Lokapalanews.id | Saya baru saja menyeruput kopi hitam pagi ini. Pahitnya pas. Tapi rasa pahit itu mendadak kalah dengan cerita seorang kawan lama. Dia baru saja kehilangan pekerjaan. Bukan karena dia malas. Bukan karena dia tidak kompeten. Tapi karena dia “dibuang” begitu saja.
Dia bercerita sambil menahan sesak. Di kantornya, setiap Senin ada upacara. Pidato bosnya selalu luar biasa. Isinya soal perjuangan. Soal darah pahlawan. Soal pengamalan Pancasila dan JSN’45. Pokoknya, kalau Anda dengar, bulu kuduk bisa berdiri. Sangat patriotik. Sangat Indonesia.
Tapi, tunggu dulu. Itu cuma di podium. Di balik meja, ceritanya beda lagi.
Kita sering terjebak pada retorika. Kita silau dengan orang yang pandai mengutip kata-kata bijak para pendiri bangsa. Padahal, praktiknya? Jauh panggang dari api. Bahkan, maaf, terkadang kelakuan mereka lebih purba dari penjajah zaman dulu.
Coba Anda bayangkan. Si Bos bicara soal kemanusiaan yang adil dan beradab. Tapi anak buahnya dieksploitasi habis-habisan. Tenaga diperas, tapi gaji ditahan di bawah UMP. Alasannya klasik: efisiensi. Atau lebih parah lagi: demi loyalitas pada perusahaan.
Logika macam apa itu?
Setoran masuk ke kantong pribadi lancar jaya. Nilainya mungkin berkali-kali lipat dari total gaji karyawan sebulan. Si Bos bisa ganti mobil, tapi karyawan harus putar otak hanya untuk sekadar bayar kontrakan. Ini bukan lagi soal bisnis. Ini soal nurani yang sudah mati.
Lebih menyakitkan lagi soal prosedur pemecatan. Di negara hukum, ada aturan. Ada tahapannya. Ada SP1, SP2, hingga mediasi. Tapi di sana? Hukumnya adalah hukum “mood” sang penguasa. Pecat hari ini, besok jangan datang lagi. Tanpa pesangon. Tanpa terima kasih.
Pemicunya apa? Fitnah.
Ini yang paling menjijikkan. Seorang pemimpin yang katanya berjiwa pahlawan, ternyata telinganya tipis. Dia lebih percaya bisikan “orang busuk” di lingkaran dalamnya daripada fakta di lapangan. Fitnah dimakan mentah-mentah. Orang yang jujur dan bekerja keras justru ditendang karena dianggap tidak “sejalan” dengan skenario kotor mereka.
Dulu, penjajah datang dari luar. Kita tahu siapa musuhnya. Sekarang? Penjajah itu memakai batik. Pakai peci. Bicara soal kedaulatan bangsa. Tapi mereka menjajah bangsanya sendiri dengan cara yang lebih halus, namun lebih mematikan: ketidakpastian nasib.
Sistem yang gagal seringkali menjadi tameng. Manajemen yang berantakan dianggap hal biasa. Padahal, ketiadaan briefing dan dukungan kerja adalah dosa manajemen. Bukan salah staf. Tapi siapa yang mau mengaku salah? Lebih mudah membuang orang daripada membenahi sistem.
Anda mungkin pernah merasakan ini. Atau mungkin sedang melihatnya.
Seorang pahlawan sejati tidak perlu berteriak soal Pancasila di depan mikrofon jika tindakannya justru menginjak-injak keadilan sosial. Pahlawan itu menghargai keringat orang lain. Pahlawan itu memberikan hak sebelum keringatnya kering.
Memalukan. Sungguh memalukan.
Jangan bicara JSN’45 kalau hati Anda masih bermental kompeni. Jangan bicara pengabdian kalau Anda masih hobi memelihara tukang fitnah. Rakyat, atau dalam hal ini karyawan, bukan mesin yang bisa Anda buang saat bautnya sedikit melonggar karena kurang perawatan dari Anda sendiri.
Seharusnya, kepemimpinan itu soal perlindungan. Bukan soal siapa yang paling jago menendang. Kalau cara mainnya masih sewenang-wenang, lebih baik lepas saja emblem pahlawan itu. Ganti dengan lencana egois. Itu lebih jujur.
Saya melihat kawan saya itu. Dia tidak marah. Dia hanya kecewa. Kecewa karena sosok yang dia teladani ternyata hanyalah aktor panggung yang buruk.
Kita butuh lebih banyak pemimpin yang bekerja dengan rasa malu. Malu kalau karyawannya tidak bisa makan enak. Malu kalau memecat orang tanpa alasan yang jelas. Malu kalau lebih percaya fitnah daripada kinerja.
Dunia ini berputar. Hari ini Anda di atas podium, besok mungkin Anda yang berada di posisi orang yang Anda zalimi. Hukum alam tidak butuh surat keputusan untuk mengeksekusi keadilan.
Mari kita jujur pada diri sendiri. Apakah kita sudah memanusiakan manusia? Ataukah kita sedang asyik menikmati peran sebagai penjajah baru di tanah yang katanya sudah merdeka ini?
Kemerdekaan itu bukan cuma soal bebas dari Belanda atau Jepang. Kemerdekaan itu adalah saat seorang pekerja merasa aman dari fitnah dan kesewenang-wenangan bosnya sendiri.
Pahit memang. Tapi ini kenyataan. Dan kopi saya sudah dingin. *yas






