--- / --- 00:00 WITA

Memungut Serpihan Mimpi di Balik Pagar Sekolah

Seorang remaja duduk termenung menatap jendela ruang kelas yang sepi, menggambarkan refleksi emosional korban perundungan yang sedang dalam masa pemulihan motivasi belajar di bawah naungan lingkungan pendidikan yang mulai berbenah menjadi lebih ramah anak.

Lokapalanews.id | Langkah kaki itu tak lagi seringan dulu. Di sebuah sudut kamar yang remang di sudut Kota Bekasi, seorang remaja berusia 17 tahun – sebut saja ia Fajar – menatap seragam putih abu-abunya yang tergantung kaku. Bagi Fajar, seragam itu bukan lagi simbol masa depan, melainkan pengingat akan lorong-lorong sekolah yang mendadak berubah menjadi labirin kecemasan.

Dulu, sekolah adalah tempat ia menenun tawa. Namun, sebuah kemalangan yang datang dari tangan rekan sebayanya mengubah segalanya. Perundungan bukan sekadar memar di kulit; ia adalah rayap yang menggerogoti fondasi harapan. November lalu, laporan medis dan psikologis menunjukkan kenyataan pahit: motivasi belajar Fajar terjun bebas. Ia kehilangan binar di matanya, terkubur oleh bayang-bayang trauma yang dilakukan oleh seorang pelaku yang hanya terpaut satu tahun lebih tua darinya.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“Dunia rasanya menyempit. Setiap kali mendengar suara tawa di kejauhan, saya merasa itu adalah tawa yang menertawakan luka saya,” bisik Fajar dengan nada suara yang nyaris hilang ditelan udara.

Kisah Fajar adalah potret buram yang memicu kegelisahan di gedung-gedung pemerintahan. Di Jakarta, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, tidak sekadar membaca angka-angka statistik. Ia melihat wajah-wajah seperti Fajar. Baginya, setiap kasus bullying adalah alarm keras bahwa ekosistem pendidikan kita sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Menteri Arifah menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi rahim yang hangat, bukan medan tempur yang dingin. Melalui Peraturan Menteri PPPA No. 8 Tahun 2014, ia mendorong lahirnya Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA). Ini bukan sekadar jargon birokrasi, melainkan sebuah ikhtiar untuk menciptakan lingkungan yang “BARIISAN” – Bersih, Aman, Ramah, Indah, Inklusif, Sehat, Asri, dan Nyaman.

“Kementerian PPPA sangat prihatin terhadap berbagai kasus bullying yang masih marak. Korban harus mendapatkan pendampingan dan konseling. Kita tidak boleh membiarkan satu pun anak kehilangan mimpinya hanya karena lingkungan yang abai,” ujar Menteri Arifah dalam sebuah pernyataan yang penuh penekanan emosional.

Baca juga:  Mencari Langit yang Hilang di Asahan

Di Bekasi, tempat luka Fajar bermuara, upaya penyembuhan mulai disemai. UPTD PPA telah turun tangan, memeluk Fajar dengan layanan konseling untuk memulihkan kembali sisa-sisa keberaniannya. Namun, pengobatan hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah pencegahan. Sepanjang tahun 2025, sosialisasi SRA telah menjamah 50 sekolah di Bekasi. Inovasi “Terpana” (Teman Curhat Perempuan dan Anak) dilahirkan agar suara-suara lirih yang ketakutan seperti Fajar punya tempat untuk mengadu sebelum badai benar-benar menghancurkan mereka.

Membangun sekolah ramah anak ibarat merawat sebuah taman. Guru, orang tua, dan siswa adalah tukang kebunnya. Kemen PPPA tidak berjalan sendirian dalam memegang gunting rumput dan penyiram air. Sinergi lintas sektoral dilakukan bersama Kementerian Dikdasmen dan Kementerian Agama. Mereka menandatangani komitmen pada 2023 untuk memastikan bahwa tidak ada lagi ruang gelap di pojok kelas yang tidak terawasi.

Namun, di atas semua regulasi dan nota kesepahaman itu, intinya adalah empati. Guru tidak boleh lagi hanya menjadi pengajar materi, tapi juga penjaga jiwa. Sebagaimana instruksi Menteri, ke depan para pendidik akan dibekali dengan materi perlindungan anak yang lebih mendalam, agar mereka mampu mendeteksi getaran ketakutan di balik diamnya seorang siswa.

Kini, perlahan tapi pasti, Fajar mulai belajar untuk kembali percaya. Dengan dukungan dari fasilitator TPPK dan pendampingan psikologis yang intens, ia mulai menyentuh kembali buku-bukunya. Meski bayang-bayang itu belum sepenuhnya sirna, setidaknya ada tangan-tangan yang menjulur untuk membantunya berdiri.

Sekolah ramah anak bukan sekadar tentang gedung yang megah tanpa pagar berduri. Ia adalah tentang rasa aman yang bersemayam di dada setiap anak saat mereka melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah. Ini adalah janji negara untuk memastikan bahwa tidak ada lagi Fajar-Fajar lain yang harus kehilangan cahayanya di tempat mereka seharusnya bersinar.

Karena pada akhirnya, pendidikan yang utuh bukan hanya mencerdaskan otak, melainkan juga memuliakan hati. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."