--- / --- 00:00 WITA

Air dan Cinta di Banjar Kaja

Wakil Walikota Denpasar, Arya Wibawa, saat membuka secara resmi Sesetan Heritage Omed-omedan Festival (SHOF) 2026 dengan pemukulan tawa-tawa di depan Banjar Kaja Sesetan.

Lokapalanews.id | Matahari baru saja tergelincir melewati puncaknya saat aroma dupa yang pekat bercampur dengan uap aspal yang basah mulai memenuhi udara di Jalan Sesetan. Di depan Banjar Kaja, kerumunan manusia bukan sekadar angka yang tercatat di buku tamu, melainkan hamparan wajah yang penuh debar. Jumat itu, saat Nyepi baru saja usai dan keheningan mulai luruh dalam perayaan Ngembak Geni, sebuah denyut lama kembali berdegup.

I Kadek Agus Arya Wibawa berdiri di sana. Bukan sebagai pejabat yang sekadar menjalankan protokoler, melainkan sebagai saksi atas sebuah janji yang terus ditepati oleh generasi muda. Saat jemarinya menggenggam pemukul dan menghantam permukaan tawa-tawa, bunyi logam yang nyaring itu seolah membelah udara, menandakan bahwa Sesetan Heritage Omed-omedan Festival (SHOF) 2026 resmi dimulai. Ada getaran yang menjalar dari telapak tangan ke dada, sebuah pengingat bahwa tradisi bukan tentang abu yang tersisa, melainkan api yang terus dijaga agar tidak padam.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Di sudut lain, Kadek Dhivanny, sang ketua panitia, tampak sibuk dengan dahi yang sedikit berkerut. Ia melihat anak-anak muda dari STT Satya Dharma Kerti bergerak lincah, serupa semut yang sedang membangun istana. Ini adalah tahun ke-18 festival ini bernapas. Delapan belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah konsistensi. Di balik senyum para pengunjung, ada malam-malam tanpa tidur bagi Dhivanny dan kawan-kawannya, ada perdebatan tentang konsep, dan ada peluh yang menetes saat menyusun stan untuk 68 UMKM lokal yang kini riuh dengan tawar-menawar.

Tahun ini, mereka memilih “Toya Prakerti” sebagai jiwa dari festival. Sebuah tema yang lahir dari kegelisahan tentang air yang kian mahal dan alam yang kian lelah. Bagi mereka, air bukan sekadar benda cair yang membasahi raga saat ritual Omed-omedan berlangsung. Air adalah ibu, sumber kehidupan, dan cermin dari budaya yang mereka warisi. Dhivanny bicara tentang memuliakan air bukan dengan orasi yang megah, melainkan melalui detail kecil: lomba pembuatan tapel ogoh-ogoh dan sketsa yang menuntut ketelitian jemari. Ia ingin menunjukkan bahwa kreativitas adalah cara paling jujur untuk mencintai leluhur.

Di tengah hiruk-pikuk, Ni Wayan Sari Galung, Luh Putu Mamas Lestari, dan Putu Melati Purbaningrat Yo tampak mengamati dari barisan kursi undangan. Mereka melihat bagaimana tradisi Omed-omedan – yang sering disalahpahami sebagai sekadar aksi tarik-menarik dan kecup antara pemuda-pemudi – sebenarnya adalah sebuah katarsis sosial. Ada tawa yang pecah saat tubuh-tubuh muda itu saling berpelukan erat di bawah guyuran air, sebuah simbol penolak bala dan perekat kekeluargaan yang telah mengakar sejak zaman kakek-buyut mereka.

Baca juga:  Luka Keadilan di Balik Amuk Petasan

Arya Wibawa sempat tertegun sejenak saat melihat deretan produk UMKM. Ia melihat tangan-tangan perajin lokal yang kasar namun terampil, menawarkan harapan di atas meja-meja kayu. Baginya, SHOF adalah bukti otentik bahwa anak muda Denpasar tidak sedang hanyut dalam arus modernitas yang buta. Mereka berdiri di atas dua pijakan yang kokoh: inovasi yang berani dan akar yang dalam. “Ini adalah bukti cinta,” gumamnya pelan, hampir tertelan suara sorak-sorai massa. Ia menekankan bahwa gagasan baru harus terus dituangkan, agar warisan ini tidak menjadi fosil di museum, melainkan makhluk hidup yang terus tumbuh di jalanan Sesetan.

Saat ritual inti dimulai, air mulai tumpah ruah. Ia membasahi aspal, membasahi kain kamen yang terikat kencang, dan membasahi tawa yang lepas tanpa beban. Di bawah siraman air itu, status sosial melebur. Tak ada pejabat, tak ada rakyat; yang ada hanyalah manusia-manusia yang sedang merayakan kehidupan setelah kesunyian Nyepi yang panjang. Air yang jatuh dari ember-ember besar itu seolah membawa pesan “Toya Prakerti” secara nyata: bahwa tanpa air, tak akan ada peradaban, tak akan ada tawa, dan tak akan ada masa depan yang bisa dinikmati oleh mereka yang belum lahir.

Sore pun mulai merambat menuju jingga. Kerumunan perlahan mulai mengurai, menyisakan jejak kaki yang basah di sepanjang jalan. Dhivanny menarik napas panjang, menatap genangan air yang memantulkan warna langit di atas Banjar Kaja. Ia tahu, tugasnya belum selesai, karena melestarikan budaya bukanlah tentang satu hari festival, melainkan tentang apa yang tersisa di hati kawan-kawannya setelah air itu mengering.

Ketika lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, Sesetan kembali pada ritmenya yang biasa. Namun, ada sesuatu yang berbeda di udara. Ada rasa syukur yang menggantung rendah, sebuah kesadaran bahwa selama anak-anak muda masih bersedia membasahi diri dengan tradisi, maka identitas mereka tidak akan pernah kering. Di ujung jalan, suara sisa-sisa kemeriahan masih terdengar samar, meninggalkan sebuah tanya yang sunyi: sejauh mana kita bersedia berbasah-basah demi menjaga apa yang telah lama dititipkan oleh masa lalu? *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."