Lokapalanews.id | Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mempercepat transformasi ekosistem pendidikan tinggi dan riset nasional guna mengejar target daya saing global sebagai fondasi utama menuju visi Indonesia Emas 2045.
Langkah strategis ini mencakup perluasan akses pendidikan, peningkatan kualitas tenaga pendidik, hingga penguatan inovasi di perguruan tinggi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa fase 2025–2029 merupakan periode krusial untuk memperkuat pilar pembangunan bangsa.
Pemerintah mencatat tren positif dalam akses pendidikan tinggi di Indonesia. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi yang berada di angka 30,28 persen pada 2019 telah naik menjadi 32 persen pada 2024. Kemdiktisaintek mematok target ambisius agar APK menyentuh angka 38,04 persen pada tahun 2029 mendatang.
Peningkatan akses ini sejalan dengan perluasan jangkauan program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah). Dari data kementerian, jumlah penerima beasiswa ini terus merangkak naik, mulai dari 780 ribu mahasiswa pada 2022 menjadi lebih dari 1 juta penerima di tahun 2024. Pada tahun 2025, pemerintah menargetkan kuota penerima mencapai 1,04 juta mahasiswa.
Dalam dialog “Ngopi Bareng Media dan Iftar” di Jakarta, Jumat (13/3/2026), Brian menyebut perguruan tinggi bukan sekadar tempat belajar, melainkan motor penggerak inovasi. Hal ini tertuang dalam Rencana Strategis Kemdiktisaintek 2025–2029 yang memprioritaskan riset untuk menjawab tantangan pembangunan nasional.
Salah satu poin penting dalam transformasi ini adalah penghapusan sekat atau dikotomi antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pemerintah menegaskan bahwa keduanya merupakan satu kesatuan sistem pendidikan nasional yang saling melengkapi.
Bukti nyata dukungan terhadap kampus swasta terlihat dari distribusi anggaran. Sebanyak 72,2 persen penerima tunjangan sertifikasi dosen pada 2025 merupakan pengajar di PTS. Tak hanya itu, 62,2 persen judul penelitian yang didanai pemerintah tahun ini berasal dari kampus swasta dengan total nilai mencapai Rp686,9 miliar.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, menambahkan bahwa penguatan peran Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) menjadi kunci agar pembinaan kampus di daerah lebih merata. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas SDM di seluruh pelosok negeri secara simultan.
Terkait kualitas dosen, pemerintah terus mendorong peningkatan kualifikasi akademik. Saat ini, jumlah dosen berkualifikasi doktor (S3) di Indonesia mencapai 75.431 orang atau sekitar 24,89 persen. Targetnya, pada 2029, jumlah doktor ini akan ditingkatkan menjadi 32 persen atau setara dengan 96.981 orang.
Di sisi lain, gairah riset di lingkungan kampus menunjukkan lonjakan signifikan. Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, mengungkapkan terdapat 118 ribu proposal penelitian yang diajukan tahun ini. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan pengajuan pada tahun sebelumnya.
Selain riset laboratorium, pengabdian masyarakat juga menjadi fokus utama. Sebanyak 10.090 mahasiswa telah diterjunkan ke berbagai wilayah terdampak bencana. Mereka membantu penanganan mulai dari sektor sanitasi, gizi, kesehatan, hingga dukungan psikososial dan sistem informasi kebencanaan.
Strategi internasionalisasi juga mulai digenjot melalui mobilitas akademik dan kerja sama global. Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menyebut program strategis seperti ekosistem Sekolah Garuda dan Beasiswa Garuda disiapkan untuk mencetak talenta unggul yang mampu bersaing di kancah internasional.
Plt. Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menekankan bahwa seluruh transformasi kebijakan ini membutuhkan dukungan publikasi yang luas. Menurutnya, kolaborasi dengan media massa sangat vital dalam membangun ekosistem sains dan teknologi yang kuat sesuai amanat Presiden Prabowo Subianto.
Melalui integrasi antara akses pendidikan yang luas, riset yang berdampak, dan penghapusan dikotomi kampus, pemerintah optimistis perguruan tinggi Indonesia akan melahirkan inovasi nyata bagi pembangunan nasional di masa depan. *R104






