--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Mudik Jangan Mewah

Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Lokapalanews.id | Saya baru saja mendarat. Di sebuah bandara yang sedang sibuk-sibuknya. Orang sudah mulai bicara tiket. Orang sudah mulai menghitung hari. Padahal Idulfitri masih dua minggu lagi.

Di ruang tunggu, saya melihat seorang bapak. Jaketnya kusam. Tasnya penuh berisi oleh-oleh. Ia tersenyum menatap ponselnya. Mungkin sedang berkabar ke kampung. Bahwa ia akan pulang. Bahwa ia membawa rindu yang sudah setahun dipendam.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Inilah keajaiban Indonesia. Tiap tahun ada migrasi manusia raksasa. Namanya mudik. Tidak ada di belahan dunia lain yang seperti ini. Energinya luar biasa. Ekonominya luar biasa.

Maka, saya tidak heran kalau Presiden Prabowo Subianto sampai bicara khusus soal ini. Kemarin. Di Sidang Kabinet Paripurna. Di Istana Negara yang megah itu.

Pesannya pendek. Padat. Khas beliau. Jangan mewah-mewah.

Beliau minta menteri-menterinya memberi teladan. Para pejabat jangan pamer. Terutama saat open house nanti. Boleh merayakan, tapi jangan berlebihan.

Saya setuju. Sangat setuju.

Kita ini bangsa yang senang seremonial. Senang terlihat “wah”. Apalagi kalau sudah jadi pejabat. Rasanya ada yang kurang kalau tidak pamer kuasa. Padahal, rakyat sedang melihat. Rakyat sedang menilai.

Prabowo rupanya paham psikologi itu. Beliau ingin kabinetnya membumi. Beliau ingin suasana kebatinan rakyat dijaga. Jangan sampai ada rakyat yang susah makan, tapi pejabatnya pesta pora.

“Sudahlah, kita kasih contoh ke rakyat,” begitu kata Presiden.

Tapi tunggu dulu. Ada yang menarik dari ucapan beliau. Beliau tidak minta acara ditutup total. Tidak boleh mati suri.

Inilah kecerdasan seorang pemimpin yang paham ekonomi. Kalau semua dilarang, ekonomi macet. Kalau tidak ada acara, uang tidak berputar.

Anda tahu berapa uang yang beredar saat Lebaran? Ribuan triliun. Itu mesin ekonomi paling riil. Uang dari kota pindah ke desa. Uang dari kantong pegawai pindah ke pedagang pasar.

Kalau ekonomi berhenti bergerak, yang susah ya rakyat kecil juga. Tukang katering sepi. Penjual baju lesu. Sopir angkutan gigit jari.

Jadi, kuncinya adalah keseimbangan. Sederhana dalam gaya, tapi tetap belanja. Tidak perlu mewah, tapi tetap konsumsi.

Prabowo juga menyentil soal narasi negatif. Ada saja yang bilang ekonomi kita hancur. Ada yang bilang kita sedang menuju kiamat finansial.

Baca juga:  Komisi III DPR Soroti Komposisi Tujuh Calon Anggota KY

Presiden membantahnya. Beliau minta jajarannya jangan terpancing. Data menunjukkan kita masih kuat. Indikator ekonomi masih di jalur yang benar.

Memang benar. Kalau ekonomi hancur, tidak mungkin orang berebut tiket mudik. Kalau daya beli hilang, tidak mungkin mal-mal penuh sesak.

Tentu kita tidak boleh sombong. Kita masih dalam suasana prihatin di beberapa sisi. Bencana masih terjadi di sana-sini. Itu sebabnya kesederhanaan menjadi mutlak.

Saya membayangkan Idulfitri tahun ini lebih bermakna. Pejabat yang menyalami rakyat tanpa jarak. Tanpa barikade kemewahan yang menyilaukan mata.

Bagi saya, kemewahan sejati bukan pada menu makanan. Bukan pada dekorasi tenda yang mahal. Kemewahan sejati adalah rasa aman saat pulang kampung.

Presiden sudah berpesan: selamat mudik. Jaga diri masing-masing.

Pesan itu terasa personal. Seperti pesan seorang ayah kepada anaknya yang hendak merantau. Ada rasa khawatir, tapi juga ada doa.

Tugas pemerintah sekarang adalah memastikan jalanan lancar. BBM tersedia. Keamanan terjaga. Itu lebih penting daripada sekadar urusan open house.

Rakyat hanya butuh bukti. Bukan janji-janji manis di atas podium.

Kabinet harus menunjukkan kerja nyata. Menjaga kepercayaan itu mahal harganya. Sekali luntur, sulit mengembalikannya.

Idulfitri nanti adalah panggung ujian. Ujian bagi pejabat untuk tidak pamer. Ujian bagi kita semua untuk tetap rendah hati.

Biarlah uang berputar. Biarlah ekonomi bergerak. Tapi jangan biarkan moralitas kita luntur karena nafsu untuk pamer kekayaan.

Mudik adalah perjalanan spiritual. Kembali ke fitrah. Kembali ke asal-usul.

Jangan sampai kesucian itu ternoda oleh gaya hidup yang melukai hati sesama.

Saya ingin melihat menteri yang mudik pakai mobil biasa. Atau ikut antre di pelabuhan. Itu baru teladan. Itu baru keren.

Apakah bisa? Kita lihat saja nanti.

Yang jelas, Presiden sudah memberi komando. Tinggal bagaimana anak buahnya menerjemahkannya di lapangan. Jangan sampai instruksi sederhana ini jadi rumit karena birokrasi.

Selamat bersiap-siap mudik. Hati-hati di jalan. Ingat keluarga menunggu di rumah. Bukan menunggu pameran kekayaan Anda, tapi menunggu kehadiran Anda yang utuh.

Sehat selalu. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."