Lokapalanews.id | Saya baru saja minum kopi hitam tanpa gula di sebuah kedai kecil dekat bandara. Di televisi gantung, berita duka itu mengalir. Ada wajah-wajah muda dalam bingkai hitam.
Mereka prajurit kita. Mayor Zulmi, Serka Muhammad Nur, dan Kopda Farizal. Mereka pulang dalam peti jenazah.
Bukan karena kalah perang. Mereka gugur saat sedang menjaga agar orang lain tidak berperang. Inilah ironi yang paling perih dalam dunia militer kita.
Menteri Luar Negeri Sugiono bersuara keras. Beliau menuntut jaminan keamanan bagi pasukan UNIFIL di Lebanon. Kalimatnya tegas: pasukan perdamaian bukan pihak yang bertempur.
Logikanya sederhana. Kalau ada dua orang berkelahi, penjaga perdamaian adalah wasitnya. Masalahnya, di Lebanon Selatan sekarang, wasitnya pun ikut dipukuli.
Dulu, menjadi pasukan PBB adalah kebanggaan luar biasa. Topi biru itu simbol wibawa dunia. Siapa pun yang berkonflik, biasanya akan segan menyentuh mereka.
Sekarang zaman sudah berubah. Aturan perang seolah dibuang ke keranjang sampah. Hukum internasional seperti macan kertas yang giginya sudah ompong.
Menlu Sugiono menjelaskan poin penting. Ada perbedaan antara peacekeeping dan peacemaking. Pasukan kita di sana untuk peacekeeping. Menjaga damai yang (seharusnya) sudah ada.
Mereka tidak dilatih untuk menyerbu. Mereka tidak dipersenjatai untuk menghancurkan lawan. Mereka di sana sebagai saksi mata atas kemanusiaan.
Lalu, bagaimana jika saksi mata itu justru jadi sasaran? Itu bukan lagi kecelakaan. Itu adalah pesan yang sangat gelap.
Saat ini masih ada lima prajurit kita yang terluka. Mereka bertahan di tengah desing peluru dan ledakan yang tidak pandang bulu. Bayangkan perasaan keluarga mereka di tanah air.
Presiden Prabowo pun turun tangan. Beliau memberikan penghormatan terakhir secara langsung. Beliau tahu persis rasanya kehilangan anak buah di medan tugas.
Sebagai mantan komandan lapangan, Presiden pasti geram. Membiarkan prajurit terbaik mati tanpa bisa membalas adalah luka bagi korps. Namun, ini adalah misi diplomasi.
Kita tidak bisa mengirim tank tambahan untuk menyerang balik. Kita terikat mandat PBB. Inilah dilema moral yang sedang dihadapi Indonesia.
Indonesia sudah meminta Dewan Keamanan PBB rapat luar biasa. Kita ingin dunia melihat. Bahwa ada harga yang terlalu mahal untuk sebuah mandat yang tidak dihormati.
Kalau penjaga perdamaian saja tidak aman, siapa lagi yang bisa dipercaya? PBB harus segera melakukan evaluasi total di lapangan Lebanon Selatan.
Jangan sampai baret biru hanya jadi sasaran tembak yang empuk. Jangan biarkan nyawa prajurit kita jadi angka statistik dalam laporan tahunan di New York.
Kita bangga pada TNI yang setia pada mandat dunia. Namun, kita lebih ingin mereka pulang dengan kepala tegak dan raga yang utuh.
Keamanan prajurit adalah harga mati. Tidak bisa ditawar. Diplomasi tanpa kekuatan itu lemah, tapi kekuatan tanpa jaminan hukum adalah bunuh diri.
Kita menunggu langkah nyata dari markas besar PBB. Bukan sekadar surat belasungkawa atau pernyataan prihatin yang klise.
Duka ini harus menjadi titik balik. Dunia harus kembali belajar menghormati garis batas dan hukum perang. Jika tidak, maka kedamaian hanyalah dongeng sebelum tidur.
Kopi saya sudah dingin. Berita berganti ke urusan investasi dan deportasi WNA di Bali. Dunia bergerak cepat melupakan duka.
Namun bagi tiga keluarga di tanah air, dunia mereka berhenti hari ini. Mereka kehilangan pahlawan, dan kita kehilangan akal sehat global.
Kapan dunia berhenti saling melukai mereka yang mencoba menyembuhkan? *yas






