Lokapalanews.id | Saya baru saja duduk. Menyesap kopi hitam. Di sebuah sudut kantor yang sibuk. Tiba-tiba hidung saya bereaksi. Ada aroma yang tidak asing. Tapi sangat tidak diundang. Bau kotoran kucing. Menyengat. Menembus sela-sela pintu toilet.
Saya menoleh ke lantai. Makanan kucing berserakan. Kering. Seperti tidak tersentuh tangan manusia berhari-hari. Lalu saya melihat si kucing. Lesu. Bulunya kusam. Matanya sayu. Padahal, saya tahu siapa pemiliknya. Sangat tahu.
Baru saja pagi tadi saya melihat unggahannya. Di media sosial. Fotonya sangat estetik. Ia berdiri di tengah taman. Memegang bibit pohon. Wajahnya berseri-seri.
Keterangan fotonya luar biasa. “Mari jaga bumi kita. Cintailah lingkungan. Rawatlah mahluk hidup di sekitar kita.”
Begitu katanya. Begitu narasi yang ia bangun. Ribuan orang memberi tanda suka. Ratusan komentar memuji setinggi langit.
“Tokoh peduli lingkungan,” tulis salah satu pengikutnya.
Saya tersenyum. Tipis sekali. Antara lucu dan miris.
Saya melihat layar ponsel. Lalu melihat lantai kantor yang berantakan itu.
Dunia digital memang ajaib. Ia bisa menciptakan surga di dalam layar. Meski di dunia nyata, bau toilet sudah tak tertahankan.
Ini fenomena baru. Namanya performance environmentalism. Kepedulian yang dipentaskan.
Orang begitu rakus akan validasi. Mereka ingin dikenal sebagai pahlawan hijau. Sebagai penyayang binatang. Tapi mereka malas memegang sapu. Mereka enggan membersihkan bak pasir kucing sendiri.
Bagi mereka, kepedulian adalah konten. Jika tidak difoto, maka tidak peduli. Jika tidak diunggah, maka tidak sayang.
Saya jadi teringat obrolan dengan seorang kawan lama. Ia seorang sosiolog. “Sekarang orang lebih takut kehilangan engagement daripada kehilangan integritas,” katanya.
Saya setuju. Integritas itu berat. Ia menuntut konsistensi. Ia menuntut kerja sunyi.
Membersihkan kotoran kucing di kantor itu tidak keren. Tidak bisa dijadikan konten yang viral. Maka, kotoran itu dibiarkan saja. Biar orang lain yang mencium baunya. Biar orang lain yang pusing kepalanya.
Yang penting, di medsos, ia tetap jadi idola. Tetap jadi rujukan soal cinta lingkungan.
Kita sering terjebak pada simbol. Kita mengagumi orang dari apa yang ia pamerkan. Bukan dari apa yang ia kerjakan di belakang layar.
Padahal, kepedulian yang sejati itu dimulai dari radius satu meter. Dari meja kerja sendiri. Dari kebersihan toilet sendiri. Dari kesehatan hewan yang kita pelihara sendiri.
Jika mengurus satu kucing saja gagal, bagaimana mungkin kita percaya ia bisa menyelamatkan hutan Amazon? Jika menjaga kebersihan lantai kantor saja tak mampu, buat apa bicara soal pemanasan global?
Ini soal kejujuran pada diri sendiri. Soal sinkronisasi antara jempol dan kaki.
Antara apa yang diketik di caption dengan apa yang dilakukan saat tidak ada kamera.
Kita sering sinis pada birokrasi yang penuh pencitraan. Yang laporannya bagus, tapi kenyataannya amburadul.
Ternyata, penyakit itu sudah menular ke individu. Ke kita semua.
Media sosial telah menjadi birokrasi baru bagi ego kita. Kita sibuk menyusun laporan “kinerja moral” lewat foto dan video.
Hanya agar kita merasa sudah menjadi orang baik. Padahal hanya sedang berakting sebagai orang baik.
Saya menghela napas. Kopi saya sudah hampir habis.
Si kucing mendekat ke kaki saya. Ia mengeong pelan. Mungkin ia lapar. Mungkin ia bosan dengan janji-janji manis pemiliknya di internet.
Saya berdiri. Saya cari sapu. Saya bersihkan makanan yang berserakan itu.
Saya bukan pahlawan lingkungan. Saya hanya orang yang tidak tahan melihat lantai kotor.
Terkadang, kita memang harus berhenti menjadi aktivis di layar kaca. Dan mulai menjadi manusia di dunia nyata.
Dunia ini tidak butuh lebih banyak kampanye digital. Dunia ini butuh lebih banyak orang yang mau memungut sampah di bawah kakinya sendiri.
Tanpa perlu difoto. Tanpa perlu caption puitis.
Bisakah kita tetap peduli tanpa harus pamer? Ataukah kepedulian kita akan mati jika tombol “unggah” itu hilang?
Saya harap tidak. Saya masih ingin percaya pada ketulusan yang sunyi.
Karena bumi ini dirawat oleh tangan-tangan yang kotor karena bekerja. Bukan oleh jempol-jempol yang sibuk mengedit filter warna hijau. *yas






