedungnya mentereng, pilar-pilarnya kokoh menjulang. Di atas gerbangnya, terpampang nama seorang pejuang besar. Nama yang selama ini kita kenal lewat buku sejarah.
Namun, ada yang aneh. Nama itu terasa seperti baju yang kebesaran. Sangat longgar di badan. Nama pejuangnya gagah, tapi auranya terasa dingin dan asing.
Saya masuk lebih dalam ke lingkungannya. Alih-alih menemukan semangat perlawanan terhadap kebodohan, saya justru mencium aroma birokrasi yang kaku. Roh pejuang yang seharusnya membara, rupanya sudah padam ditiup AC ruangan yang terlalu dingin.
Seorang pejuang biasanya identik dengan keberanian. Mereka berani bicara meski nyawa taruhannya. Tapi di kampus ini, nalar kritis justru dianggap duri. Mahasiswa yang terlalu vokal pelan-pelan ditepikan.
Inilah ironi pendidikan kita hari ini. Kita sangat rajin meminjam nama pahlawan untuk merek dagang. Tapi kita lupa meminjam nilai-nilainya untuk diterapkan di dalam kelas.
Nama pejuang itu hanya menjadi komoditas. Digunakan untuk menarik minat calon mahasiswa. Biar terlihat punya nilai historis yang tinggi. Biar terlihat punya marwah yang suci.
Namun, saat pendaftaran dibuka, angkanya bicara lain. Biaya kuliahnya selangit. Seolah-olah hanya mereka yang berkantong tebal yang boleh mengenal sang pahlawan. Rakyat kecil yang dulu dibela sang pejuang, kini hanya bisa menonton dari balik pagar.
Saya jadi membayangkan, apa jadinya jika sang pejuang itu bangkit? Ia mungkin akan menangis melihat namanya dipakai untuk memeras keringat rakyat. Ia mungkin akan marah melihat kampus yang menyandang namanya justru menjadi sarang nepotisme.
Pejuang itu melepaskan kenyamanan demi sebuah visi. Kampus hari ini sering kali melepaskan visi demi sebuah kenyamanan. Mereka takut kehilangan status, takut kehilangan dana, dan takut berbeda suara.
Budaya “asal bapak senang” tumbuh subur di koridor-koridor fakultas. Gelar akademik dikejar dengan cara-cara yang tak lagi heroik. Ada yang lewat jalur belakang, ada yang lewat manipulasi data. Di mana roh pejuang yang menjunjung tinggi integritas itu?
Seharusnya, kampus dengan nama pejuang adalah garda terdepan. Mereka harus jadi yang pertama bicara saat ada ketidakadilan di tengah masyarakat. Mereka harus jadi laboratorium untuk mencari solusi atas penderitaan rakyat.
Bukan justru menjadi menara gading yang eksklusif. Yang mahasiswanya hanya sibuk memikirkan IPK, tanpa tahu masalah sampah di belakang pagar kampus mereka sendiri. Yang dosennya hanya sibuk mengejar pangkat, tanpa peduli pada etika profesi yang kian luruh.
Nama pahlawan itu adalah beban moral. Ia bukan sekadar hiasan di kartu nama. Jika kita belum sanggup berbuat setangguh mereka, setidaknya janganlah kita mengotori nama mereka.
Terkadang, kejujuran memang terasa pahit. Lebih baik menggunakan nama yang netral jika tak sanggup memikul beban sejarah. Gunakan nama arah mata angin. Atau gunakan nama bunga yang cantik tanpa beban filosofis yang dalam.
Sebab, ketika sebuah nama besar sudah kehilangan rohnya, yang tersisa hanyalah bangkai kata-kata. Ia indah dilihat di brosur, tapi hampa saat dirasakan oleh jiwa.
Dunia pendidikan kita butuh lebih dari sekadar nama besar. Kita butuh keberanian untuk kembali ke khittah perjuangan yang sesungguhnya. Yakni, memanusiakan manusia. Bukan menjadikannya sekadar angka di laporan keuangan tahunan.
Kini, setiap kali saya melewati kampus dengan nama besar, saya selalu bertanya dalam hati. Apakah mereka yang ada di dalam sana sedang berjuang untuk bangsa? Ataukah mereka sedang berjuang untuk kepentingan kelompoknya sendiri dengan berlindung di balik nama suci sang pahlawan?
Jawaban itu ada pada sikap kita hari ini. Apakah kita akan terus membiarkan nama pejuang itu hanya menjadi pajangan? Ataukah kita akan mulai menghidupkan kembali apinya di setiap ruang kelas?
Perjuangan hari ini memang tidak lagi melawan penjajah bersenjata. Perjuangan hari ini adalah melawan kemalasan berpikir dan ketidakjujuran nurani. Itulah musuh yang jauh lebih sulit untuk ditaklukkan. Selamat merenung. *yas






