Lokapalanews.id | Mataram – Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) mengintensifkan penelusuran identitas asli terduga bandar narkotika berinisial B alias Boy yang kini masuk dalam daftar pengejaran petugas. Sosok ini mencuat setelah hasil investigasi Mabes Polri mengungkap adanya aliran dana suap sebesar Rp1,8 miliar yang diberikan kepada oknum anggota Polri.
Kapolda NTB Irjen Pol Edy Murbowo menegaskan bahwa proses pendalaman terus dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan profil asli pelaku. Petugas di lapangan tengah bergerak melakukan pengejaran sembari memverifikasi keabsahan identitas yang digunakan oleh terduga bandar tersebut.
“Masih pendalaman, masih dalam pengejaran. Kita tidak boleh gegabah karena belum tahu persis apakah Boy itu nama asli atau nama samaran,” ujar Irjen Pol Edy Murbowo di Mataram, Jumat (27/2/2026).
Polda NTB juga melakukan kolaborasi intensif melalui skema joint investigation bersama Bareskrim Polri. Kerja sama lintas satuan ini dilakukan mengingat inisial nama tersebut pertama kali muncul dari hasil pengembangan yang dilakukan oleh pihak markas besar kepolisian.
Langkah sinkronisasi data antarwilayah dianggap krusial untuk menghindari kesalahan identifikasi di lapangan. Irjen Pol Edy Murbowo menyebutkan bahwa penggunaan nama alias merupakan praktik yang lazim dilakukan dalam sindikat peredaran gelap narkotika untuk mengaburkan jejak dari jangkauan hukum.
“Untuk memastikan supaya kita tidak salah tangkap, karena di dunia seperti itu (peredaran narkoba) banyak nama alias. Ini masih dalam pengejaran,” katanya menambahkan.
Kasus ini merupakan bagian dari pengungkapan aliran uang jaringan narkoba yang melibatkan oknum anggota Polri berinisial DPK. Berdasarkan data penyidikan, DPK diduga menerima suap dengan total mencapai Rp2,8 miliar dari dua bandar narkotika yang berbeda dalam kurun waktu tertentu.
Selain menerima Rp1,8 miliar dari Boy, oknum DPK juga diketahui menerima uang senilai Rp1 miliar dari bandar narkoba lainnya, yakni Koko Erwin. Aliran dana dari Boy tercatat masuk lebih dahulu sebelum adanya transaksi ilegal dengan jaringan Koko Erwin yang baru-baru ini berhasil diringkus di Jakarta.
Penyidik saat ini tengah memetakan keberadaan Boy yang diduga masih memiliki keterkaitan kuat dengan jaringan pengedar narkotika berskala besar. Pengejaran dilakukan dengan melibatkan tim siber dan intelijen untuk memantau titik-titik yang dicurigai sebagai lokasi persembunyian tersangka.
Komitmen Polda NTB dalam mengusut kasus ini juga mencakup pembersihan internal terhadap oknum yang terbukti menyalahgunakan wewenang. Transparansi dalam penelusuran aset dan aliran dana menjadi prioritas utama guna memastikan seluruh pihak yang terlibat, baik dari kalangan sipil maupun aparat, dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih berada di lapangan untuk mengumpulkan bukti-bukti tambahan. Kepolisian mengimbau masyarakat untuk memberikan informasi jika mengetahui keberadaan individu yang memiliki keterkaitan dengan jaringan narkotika tersebut guna mempercepat proses penangkapan.
Pihak Polda NTB berjanji akan segera merilis perkembangan terbaru jika terdapat titik terang mengenai identitas asli maupun lokasi persembunyian sosok Boy. Fokus utama saat ini adalah memutus mata rantai suap yang mencederai integritas institusi kepolisian sekaligus memberantas bandar yang menyokong aktivitas ilegal tersebut. *R103






